Wednesday, October 31, 2018

Berkunjung ke Masjid Sunan Geseng Purworejo

 Dari Jurangkah, perbatasan Purworejo – Jogja, aku menuju Masjid Sunan Geseng.
Meski sudah berumur sekitar 5 abad, Masjid Sunan Geseng di Purworejo, Jawa Tengah hingga kini masih berdiri kokoh. Seperti apakah masjid yang dibangun sebagai hadiah untuk Sunan Geseng itu?
Tidak ada yang tahu secara persis kapan masjid yang dibangun oleh warga setempat sebagai persembahan untuk Sunan Geseng atas jasanya menyebarkan ajaran Islam itu dibangun. Namun, diperkirakan masjid tersebut sudah ada antara tahun 1400-1500 Masehi.
Masjid Sunan Geseng terletak di Dusun Kauman Barat, RT 02/ RW 06, Desa Bagelen, Kecamatan Bagelen. Takmir masjid, Zumarudin (57) yang ditemui detikcom menuturkan bahwa keberadaan masjid tersebut masih ada kaitannya dengan petilasan Sunan Geseng yang terletak sekitar 3 km ke arah timur dari masjid Sunan Geseng.
Keberadaan petilasan atau tempat Sunan Geseng bertapa dan berdzikir di Dusun Gatep, Desa Bagelen, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo itu hingga kini masih dijaga dan dilestarikan. Selain sebagai penanda keberadaan Sunan Geseng yang berasal dari Purworejo, petilasan yang terletak di ujung bukit desa setempat itu juga dijadikan tempat ziarah dan berdoa.
"Ya, memang masjid ini masih ada hubungannya dengan petilasan Sunan Geseng yang berada di sebelah timur sana. Masjid dibangun sebagai hadiah atau bentuk penghormatan kepada Sunan Geseng atas jasanya menyebarkan agama Islam di wilayah Purworejo dan sekitarnya," ucap Zumarudin, Rabu (23/5/2018).
Keunikan masjid yang hingga kini masih bisa dilihat antara lain bangunan masjid beratap tumpang satu dan diatasnya terdapat mustaka yang terbuat dari tanah liat. Terdiri dari ruang utama dan bangunan serambi beratap limasan.
Di dalam ruang utama terdapat 4 soko guru atau tiang utama dan 12 soko rowo atau tiang penyangga lain yang berbentuk bulat dengan bahan kayu jati. Uniknya, kerangka kayu yang terangkai dengan tiang-tiang tersebut memiliki motif ukiran yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.
"Salah satu keunikannya adalah bahwa bentuk ukiran yang ada pada kayu blandar molo, langit-langit dan lain-lain semuanya berbeda motifnya, kalau zaman sekarang kan ukirannya sama atau seragam antara yang kayu sebelah kanan dan kiri atau setiap bagian itu dibikin sama," imbuhnya.
Pada bagian pintu masuk ruang utama juga terdapat ukiran relief sulur daun. Perlengkapan lain yang masih ada sejak dulu hingga sekarang adalah mimbar dan bedug. Meski beberapa kali dipugar, namun higga saat ini kondisi asli masjid masih terawat dengan baik.
Masjid yang menjadi salah satu aset Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah ini setiap hari ramai digunakan oleh warga sekitar untuk beribadah terutama saat bulan Ramadan. 
"Yang pasti untuk terawih berjamaah, pengajian setiap sore dan buka bersama. Buka bersama dari hari Senin sampai Jumat untuk anak-anak, Sabtu sore untuk remaja kemudian Ahad sore untuk pengurus atau takmir masjid," lanjutnya.
Melihat Keunikan Masjid Sunan Geseng di PurworejoBeragam motif ukiran pada kerangka kayu penyangga dan langit-langi Masjid Sunan Geseng. Foto: Rinto Heksantoro/detikcom
Diwawancara terpisah, juru kunci petilasan Sunan Geseng, Budiono (55) menceritakan bahwa Sunan Geseng yang memiliki nama asli Raden Mas Cakrajaya atau Cokrojoyo adalah murid Sunan Kalijaga. Sebutan Sunan Geseng diberikan Sunan Kalijaga kepada Cokrojoyo karena begitu setia terhadap perintahnya.
Raden Mas Cokrojoyo sendiri adalah anak dari Pangeran Semono yang merupakan keturunan Prabu Brawijaya. Meski keturunan bangsawan, namun Cokrojoyo lebih memilih hidup sederhana dan berbaur dengan rakyat biasa.
"Menurut cerita turun temurun yang kami terima dan kami percaya, memang kisahnya seperti itu. Meski dari keturunan bangsawan namun beliau lebih memilih hidup biasa bersama masyarakat umum. Nama Sunan Geseng juga diberikan oleh Sunan Kalijogo yang merupakan guru dari Sunan Geseng itu sendiri," tutur Budiono.
Makam di belakang masjid itupun jga menarik, terutama bentuk batu nisannya. Menyerupai lingga.






Ziarah ke Nyai Bagelen Purworejo

 Ziarah ke Nyai Bagelen. Setelah melihat pekerjaan di Jurangkah, Bagelen, Purworejo, lalu kemudian berziarah ke Masjid Agung Kauman Sunan Geseng, aku menyempatkan untuk sekalian berziarah ke Nyai Bagelen.

