Monday, February 13, 2012

Polemics of Sadahurip (compared with the lost atlantis theory)


Sebuah kewajaran yang terjadi bila terdapat sebuah peristiwa  baru, atau sebuah penemuan baru (discovery), akan berdampak pada masyarakat, setidaknya pada para ilmuwan dan pemerhati yang peduli. Demikian juga dengan yang terjadi dengan Gunung  Sadahurip, Garut, Jawa Barat, Indonesia.

Bermula dari sebuah kecurigaan dari segi bentuk gunung yang cukup simetris, hingga menyerupai bentuk sebuah pyramid, yang semakin lama semakin  mengemuka,dan menariki perhatian hingga pihak Istana Negara menerjunkan team khusus untuk melacak kebenaran berita tersebut.

Dalam beberapa diskusi yang membahaa tentang kemungkinan adanay pyramid di dalam Gunung Sadahurip itu, memang sampai sekarang belum menemukan titik temu. Dari pihak scientisc, bersikeras bahwa gunung tersebut adalah murni bentukan alam, sedangakan dari pihak lain, meyakini bahwa gunung tersebut, perlu dikaji dan diteliti lebih dalam dan seksama, karena melihat dari pengamatan baik bentuk, struktur bangunan dan keadaan sekitar, tidak menutup kemungkinan adanya pyramid di bawah gunung tersebut.

Kalau kita menengok ke belakang dan melihat beberapa rujukan sejarah bumi ini, rasanya keberadaan pyramid di gunung tersebut bukanlah hal yang mustahil. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Profesor Santos, ahli fisika nuklir, yang melakukan penelitian dengan pendekatan dari segi ilmu geologi, astronomi, archeology, lingusitik, ethnologi dan comparative mythology, rasanya kemungkinan itu bisa saja terjadi.

Posisi Indonesia terletak pada 3 lempeng tektonis yang saling menekan, yang menimbulkan sederetan gunung berapi mulai dari Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, dan terus ke Utara sampai ke Filipina yang merupakan bagian dari ‘Ring of Fire’.

Gunung utama yang disebutkan oleh Santos, yang memegang peranan penting dalam bencana ini adalah Gunung Krakatau dan ‘sebuah gunung lain’ (kemungkinan Gunung Toba). Gunung lain yang disebut-sebut (dalam kaitannya dengan kisah-kisah mytologi adalah Gunung Semeru, Gunung Agung, dan Gunung Rinjani.
Bencana alam beruntun ini menurut Santos dimulai dengan ledakan dahsyat gunung Krakatau, yang memusnahkan seluruh gunung itu sendiri, dan membentuk sebuah kaldera besar yaitu selat Sunda yang jadinya memisahkan pulau Sumatera dan Jawa.

Letusan ini menimbulkan tsunami dengan gelombang laut yang sangat tinggi, yang kemudian menutupi dataran-dataran rendah diantara Sumatera dengan Semenanjung Malaysia, diantara Jawa dan Kalimantan, dan antara Sumatera dan Kalimantan.

Abu hasil letusan gunung Krakatau yang berupa ‘fly-ash’ naik tinggi ke udara dan ditiup angin ke seluruh bagian dunia yang pada masa itu sebagian besar masih ditutup es (Zaman Es Pleistocene).
Abu ini kemudian turun dan menutupi lapisan es. Akibat adanya lapisan abu, es kemudian mencair sebagai akibat panas matahari yang diserap oleh lapisan abu tersebut.Gletser di kutub Utara dan Eropah kemudian meleleh dan mengalir ke seluruh bagian bumi yang rendah, termasuk Indonesia.

Banjir akibat tsunami dan lelehan es inilah yang menyebabkan air laut naik sekitar 130 meter diatas dataran rendah Indonesia. Dataran rendah di Indonesia tenggelam dibawah muka laut, dan yang tinggal adalah dataran tinggi dan puncak-puncak gunung berapi.

Tekanan air yang besar ini menimbulkan tarikan dan tekanan yang hebat pada lempeng-lempeng benua, yang selanjutnya menimbulkan letusan-letusan gunung berapi selanjutnya dan gempa bumi yang dahsyat. Akibatnya adalah berakhirnya Zaman Es Pleitocene secara dramatis.

Dalam bukunya Plato menyebutkan bahwa Atlantis adalah negara makmur yang bermandi matahari sepanjang waktu. Padahal zaman pada waktu itu adalah Zaman Es, dimana temperatur bumi secara menyeluruh adalah kira-kira 15 derajat Celcius lebih dingin dari sekarang.
Lokasi yang bermandi sinar matahari pada waktu itu hanyalah Indonesia yang memang terletak di katulistiwa.

Plato juga menyebutkan bahwa luas benua Atlantis yang hilang itu “….lebih besar dari Lybia (Afrika Utara) dan Asia Kecil digabung jadi satu…”. Luas ini persis sama dengan luas kawasan Indonesia ditambah dengan luas Laut China Selatan.

So, kemungkinannya adalah, bahwa Pulau Jawa yang ada di Indonesia pada jaman dahulu kala, adalah menyatu dengan daratan daratan yang ada sekarang ini di belahan dunia, seperti benua afrika dan amerika selatan, tempat suku maya bermukim. Dan ada kemungkinan bahwa di Indonesia ada juga peninggalan atau artefak yang mirip sekali dengan yang ditemukan di benua benua lain. Hal ini mengingat bahwa Indonesia adalah pusat dari kebudayaan dunia, menurut Profesor Santos.

Jadi, kenapa tidak penelitian ini dilanjutkan????

No comments:

Post a Comment