Tuesday, August 28, 2018

Situs Tangkisan Hargomulyo Kokap Kulonprogo

 Sebuah pencarian yang ckup sulit. Entah berapa kali ku bertanya pada orang yang ku jumpai. Entah berapa macam istilah yang ku gunakan untuk menyebut yoni, yang menurut catatan sejarah berada di desa ini. Semuanya mentah. tak seorangpun tahu. 
Waktu di akhir pencrianku, hampir putus asa setelah bertanya kesekian kalinya, dumadakan lewat seorang pemuda dengan sepeda motornya yang cukup kencang untuk ukuran pedesaan. Dan, Ciiiiiiiiiitt........ dia mengehntikan sepeda motornya tepat disampingku. Setelah dengan menggambarkan sesuatu yang aku cari tersebut, dia mulai mengerti. 
"Woalah..... watu mesjid to. Niko ten deso sebelah. Nggih tasih masuk deso mriki, ning pinggir dewe ten cerak gunung. (desa yang sudah dari tadi tak puter-puteri. Huffff........). Aku langsung mluncur ke lokasi yang ditunjukkan. 
Mendekati titik lokasi, kebetulan bertemu dengan bapak bapak yang punya tanah dimana watu masjid itu berada. Dengan ramah Beliau menyambutku, dan mengantarkanku ke tempat watu itu berada. Dengan cara dan sepengetahuannya, Beliau bercerita tentang ini dan itu mengenai watu tersebut.
Begitulah.........
Konon batu itu pernah dilakukan penggalian, dan batu kotak yang kini hanya nampak permukaan tersebut berkedalaman sekitar 1 meter.
Beberapa pejabat pemerintah setempat pernah pula meninjau batu tersebut. Namun tetap seperti itu, dan tetap disitu hingga kini. 







Friday, August 24, 2018

Situs Kethuk


Makam Ketutuk. Demikianlah kata kata yang kudapat dalam sebuah literatur yang menunjuk nama sebuah tempat. Cukup menarik pikirku. Namun entah kapan aku bisa menengoknya karena lokasi yang cukup jauh dari kegiatan sehari hariku.  
Ndilalah pada suatu hari aku ada keperluan di daerah Ngemplak, Sleman. Aku sengaja berangkat pagi agar punya cukup waktu untuk ke tempat ini. Lokasi yang sebenarnya cukup aku kenal sejak dulu saat aku suka berburu tupai dan burung bersama teman temanku.
Tiba di Pasar Kejambon, aku berhenti untuk bertanya letak pastinya. Ibu ibu di pasar yang ku tanyapun tertawa geli dengan pertanyaanku. Makam Ketutuk. Dalam bahasa Jawa, "ketutuk" berarti terpukul dengan tidak sengaja. Dengan arif kemudian beliau mengira ngira akan pertanyaanku. "Makam Kethuk mungkin yang dimaksud Mas......" katanya.
"Mungkin juga Bu....." jawabku sambil nyengir.

"Itu di utara desa ini. Ada SD, masuk kekiri, di selatan lapangan." jawabnya menunjukkan arah.
Segera aku berpamitan dan menuju kesana. Cukup mudah dijangakau ternyata. tepat di pinggir jalan dan akses yang sangat mudah.


Aku berputar putar dulu untuk meyakinkan diriku sendiri jika aku tak salah lokasi ( golek konco asline wong aku ki jirih.... pen) . Setelah yakin dengan merunut pada keterangan seorang nenek nenek yang kutemui, aku kembali ke lokasi makam. Ku turun dari motorku dan segera mendatangi makam itu. setelah cukup berziarah dan mendoakan yang "semare" disana, mataku kemudian berkeliling melihat dengan seksama apa yang menarik disisni hingga masuk ke dalam sebuah kategori "situs sejarah".
Kebon suwung itu dengan pelan pelan dan hati hati ku masuki. Tengok kanan dan kiri.Tampak olehku beberapa buah batu dengan bentuk seperti kethuk atau kenong atau kempul di sisi kananku. "Nah........candak!" aku setengah berteriak. Segera kudekati, ambil dokumentasi. Dan, hei...... rupanya ada juga batu persegi tak jauh dari lokasi batu seperiti kethuk itu. Di bawah rerimbunan pohon. Tidak jelas batu apa itu. Ku dekati dan kemudian aku bersihkan dari daun daun dan tanah yang menutupinya dengan tanganku.  
Dan mataku terbelalak setelah bersih dan terlihat dengan jelas gambaran yang terpahat di batu  itu. Sebuah kaki yang cukup jelas hingga jari jemarinya. Tiba tiba.....
"Kono kui lho Mas..... watune.....!!!" terdengar suara parau ibu ibu dari pinggir jalan. aku segera keluar menengoknya. Oh.....rupanya nenek nenek yang tadi mengikutiku hingga lokasi makam. Ku hampiri dan menggali lagi informasi yang mungkin masih tersisa.
"Riyn kathah Mas...... do dipeceli go gawe pondasi. Coba meng tiliki ten pinggir pinggir pager niko. Wonten recone namung disendekke neng pager..... kono kae....." dia menunjuk arah ke sisi barat dan selatan dari tempatku berdiri di dalam kebon. "Njih Mbaaaaaahhh....."jawbaku.

