Monday, April 23, 2012

CANDI SOJIWAN, CANDINYA POLOS.......


Padatnya kerjaan, dimana satu dan yang lain atak bisa kompak, saling menyalahkan dan cuci tangan, membuat kepala pening, dimana beberapa kerjaan, harus ditangani langsung, demi nama baik dan kepuasan pelanggan.

Dari pagi hingga siang, harus bolak balik ke kawasan Prambanan. Matahari telah tergelincir, barulah selesai kerjaan yang “seharusnya” dikerjakan oleh orang lain. Sejenak istirahat, minum air dingin, dan sebatang rokok, duduk di sebuah balai balai dari bamboo, menatap jalanan di seberang dan hamparan tanah sawah yang luas, dengan batas sebuah bukit kecil memanjang.
Tak sengaja terlihat sebuah kalender besar terpampang di sudut ruang.  Lengkap dengan hari pasaran jawa dan perhitungan perhitungan dalam bulan jawa lengkap.
“Hmmmm…..Prambanan……” bisiku lirih.

Usai ku teguk minumanku dan sebatang rokok telah habis, serta merta ku pacu “freeman” ku, ke arah utara, menuju sebuah pasar yang cukup besar di lingkungan itu. Pasar Prambanan. Riuh rendah dan padatnya pasar itu, semakin menambah keyakinanku bahwa hari pasaran yang tertera di kalender tadi adalah benar.
Langsung ku masuk ke pasar, dan tempat tujuanku adalah, sayuran.  

“Jagung manis pinten Bu?” tanyaku pada ibu ibu penjual sayuran.
“5.000 rupiah kemawon monggo……” jawabnya.
“Wah, awis…… 3.000 njih, kulo mundut 5.” Penawaran pertama.
“Dereng pikantuk Mas….. 4.000 njih…..” kata ibu penjual.
“Njih Bu…… mundut 4 njih……” jawabku sambil menahan panas matahari.
“Tindak pundi to Mas….”Tanya ibu penjual saat mengulurkan jagung manis.
“Dolan Bu, mlampah-mlampah….” Jawbaku.
“Lha mbok wonten Candi Sojiwan mawon, sampun dados lho….” Katanya member  ide.
“Candi  Sojiwan? Wonten menopo?” tanyaku heran, karena aku belum pernah mendengar ada candi disekitar Prambanan yang bernama Cando Sojiwan.
“Wonten Mas…..namung alit. Mergine saking pasar meniko, tindak ngetan, lajeng pertigaan stasiun pramabanan, penjenengan tindak ngidul, terus mangkeh tindak ngulon. Sae candine, resik.” Katanya lagi.
“Njih Bu, cobi mangkeh njih……” jawabku sambil ku nyalakan motorku.

Tanpa pikir panjang, ku ikuti petunjuk ibu penjual sayur tadi, dan sejenak kemudian telah tiba di tempat yang ditunjukkan, Candi Sojiwan.

Candi ini terletak di wilayah Kebondalem, Prambanan, Klaten. Lokasi  candi berada di sebelah selatan sebuah kampong, dan bila dilihat dari sebelah utara, Nampak sebuah candi kecil, dengan hamparan sawah di belakangnya, dan sebuah pegunungan kecil berderet di ujung sana.

Dari beberapa catatan yang terpampang di pintu masuk, di dapat keterangan bahwa candi ini dibangun hampiur bersamaan dengan candi candi yang ada di sekitarnya seperti Candi Kalasan (Candi Tara), Candi Sambisari, Candi Plaosan dll. Candi ini dibangun pada jaman pemerintahan Sriwijaya, yang dibangun oleh Wangsa Syailendra, untuk menghormati neneknya.

Juga tentang relief relief yang ada, menggambarkan tentanng kisah binatang, yang semuanya memberikan pesan moral untuk kebaikan umat manusia, seperti tolong menolong, saling menghormati, dan saling asih dan asuh.

Tentang lokasi Candi yang dikitari dengan paritpun, semuanya lengkap terpampang di papan itu. Namun saat kita dekati, Nampak candi itu hanya menerupai  sebuah tumpukan tumbukan batu dengan bentuk tertentu, sehingga mengerucut bagian atasnya. Karena di hampur semua sisi candi tersebiut, tak satupun relief yan g ada. Semuanya batu polos.
Bahkah di dalam candinyapun, tak ada patung sama sekali.

