Saturday, March 30, 2019

Ki Ageng Tunggul Wulung, Minggir Sleman

 Ki Ageng Tunggul Wulung adalah seorang tokoh keturunan dari Majapahit. Pada saat keruntuhan Majapahit, ia melarikan diri ke tempat yang pada saat itu dikenal dengan nama Dusun Beji (Ndiro), kini dikenal dengan nama Dusun Dukuhan Sendangagung Minggir.
Perjalanan hidup
Pada saat Majapahit kalah, kerabat keraton melarikan diri ke berbagai daerah. Ki Ageng Tunggul Wulung melarikan diri ke barat hingga ke Dusun Beji atau Diro, sebelah timur Sungai Progo. Ia disertai istrinya yaitu Raden Ayu Gadung Melati beserta tujuh punggawa dan beberapa abdi terpercaya.[1] Ia juga disertai Raden Sutejo dan Raden Purworejo yang bersifat kajiman (tidak kasat mata) yang selalu menyertai perjalanan Ki Ageng Tunggul Wulung, juga abdi dalem kinasih yang bernama Nyai Dakiyah.[2] Ki Ageng membawa beberapa pusaka yang diwangsitkan Prabu Brawijaya untuk diserahkan kepada raja pengganti kelak, yaitu tombak Tunggul Wasesa, keris Pulang Geni, dan bendera Tunggul Wulung.[1] Di Dusun Beji (Diro), Ki Ageng Tunggul Wulung membuat pesanggrahan (kraton kecil) yang peninggalannya masih dapat ditemukan, berupa patung pepethan lembu Andhini dan sapi Gumarang[2] serta Sendang Beji.[3]

Masuknya Ki Ageng Tunggul Wulung di wilayah ini mengakibatkan wilayah ini menjadi lebih aman dan tenteram. Hal ini membuat orang lain ikut tertarik untuk tinggal di tempat ini. Semua itu terjadi karena peran Ki Ageng Tunggul Wulung yang dapat memberikan pengayoman kepada warga lain yang bermukim di tempat itu (masyarakat) serta mampu memberikan kemakmuran.[3] Masyarakat Dusun Dukuhan percaya bahwa Ki Ageng Tunggul Wulung merupakan cikal-bakal dusun mereka dan menjadi pelindung.[1]
Pada suatu malam Jumat Pon, Ki Ageng Tunggul Wulung memohon petunjuk kepada Yang Maha Agung di bawah pohon Timoho di dekat Sungai Progo. Ki Ageng Tunggul Wulung serta istri dan tujuh orang pengawalnya serta Nyai Dakiyah akhirnya moksa. Binatang-binatang peliharaan Ki Ageng juga moksa, yaitu burung perkutut, burung gemak, macan gembong, macan kumbang, macan putih, nogo ijo, nogo ireng, dan ayam jago "wiring kuning".[2] Tempat moksanya diberi batu nisan layaknya makam.[1] Nisan ini sekarang telah diberi cungkup berbentuk rumah tembok dengan ukuran sekitar 8 meter x 6 meter. Di depan cungkup tersebut dibangun pendapa sebagai salah satu tempat persembahan dan perebutan hasil bumi (ubarampe) sesajen kirab Upacara Tradisi Merti Dusun Ki Ageng Tunggul Wulung.[3]
Upacara adat Tunggul Wulung
Masyarakat Dusun Dukuhan percaya bahwa Ki Ageng Tunggul Wulung menyukai pagelaran wayang kulit dan tarian tayub. Konon, suatu ketika seorang ledhek ("penari perepuan") tayub yang menginginkan kehidupan lebih baik bertirakat di makam Ki Ageng Tunggul Wulung. Ledhek tersebut tiba-tiba menghilang tanpa diketahui. Masyarakat percaya bahwa ledhek tersebut diajak oleh Ki Ageng Tunggul Wulung.[1] Semenjak saat itu, upacara bersih desa Sendang Agung (atau upcara adat Tunggul Wulung) selalu diramaikan oleh pagelaran tayuban.[2] Nama penari wanita tersebut adalah “Raden Nganten Sari Wanting”.