Sesuai dengan keberanianku, aku melacak sedkit ke arah selatan. Nampak olehku sebuah batu di bawah pohon. Ku dekati dan.....heiiiii....... sebuah batu yang melukiskan wajah seseorang. Segera ambil poto. Keliling keliling sejenak di sekitar tempat itu, namun tak ada lagi yang kutemukan.
Aku lihat jam di handphoneku. Hmmmm sudah saatnya pergi. Biarlah batu batu lain yang belum kutemukan jadi "gaweane" konco koncoku lainnya. Ndak kepenaken....... bathinku.
Aku segera keluar dari kebon, pamit, dan cuuuussshhhhh..... nguli. Monggo dilanjutkan expedisinya Kawan......
Di jalan ku merangkai rangkai keadaan. 
"Pantas dinamakan Makam Kethuk, karena disana ditemukan batu batu mirip Kethuk. Mungkin dari situ nama makam itu diambil. Entahlah....... 













Tuesday, August 21, 2018

Budha dan Nandi Capil

Setelah menengok batu gilang di Mulungan Kulon, mumpung waktu masih pagi, sejalur pula dalam perjalanan, aku mampir ke sebuah perkantoran pemerintah daerah. Setelah masuk dan parkir kendaraan, tanpa ba bi bu apalagi bobo, pandangan mataku langsung merangsek setiap suduk sudut halaman. Pokoke nekad. Setelah milang miling di halaman parkir depan, aku berputar. 
Di sudut sebuah bangunan, pandangan mataku menatap sebuah batu dengan bentuk tertentu, yang tidak begitu jelas dari kejauhan. Aku segera mendekat. Semakin jelas bentuknya, namun aku tetap tak dapat menyebutnya batu apakah itu.

Sebagai pegawai bangunan, di  tas kecilku selalu tersimpan meteran pemberian juraganku. Biar agak samar dan seperti ahlinya, ku ambil meteran dan mengukur batu yang berwujud seperti orang bersila itu. Tinggi sekitar 50an cm, lebar sekitar 40 cm, seingatku, wong gak saya catet. Hehehe...... Tidak begitu jelas wajah dari arca itu. Hanya tangan dan kaki yang cukup menggambarkan bahwa posisi arca tersebut menggambarkan orang yang duduk bersila.
Setealah merasa puas, ku ambil motor dan pergi dari tempat parkir itu. Namun saat ku berbelok, nampak olehku dua buah batu hitam berbentuk seperti sapi, dengan buntut yang masih sangat jelas melingkar di belakang, dengan sikap “njerum” dengan dua kaki depan ditekuk ke belakang. Kali ini aku terpaksa berhenti, dan parkir kenadaraan, lagi.
Cekrak cekrek, ukur ukur. Keduanya relatif sama besar, dengan posisi relatif sama, sama sama tanpa kepala. Hanya ekornya yang agak berbeda. Satu arca dengan ekor yang membelok dari belakang ke depan, dan satu lagi dengan ekor melingkar dari belakang dan melingkar agak menjuntai agak kebawah. Mungkin untuk membedakan antara sapi jantan dan betina.

Mungkin wong saya bukan ahlinya....... Pokoknya cekrak cekrek, simpan, biar anak anakku tahu sejarah beserta peninggalan otentikya yang pernah ditemui bapaknya.