Namun tempatnya yang di tengah perswahan, dekat dengan dusun, dan pegunungan kecil berderet disebelah selatan dari candi ini, cukup menarik untuk sekedar melepas lelah dan menikmati alam di senja hari. Coba saja.







Photo 15 Agustus 2018

















Tuesday, April 17, 2012

DURMAGATI, "MELEKA SEMUA SAUDALA SAYA ..."

Tuturnya begitu cepat bagai air bah meluap luap, namun tanpa intonasi yang jelas. Cara bicaranya hampir seperti diseret seret dengan suara yang agaka parau dan sengau. Dari sekian banyak saudaranya, dialah satu satunya orang yang mempunyai cirri khas seperti itu. Gaya bicaranya sangat cepat, terlalu cepat bahkan, hal ini mungkin karena apa yang disampaikannya berusaha mengimbangi  dengan apa yang ada di pikirannya.

Laki laki ini memang terkenal banyak cerita, walau kadang ceritanya itu terlalu melebih-lebihkan kemampuan dirinya, yang pada akhirnya menjadi kebohongan kebohongan semata. Namun hal seperti itu sudah menjadi permakluman bagi yang mendengarkan cerita ceritanya, walau tak semuanya dapat menerima kelakuannya.
Namun dibalik kelakuannya itu, dari sikap dan cara perlakuan terhadap orang lain, laki laki ini cenderung lebih polos dan lugu, tanpa prasangka dan menyadari bahawa lingkungan sekitarnya adalah merupakan saudara, yang harus saling bertegur sapa dan berbagi cerita.

Seperti suatu pagi, saat waktu telah selesai makan pagi, berkumpul lima orang ksatria mengelilingi meja makan, disebuah ruangan yang memang disediakan untuk mereka. Ruang makan yang menghadap pad ataman yang asri, dengan pemandangan pegunungan yang hijau nun jauh disana, dengan sinar matahari yang telah mulai hangat merangkah naik, merambat menerangi setiap lekuk  sudut ruangan.

Laki laki itu datang dengan tanpa basa basi dan kemudian duduk bergabung dengan kelima ksatria itu. Cara berjalannya dengan seenaknya, terlihat tanpa jarak antara dia dengan kelima ksatria tersebut. 

“Kkkaaakkkangggg…..pa`da ngapain…..” bicaranya cedal, dan tak begitu jelas, saat dia duduk di salah satu kursi yang masih kosong. Seketika dengan duduknya laki laki itu, seorang ksatria yang bertubuh tinggi besar, berdiri dan meninggalkan ruangan itu.
“Lhhooo….lho…. Kkkaakkang….ma`u  kema`na….?” tanyanya.
Yang ditanyapun tak menjawab sama sekali, hanya diam dan meninggalkan tempat itu, sedangkan keempat ksatria lainnya masih duduk di kursi seperti semula.
“Kok pa`da diemmmmm…….?” Dia bertanya lagi sambil pandangan matanya menebar ke arah empat ksatria yang masih diam.
“Ba`iklah…… dengelin ya Kaa`kang, a`ku pu`nya celita……” katanya penuh semangat dan berapi api.

Dan seperti yang telah diduga sebelumnya, laki laki itu bercerita tentang kesaktiannya, bertarung mewlawan beberapa orang dan semua musuh dapat dikalahkannya dengan mudah. Tentu saja dengan kesaktiannya. Cerita panjang yang diutarakan dengan bahsa yang cedal dan tak begitu jelas, membuat empat ksatria itu lelah mendengarkannya.

Karena tak tahan denganceritanya, satu lagi ksatria tampan itu berdiri, dan lalu meninggalkan ruangan tersebut. Kini tinggal laki laki itu, dan masih ada tiga ksatria lagi yang masih duduk mendengarkan cerita yang masih juga belum usai.