Tuesday, March 19, 2019

Situs Lingga Yoni Candi Karangwuluh Temon

Sejarah Desa Karangwuluh
Setiap desa atau daerah mempunyai sejarah dan latar belakang tersendiri, yang merupakan pencerminan dari karakter dan perincian khas tertentu dari suatu daerah. Sejarah desa atau daerah sering kali tertuang dalam dongeng-dongeng yang diwariskan secara turun temurun dari mulut ke mulut sehingga sulit dibuktikan dengan fakta.
Asal – usul ( Legenda ) Desa.
Dari penelusuran dan penggalian dari para narasumber, disimpulkan bahwa nama Desa Karangwuluh berasal dari hikayat bahwa pada zaman dahulu kala hiduplah empat nama tokoh, yaitu :
Ki Bekel yang berasal dari Jawa Timur
Ki Wayuh / Nyi Wayuh yang berasal dari Hindustan ( India )
Ki Wuluh Gading yang berasal dari daerah Serang, Pengasih
Ki Candi Rejo
Dusun tempat tinggal mereka tidak diketahui secara pasti, namun dari makam dari keempat tokoh tersebut dapat diketahui sebagai berikut :
Ki Bekel dimakamkan di pemakaman umum Pedukuhan Karangwuluh Kidul
Ki Wayuh / Nyi Wayuh dimakamkan di pemakaman Pedukuhan Karangwuluh Kidul
Ki Wuluh Gading dimakamkan di pemakaman umum Pedukuhan Karangwuluh Lor
Ki Candi Rejo makamnya tidak diketahui
Berdasarkan nama-nama diatas bisa disimpulkan bahwa nama Desa Karangwuluh sangat dimungkinkan diambil dari salah satu nama tokoh tersebut, yaitu Ki Wuluh Gading.
Desa Karangwuluh terdiri dari dua wilayah perkampungan yang dibatasi oleh sawah. Sebelah timur disebut Karangwuluh dan sebelah barat disebut Candi.
            Desa Karangwuluh terdiri dari empat pedukuhan, yaitu :
Pedukuhan Karangwuluh Kidul
Pedukuhan Karangwuluh Lor
Pedukuhan Candi Wetan
Pedukuhan Candi Kulon
Dari keempat pedukuhan tersebut mempunyai sejarah masing-masing, yaitu :
Pedukuhan Karangwuluh Kidul
 Pedukuhan ini terletak diwilayah perkampungan Desa Karangwuluh sebelah selatan sehingga pedukuhan ini disebut Pedukuhan Karangwuluh Kidul. Di Pedukuhan ini terdapat makam Ki Bekel  dan Ki Wayuh
Pedukuhan Karangwuluh Lor
Pedukuhan ini terletak diwilayah perkampungan Desa Karangwuluh sebelah utara sehingga pedukuhan ini disebut Pedukuhan Karangwuluh Lor. Di Pedukuhan ini terdapat makam Ki Wuluh dan Watu Kentheng yang didalamnya terdapat lingga dan zoni.
Pedukuhan Candi Wetan
Pedukuhan ini terletak diwilayah perkampungan Candi sebelah timur sehingga pedukuhan ini disebut Pedukuhan Candi Wetan.
Pedukuhan Candi Kulon
Pedukuhan ini terletak diwilayah perkampungan Candi sebelah barat sehingga pedukuhan ini disebut Pedukuhan Candi Kulon. Pedukuhan Candi Wetan dan Pedukuhan Candi Kulon dibatasi oleh bangunan kuno yang terbuat dari batu yang disebut Watu Kentheng yang berukuran 1 x 1 meter yang didalamnya juga terdapat lingga dan zoni. Belum ada penelitian sejarah lebih lanjut tentang asal muasal lingga dan zoni tersebut. 
Bagaimana cerita tentang lingga yoni ini???
Gelap. huahahahahahaha......
http://karangwuluh-kulonprogo.desa.id/index.php/first/artikel/42












Saturday, March 16, 2019

Situs Beran Lor

 di desa ini terdapat jaladwaram yoni berukuran sekitar 80cm x 80 cm dengan cerat yang masih utuh, yoni yang ditanam dalam tanah warga dengn ukuran sekitar 60cm x 60cm, arca nanddi, dan balok batu candi yang cuku besar.