Sanggar Tari Trisna
Budaya Adi,
Pendidikan Non Formal
Berbasisi Budaya Yang Mumpuni
Pasal
33 ayat 1 UUD 1945 yaitu “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.”
Diteruskan pada pasal 2 yaitu “Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan
dasar dan pemerintah wajib membiayainya.” Itulah begitu pentingnya arti
pendidikan bagi pemajuan sebuah negara sehingga negara menetapkan bahwa pendidikan
adalah suatu kewajiban negara, dan hak
bagi warga negara
Dengan
terbitnya Perda DIY Nomor 5 Tahun 2011 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan
Pendidikan Berbasis Budaya, menjadikan dunia pendidikan khususnya wilayah DIY semakin
berkarakter. Sesuai dengan visi dari Pemerintah DIY bahwa tahun 2025, DIY sebagai pusat pendidikan, budaya, dan tujuan
pariwisata terkemuka di Asia Tenggara. Maka,
pendidkan berbasis kebudayaan menjadi ciri khas dunia pendidikan di semua
jalur.
Terdapat
3 jalur pendidikan yaitu pendidikan formal, informal dan non formal. Sistem pendidikan formal yaitu jalur
pendidikan organik pemerintah yang terstruktur dan berjenjang dari tingkat
sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menenga atas.
Pendidikan
informal yaitu merupakan sistem
pendidikan diluar dari sistem formal, yang dilakukan secara mandiri, dan
berujuan untuk membantu siswa mencapai tujuan belajarnya. Jalur pendidikan seperti ini biasanya lebih
bersifat komunal atau berada di lingkungan sekitar seperti TPA (Taman Pendidikan Al Quran, sekolah
minggu di gereja, dan jenis ketrampilan lainnya.
Pendidikan
non formal adalah jenis pendidikan di luar sisitem formal, dengan aktivitas
yang lebih terorganisir, mandiri, dan sebagai bagian dari kegiatan yang lebih
luas dari sistem formal. Biasanya
pendidikan jenis ini untuk menampung atau melayani peserta didik yang mempunyai
minat khusus yang tidak mereka dapatkan secara maksimal di pendidikan
formal. Pendidikan non formal yang cukup
populer adalah jenis lembaga pelatihan, tempat kursus dan sanggar.
Dengan
adanya pedidikan berbasis kebudayaan, menjadikan dunia pendidikan non formal
semakin beragam. Minat dan bakat peserta didik yang semakin berkembang, kadang tak
dapat dipenuhi oleh jalur pendidikan formal. Seperti yang terjadi di Sanggar
Tari Trisna Budaya Adi, yang beralamat di Dusun Kronggahan 2, Kelurahan
Trihanggo, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.
Pak
Baryudi, sebagai pemilik dan pendiri sanggar ini merintisnya sejak tahun 1976,
setelah lulus dari bangku kuliah di ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia). Latar
belakang berdirinya sanggar ini adalah nguri
ngruri kabudayan jawi, serta karena jiwa seni yang sangat kental pada
dirinya, dan ditopang olah bakat, minat serta pendidikan yang bekualitas serta
dapat diperyanggung jawabkan secara akademis.
Bagaimana
tidak? Baryudi mulai mencintai dan menggeluti seni tari sejak kelas 3 SD. Di
kampungnya itu setiap hari Kamis, datang seorang guru tari bernama Pak Wagiyo
dari Medari. Beliau mengajar anak anak sekampung dengan Baryudi. Karena bakat
dan kemampuannya yang sangat menonjol, ia sering sekali menjadi contoh dan
berdiri paling depan, sehingga kadangkala, Baryudilah yang seolah menjadi guru
bagi teman temannya. Hal seperti itu tidak hanya terjadi di kampungnya, hingga
ke SD tempat Baryudi bersekolah. Saat pelajaran selain tari, ia adalah murid,
dan saat pelajaran tari, ia adalah murid sekaligus guru.
“Yo
murid yo guru... hahaha...”tawanya renyah mengenang masa kecilnya.
Setelah
masuk SMP dan melanjutkan ke SPG Bopkri. Rupanya kepiwaiannya dalam seni tari
semakin menjadi. Ia selalu menjadi guru bagi teman temannya. Kemampuannya yang
diatas rata rata itulah yang kemudian menyentuh hati gurunya untuk mengirimnya
kepada Bagong Kussudiardjo, koreografer serta pelukis ternama yang digelari
Begawan Seni. Bagong Kussudiardjo juga pencetus aliran “Bagongisme” karena
tarian tarian ciptaannya merujuk pada karakter khas Bagong dalam tokoh
pewayangan. Dalam waktu hanya 3 bulan, Baryudi diangkat menjadi asistennya.
“Tari,
bisa dikatakan sebagai cabang dari kebudayaan yang sangat fleksibel. Menurut
saya, seni tari adalah gerak badan (olah raga) yang indah.” Tuturnya.
Sejalan dengan pengertian seni tari yaitu gerak badan yang dilakukan secara berirama
ditempat dan waktu tertentu untuk kepentingan pergaulan, mengungkap perasaan,
maksud, serta pikiran. Adapun musik pengiring tari berfungsi mengatur
gerakan penari, menguatkan serta
menegaskan maksud yang ingin di
sampaikan.
Sanggar
ini mendapatkan SK dari Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata No. 083 setahun setelah berdirnya. Menerapkan
kurikulum berjenjang layaknya pendidikan
formal sehingga serasi, setara dan sejalan dengan pendidikan peserta didik di
sekolah fomral.