“Weee…..ka`kang Pelmadi dan Blatasena a`pa ga lugi ga denge`lin celitaku?” berhenti bertanya seperti itu, kemudian dia ambil meinuman dalam gelas milik salah seorang ksatria, dan langsung menenggaknya hingga habis. Ketiga ksatria itu hanya saling pandang melihat tingkah laki laki seusia mereka itu. Seperti itulah kelakukan laki laki itu, yang tanpa basa basi, terbuka dan polos, tanpa malu malu dan rasa sungkan.

Hampir  tengah hari, laki laki itu masih juga bercerita, bahkan dengan gerakan gerakan tertentu untuk meperagakannya, bahkan dengan teriak teriak dan memukul mukul meka makan, dan kadang pula kemudian tertawa terbahak bahak. Sedangkan tiga ksatria itu masih tetap diam mendengarkan ceritanya, sambil sesekali sandaran di kursi, namun mereka sama sekali tak meninggalkan laki laki itu.

Belum juga selesai ceritanya, mendadak di ujung pintu, terlihat seorang tua dengan tubuh jangkung, hidung mancung, kumis tipis dan sedikit agak bungkuk, melambaikan tangannya memanggil laki laki itu. Dengan melambaikan tangannya. Beberapa kali dilakukannya namun laki laki itu masih juga bersemangan itu meneruskan ceritanya.

Setelah kesekian kali orang tua jangkung itu melambaikan tangannya, rupanya laki laki itu merasa risih juga, maka dengan setengah berteriak, dia bertanya ;
“A`da apa Pa`man Se`ngku`ni…….?” Serunya. Ketiga ksatria itupun ikut menoleh ke arah orang tua tersebut.  Yang ditanya tetap melambaikan tangannya, menyuruhnya datang.
“Oohhh….paman edan……”  kata laki laki itu sambil berlari menghampiri.
“Kamu ngapain disana Durmagati? Jangan dekat dekat dengan mereka !” Sengkuni menghardik laki laki yang dipanggilnya dengan nama Durmagati itu.
“Me`leka semua kan sa`udala saya Paman……” jawab Durmagati. “Me`leka juga olang baik baik se`mua kok……” lanjut Durmagati.
“Dikasih tahu orang tua kok bandel. Sana pulang! Kembali ke tempatmu!” perintah Sengkuni.

Durmagati lalu ngeloyor pergi sambil mengomel ngomel sepuas puasnya. Dia tak habis pikir, apanya yang salah dengan berkumpul dan bercengkerama dengan saudara, walaupun berbeda orang tua.
Setelah Durmagati dan Sengkuni pergi, tinggal tiga orang ksatria itu yang masih duduk dan saling berpandangan satu sama lain.

Salah seorang ksatria, yang nampak sedikit lebih matang dibanding kedua ksatrria lainnya, berkata ;
“Kasihan Durmagati………” katanya lirih.
“Kenapa kasihan dengan dia Kakang Samiaji?” kedua ksatria itu bertanya hampir bersamaan. Samijai menghela nafas panjang.
“Adik adiku Nakula dan Sadewa……, dengan segaal keterbatasan bicaranya, dia selalu bersemangat, sayang tak ada satupun yang mau mendegarnya, bahkan saudara saudara dia sendiri, orang orang Kurawa.”
“Bukankah yang dikatakan itu bohong semua?” kata Nakula.
“Ya, semua orang tahu, Durmagati hanya pandai membual…” Sadewa  menimpali.
“Adik adikku..”kata Samiaji dengan tatapan mata tajam ke arah Nakula dan Sadewa, “jika kita mau mendengar, bahkan dari seorang pembohongpun, kita bisa belajar sesuatu. Ada sesuatu yang dapat kita ambil dari cerita ceriat dan apa yang dikatakannya…….” Samiaji berdiri dan melangkah masuk ke dalam isatan. 

Kata kata biijak yang pernah dinasehatkan kepadanya ketika kecil, oleh ayahnya, Pandu Dewanata.

Saturday, April 14, 2012

"ISTRI SIMPANAN" DI SEKOLAH DASAR

Pendidikan merupakan sesuatu yang sangat vital dan fundamental, dimana seseorang bias menjadi “sesuatu” karena adanya pendidikan yang pernah di terima, baik secara  formal maupun non formal. Dengan pendidikan pula, yang gelap akan menjadi terang ( Kartini), dengan pendidikan pula akan terjadi emansipasi (Sartika), dengan pendidikan pula akan membentuk seseorang menjadi lebih utama /berkualitas ( Ki Hajar Dewantara), dan dengan pendidikan pula dunia akan mudah di rengkuh (Ghandi), dan dengan pendidikan pula kita akan tahu siapa sebenarnya kita, dan sejarah dari kita (Bung Karno).

Pendidikan, walau bisa  didapatkan secara formal (sekolah) dan non formal (lingkungan, pergaulan), namun yang lebih mendapatkan “pengakuan” maupun legalitas dan standar baku adalah pendidikan formal. Nah, standar baku inilah yang kemudian terrumuskan menjadi sebuah kurikulum, dimana setiap lembaga pendidikan formal di negeri ini, akan memberikan materi pendidikan yang seragam, di seluruh pelosok negeri, dengan harapan akan tercapai sebuah standar pendidikan nasional, baik tentang materi maupun hasil hasil yang diperoleh, dengan adanya ujian ujian nasional.

Dengan adanya setandarisasi inilah, maka pihak berwenang, membentuk sebuah team perumus  untuk mencetak materi materi pendidikan yang diwujudkan dalam buku buku ajar yang nantinya setiap murid sekolah, WAJIB untuk memilikinya. Dengan cara bagaiamana? Tentu saja dengan MEMBELI.

Yah! Membeli. Bagaimanapun, EVERYBODY IS A MARKET, EVEN THE STUDENT. Dan setiap mata pelajaran, aka nada minimal satu buku wajib. Sedangkan ada berapa jumlah mata pelajaran yang harus dikuasai oleh setiap murid, dan harus memiliki bukunya? Bayangkan!!!!

Bila sesuatu telah dikait kaitkan dengan “pasar”, dalam hal ini adalah “uang” maka standar mutu yang adapun, tidak musathil akan kedodoran, karena yang dipeerhitungkan adalah kuantitas, bukan kualitas. Lihatlah anak anak kita, berapa banyak dia harus memiliki buku untuk setiap mata pelajaran, dan berapa banyak uang yang harus kita keluarkan untuk mendapatkannya? Dan hal itu yterjadi setiap tahun, dimana hampir setiap tahun pula buku buku baru akan muncul dan wajib dimiliki para murid.

Dari segi mutu, nampaknya para orang tua juga harus mulai berpikir keras. Lihatlah kasus “bang maman” di buku wajib untuk murid kelas 2 sekolah dasar. Hampir semua orang tentu setuju bahwa apa yang disampaikan dalam “bang maman” tersebut tidaknlah etis, atau setidaknya belum etis untuk anak murid kelas 2 sekolah dasar. Namun mengapa hal seperti ini bisa terjadi? Apakah memang telah tak ada satu filter pun “perangkat organik” yang mampu/mau menyelamatkan generasi penerus bangsa ini? Sudah habiskah bahan bahan yang layak disampaikan kepada anak anak kita, generasi bangsa ini?

Lihatlah!!! Berapa banyak anak anak kita yang tak mengenal sejarah negara kita dengan baik? Seperti yang didengung-dengungkan Bung Karno dalam pidato “Jas Merah”nya? Sejarah yang telah membentuk negeri kita yang besar dan kaya raya ini, dimana sekarang hampir seluruh Negara berlomba untuk menguasai negara kita Indonesia Raya? Dan itu telah terjadi. Hasil tambang dari perut bumi, telah dikuasai oleh negara asing. Telekomunikasi, apalagi! Sumber pangan, dan kebutuhan pokok, impor besar besaran setiap tahun terjadi. So, dimanakah kita berpijak sekarang?

Apakah kita benar benar merdeka??? TIDAK!!!!

Tuesday, April 3, 2012

BUHAIRAH, SELESAILAH SUDAH!!!


Matanya terbelalak, mulutnya menganga, namun tak sepatah katapun keluar dengan jelas dan bermakna. Beberapa lama tak percaya akan apa yang dilihatnya, yang terttulis dalam sebuah kitab yang selalu terbuka di meja kerjanya.