Dengan
biaya pendaftaran dan biaya bulanan yang sangat terjangkau, Baryudi tetap
berusaha menjaga kelestarian dan kualitas, baik tempat atau studio, bahkan
hingga fasilitas serta peralatan pendukung seperti kostum, alat musik,
peralatan praktek dan sebagainya. Adapun pelaksanaan dari kegiatan belajar
mengajar, dilakukan sore hari selepas waktu sekolah formal, agar setiap siswa
dapat belajar maksimal di sekolah, dan mengembangkan minat dan bakatnya selepas
pulang sekolah dengan maksimal. Bahkan
tak jarang yang menginginkan belajar tari pada hari Minggu, terutama para
mahasiswa.
Dari
semua peserta didik tingkat SD, SMP, SMA, dan paling banyak adalah tingkat
Mahasiswa. Murid setingkat mahasiswa selalu yang terbanyak, karena selepas dari
sanggar ini, tiap peserta mendapatkan sertifikat yang dapat dipergunakan untuk
mencari pekerjaan.
Hal
ini tak lepas dari pola didik serta materi ujian kelulusan yang sangat ketat.
Ujian melalui 3 kali ujian yaitu Ujian Pertama meliputi ujian 3 jenis tarian
plus ujian tata rias. Ujian Kedua meliputi ujian 3 jenis tarian plus ujian tata
busana, serta Ujian Ketiga meliputi ujian 3 jenis tarian plus cipta tari. Dewan
penguji, terdiri dari 3 orang seniman seniwati yang teruji dan mempunyai jam
terbang tinggi. Adapun jenis tariannya meliputi tari klasik dan tari modern
atau kreasi baru.
Dalam
setiap tarian, terkandung cerita yang sarat makna dan petuah bagi manusia seperti
Tari Bondan yang sangat populer. Tari ini merupakan tarian “wajib” di Sanggar
Trisna Budaya Adi, yang sangat digemari oleh hampir semua peserta didik. Dengan
perlengkapan tari berupa boneka bayi, payung dan kendi dari tanah liat.
Tari
Bondan ini menceritakan sebuah kejadian di pedesaan, yaitu Sang Ayah sedang
bekerja di sawah, Sang Ibu sedang sibuk memasak di dapur, dan Sang Anak Gadis
harus membantu ibunya mengasuh adiknya yang masih bayi. Beberapa makna yang
terkandung adalah seorang anak wajib membantu orang tuanya, dan megasuh adiknya.
Jika si penari dimaknai sebagai ibu, maka tarian tersebut menggambarkan kasih
sayang seorang ibu kepada anaknya. Jika si penari dimaknai sebagai gadis yang
belum menikah, maka tarian itu menggambarkan pembelajaran untuk mengasuh anak
kelak.
Gerakan
memandikan dan menidurkan bayi, melambangkan kasih sayang yang melimpah
ditujukan untuk sang anak dari ibunya.
Payung
bermakna bahwa Sang Pengasuh bayi, wajib memberikan perlindungan, kasih sayang
yang menyejukkan, sehingga si bayi terhindar dari terik, dan terpenuhi segala
kasih sayangnya. Kendi tanah liat. Bagi masyarakat pedesaan, kendi adalah
tempat air minum. Kendi ini selalu dibawa kemanapun, sebagai perlambang air
suci yang menyejukkan jiwa dan raga,
serta sebagai sumber kehidpuan selalu harus dipegang, dijaga utuh demi
kelangsungan hidup keluarga.
Paling
unik dan merupakan ciri khas dari Tari Bondan adalah si penari akan mancik kendi atau berdiri di atas kendi sambil menari. Ini
perlu teknik dan latihan khusus dan berulang ulang supaya kendi tidak pecah. Keseimbangan tubuh
penari sangat mutlak diperlukan. Upaya keseimbangan inilah yang menggambarkan
bahwa dalam kehidupan manusia harus seimbang, sabar, tekun, khusuk, fokus dan
pantang menyerah. Mampu naik lebih tinggi tanpa menghancurkan atau merugikan
yang dibawah.
Di
akhir tarian, si penari memecahkan kendi yang mempunyai makna bahwa semua
masalah pasti dapat dipecahkan atau ada jalan keluarnya.
Dari
seluruh adegan Tari Bondan ini, maknanya adalah mengajarkan kepada anak anak
untuk mengerti dan memahami pekerjaan perempuan, dimana gerak gerik dalam
tarian ini adalah gambaran dari kegiatan keseharian seorang ibu seperti
menggendong bayi, memandikan, meninabobokan, menyuapi makanan, dan mengajaknya
bermain.
Berita
tentang kendi yang tetap utuh walaupun diinjak si penari ini pernah membuat
heran seorang dosen dari Australia yang anaknya belajar tari di sanggar ini.
Untuk membuktikan dan melihat dengan mata kepala sendiri. Ia datang menemui
Baryudi dan “menantang” untuk membuktikannya. Bahkan dengan “taruhan”. Jika benar Baryudi mancik kendi dan tetap utuh, Baryudi menang. Dengan lancar lan
sukses, Baryudi mancik kendi tanpa pecah, bahkan retakpun tidak.
“Rahasia
ada di kendi yang belum pernah terkena air, tidak retak, dan teknik manciknya. Jam terbang sangat penting.
Setiap penari, harus sering pentas, dimanapun. Agar bisa lebih menjiwai tarian
dan luwes. “Hahaha..lumayan menang taruhan...” Baryudi menutup ceritanya.
Penulis
: Dwi Ony Raharjo










.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)






.jpeg)

