Sebuah ruangan tak terlalu besar, dengan dinding terbuat dari batu batu yang tertata rapi, dengan beberapa lilin besar di sudut sudut ruang, dan sebuah lampu minyak yang cukup besar berada di meja, tepat di sebelah kitab yang selalu dibacanya.

Beberapa tahun telah dia alami sebuah peristiwa yang mengguncangakn iman dan keyakinannya. Ilmu pengetahuan yang dikuasainya, tak mampu membendung keraguannya. Saat hatinya menemukan keyakinan, saat itu pula akal dan logikanya menolak. Dan seperti itu berulang ulang, hingga tak satupun titik yang dapat diraih. Bermula dari seorang pemuda yang datang dan mengombang ambingkan keyakinan yang telah selama ini dia pegang, hingga dia merasa bahwa dia hampir menjadi gila, karena telah sekian lama tak mampu pula menemukan pegangan keyakinan seperti semula. Sampai sebuah kalimat tertera di halaman kitabnya, tentang kedatangan seseorang.

“Jika ini adalah benar, selamatlah aku….selamatlah aku…….” Katanya berulang ulang meyakinkan dirinya, sambil berjalan kesana kemari.

Bertahun tahun kemudian, setelah dia berusaha mendalami apa yang telah diabacanya, dia berusaha mencari tahu dengan cara meditasi, dan mendekatkan dirinya kepada  Tuhannya. Hingga suatu saat, terdengar suara dari dalam dirinya yang berkata “Selesailah sudah!”
Sontak terbangun dari meditasinya, dan berusaha kembali menata hati dan pikirannya. Namun begitu semua terpusat dalam sebuah titik untuk mendapatkan  jawaban itu, suara itu kembali bergema dalam sanubarinya, “Selesailah sudah!”

Buhairah, sebagai seorang pendeta, guru dan cendekia, dia sangat dihormati oleh murid muridnya yang tinggal di dalam gedung yang sama. Maka, begitu bangun di pagi hari, dia memerintahkan murid muridnya untuk berbelanja ke pasar, karena malam nanti akan mengadakan jamuan makan. Setelah semua siap, dan malam menjelang, dia keluar untuk berjalan jalan menuju pasar.

Dalam perjalanan itu, dia bertemu dengaon rombongan pedagang dari negeri seberang. Nampak seorang yang tinggi besar, duduk di atas kuda paling depan.  Rupanya inilah pemimpin rombongan. Lalu disapanya pemimpin rombongan itu.

“Dari mana suku kalian?” Tanya Buhairah ramah.
“Kami dari Suku Quraisy” jawab pemimpin itu tak kalah ramahnya.
“Datanglah ke rumahku, telah ku siapkan hidangan jamuan makan untuk kalian. Ajak serta seluruh anggota rombonganmu, baik dewasa maupun anak anak…” kata Buhairah.
“Demi Latta, ada apa dengan anda? Anda tak mengenal kami, demikian pula kami. Kami belum pernah bertemu dengan anda sebelumnya…” kata pemimpin itu dengan heran.
“Benar, tapi anda dan seluruh rombongan, akan menjadi tamu istimewa bagiku mala mini, datanglah ke rumahku…” Buhairah agak memaksa.

Pemimpin itu, yang bernama Abu Thalib, tak dapat menolak. Maka setelah malam tiba, datanglah dia bersama dengan seluruh rombongan ke rumah pendeta cendekia itu untuk makan malam, bersama sama dengan murid murid sang pendeta. Alangkah indahnya bias duduk bersama dalam satu meja.
Buhairah sangat ramah, dan bercerita tentang banyak hal, sambil mengamati satu satu dari tamunya, untuk sekedar melihat dan meyakinkan apakah benar ramalan yang tertera di kitabnya itu. Namun telah sekian lama, dari satu persatu tamu yang di amatinya, tak satupun yang menunjukkan cirri seperti yang diceritakan dalam kitab ramalan yang di tekuni.

“Apakah semua anggota rombongan telah hadir disini?” Tanya Buhairah kemudian.
“Demi Latta, ada satu orang yang kami tinggalkan, untuk menjaga barang barang kami. Dia masih anak anak…” jawab salah seorang rombongan.
“Dimana dia sekarang, biarlah aku jemput sendiri,” kata Buhairah dengan tergesa gesa sambil bangkit dari duduknya.

Abu Thalib menunjukkannya, dan seketika itu pula, Buhairah pergi meninggalkan jamuan makan, dan menyilakan tamu tamunya untuk meneruskannya, dengan ditemani oleh murid muridnya.
Tak lama berjalan menuju tempat rombongan itu beristirahat, Buhairah menemukan seorang bocah tengah duduk dibawah pohon besar menjaga barang barang dari rombongan. Diamatinya anak itu dengan seksama, dan seketika tentramlah hatinya, karena cirri cirri yang dia cari, terdapat pada anak itu.
 Dengan lemah lembut, dia berbisik lirih kepada dirinya sendiri, “semula aku tak yakin sampai aku sendiri menemuimu sendiri….”
Anak itu diam dengan tenang.

“Demi Latta dan Uzza, jawablah pertanyaanku…” katanya dengan tergesa gesa.
“Jangan menyumpah dengan nama Latta dan Uzza, mereka adalah bencana yang menodai bibirmu…” kata anak itu.
“Kalau begitu, demi Tuhan, maukah kau jawab pertanyaanku?” tanyanya kemudian.
“Bertanyalah sesukamu…”jawab anak itu tenang.

Buahirah menanyakan tentang nama dan keluarganya, namun dipotong olah anak ini.
“Bukan ini pertanyaan yang sebenarnya ingin anda ajukan…” kata anak itu pendek.
“Kalau begitu, tunjukkanlah punggungmu sebentar saja!” Buhairah semakin penasaran.

Anak itu membalikkan tubuhnya, membuka bajunya, dan seketika itu juga Buhairah melihat tanda kenabian di antara kedua bahu anak itu, persisi seperti yang tertulis dalam kitab ramalan Buhairah. Mengetahui hal itu, semakin terperangahlah Buhairah. Tubuhnya kaku, lidahnya kelu, tak satupun suara dapat keluar dari mulutnya.  Pandangan matanya gelap dan air mata bercucuran, sebuah tangis meledak dari mukanya, antara rasa syukur dan  bahagia. Di antara kedua bahu anak itu tertlusi “TIADA TUHAN SELAIN ALLAH”.

Kemudian anak itu berbalik lagi, dan di dada anak itu, Buhairah melhat sebuah “nama yang tak terkatakan” berwarna merah tua. Ketika nama itu dibukakan padanya, seolah dunia tak sanggup menanggung beratnya, dan bintang bintang berpencaran tak tentu arah. Bumi dan langit ikut menjadi saksinya.

“Tuanku,” berkata Buhairah,” telah kunanti bertahun tahun sebelumnya, hati telah menjadi abu, sampai akhirnya aku menemukanmu, yang mampu menjawab pertanyaanku….”
“Ajukan pertanyaanmu…” kata anak itu.

“Yang Mulia, aku tak mampu  memahami keesaan Tuhan. Telah kusaksikan kebaikan dan kejahatan di muka bumi ini, dan percaya bahwa Dia bukanlah sumber kejahatan. Namun bila Dia tak berkuasa atas kejahatan, maka Dia tak pantas disebut Tuhan, padahal kutahu pula bahwa Dia Maha Kuasa. Jika dunia ini jahat adanya, tidakkah berarti Tuhan juga demikian? Jika dunia ini bukan ciptanNya, lalu dimanakah letak kekuatanNya?” Tanya Buhairah bagai air bah.

“Ketahuilah bahwa keesaan Tuhan itu tersembunyi dari menara logikamu. Singkirkan keragunamu. Pengetahuan tentang keesaan Tuhan sungguh berbahaya, dan yang mencari mudah sesat. Engkau tak mungkin sanggup menangghung beratnya pengetahuan yang kau inginkan. Tak cukupkah bagimu dengan nikmat keimanan dan kepercayaanmu pada Allah? Hanya dengan itupun, Dia akan selalu  mencukupimu.”
“Engkau tak mungkin bisa meraba ujungnya, yang merupakan tujuan akhir dari semua ini. Mestikah orang yang rabun menilai bagaimana rupa puncak gunung? Cobalah untuk menahan diri dari logika dan penilain pribadi dalam hal ini.”

Maha Benar Allah Atas Segala FirmanNya.