Nama Nyai Bagelen adalah tokoh yang sudah tak asing bagi masyarakat kota Purworejo. Dialah yang disebut sebagai tokoh yang menurunkan orang-orang di Bagelen. Kata Bagelen itu sendiri merupakan nama lain dari Purworejo. Menurut yang empunya cerita, Bagelen dulu berbunyi Pagelen. Sedang Pagelen merupakan perubahan dari Medang dan Gele. Medang Gele itu sendiri berasal dari kata Medang Kamulan, sebuah kerajaan, tempat asal usul Nyai Bagelen.

Siapa Nyai Bagelen?
Kisahnya zaman dahulu, di daerah Begelen adalah sebuah kerajaan Medang Kamulan yang diperintah oleh seorang raja bernama Sri Prabu Kandiawan. Beliau tak hanya berkuasa di daerah Begelen saja. tapi juga meliputi Jepara, Tumapel dan sekitarnya. Baginda raja mempunyai 5 orang putra. Yang sulung bernama Sri Panuwun. Ia diberi kepercayaan oleh Baginda untuk mengatur bidang pertanian yang berkedudukan di Medang Gele (Pagelen). Anak kedua bemama Sri Sandang Garba yang berkedudukan di Jepara. Ia diberi tugas untuk mengatur bidang perdagangan. Anak ketiga bernama Sri Kalungkala yang bertugas mengatur bidang pertahanan.

Sri Prabu menikah dengan putri dari Kiai Somodangu. Perkawinan ini kemudian lahirlah seorang putri yang diberi nama Rara Bang Wetan. yang setelah dewasa menjadi Nyai Ageng Bagelen. Nyai Begelen ini lalu menikah dengan Prabu Awu-Awu Langit dan diboyong ke Ngombel (Grabag Kutoarjo) karena suaminya itu berkedudukan di daerah tersebut. Dari Ngombel mereka berdua lalu pindah ke Hargopuro (atau Hargorejo sekarang).
Suami Nyai Begelen ini kemudian menduduki tahta kerajaan setelah sang raja wafat. Setelah menjadi raja. Prabu Awu-Awu Langit bergelar Sri Prabu Joko Panuwun. Bersama dengan Nyai Begelen. beliau memerintah kerajaan dengan adil dan bijaksana. Bidang pertanian diatur sendiri oleh sang raja. Sedangkan istrinya mengurus bidang industri dan pertenunan.

Daerah Bagelen menjadi terkenal karena hasil pertaniannya. Terutama kedelai dan ketan ungu hitam (ketan wulung).
Sri Prabu Joko Panuwun dianugerahi 3 orang anak. Yang sulung laki laki. diberi nama Raden Bagus Gento. Anak kedua dan ketiga adalah perempuan. Raden Rara Taker dan Raden Rara Fitrah. Keduanya mirip satu lain. baik wajah maupun tingkah lakunya sehingga seperti anak kembar layaknya. Nyai Bagelen sangat sayang pada kedua putrinya ini. Kisah legenda masyarakat, kedua anaknya tersebut meninggal tertimpa lumbung padi.
Bagi masyarakat setempat, kisah Nyai Bagelen sudah menjadi inspirasi hikmah tersendiri.

Konon, Bupati Purworejo yang pertama dulu yang bernama Sugeng bahkan pernah bertemu secara gaib dengan Nyai Bagelen. Kepada Bupati Sugeng, Nyai Bagelen berpesan agar batu tiang masjid (umpak. bahasa Jawa) yang terletak di masiid Kauman dipindahkan ke Bagelen. Selain ltu. ia juga minta dibuatkan rumah rumahan untuk berziarah bagi anak cucunya.

Sejak itu umpak tersebut dianggap sebagai kuburan Nyai Bagelen. Tempat itu sekarang men|adi tempat keramat dan selalu dijaga dan dirawat dengan baik. Setiap Jumat kliwon dan Selasa kliwon banyak orang berziarah ke sana. apalagi bulan Sura.

Legenda ini mengajarkan kepada kita agar kita janganlah menganggap remeh segala sesuatu. Karena Awu-awu Langit terlalu memikirkan pekenaan. ia tak peduli lagi pada keselamatan kedua putrinya. Akhirnya, bencana yang tak diinginkan pun terjadi.


Sumber : Nyai Bagelen















Saturday, October 27, 2018

Lika Liku Ku










Menatap senja pulang kerja

Menanti tukang dari Magelang di Pasar Sleman

Potong kue Bol Brutu, komunitas embuh.....pissss...

ngetik naskah

dalam dinginnya malam





Situs Salak di Candi Purwobinangun Sleman

 Entah apa namanya, aku menyebutnya Situs Salak karena terdapat dikebon salak.  menurutku ini adalah batuan bagian dari candi, melihat pola bentukan batu dan ukiran yang ada. Ditambah dengan keterangan dari warga bahwa tak jauh dari lokasi ini pernah juga didapati sebuah batu kotak dengan ukiran tertentu, dan batuan batuan candi yang sudah dipergunakan untk perbaikan jalan. Yang masih dapat dilihat di lokasi tak jauh dari sini adalah dua buah yoni berukuran besar yang ada di TPU Cepit.








Saturday, October 20, 2018

Situs Sendang Krapyak Margoagung Sleman

 Sendang Krapyak. Demikian aku menyebutnya. Karena sendang ini terletak di dusun Krapyak, Margoagung, Sleman. Sekitar 100 meter dari Penampungan BCB Seyegan. Semula waku kira tempat ini adalah makam. Lokasinya di dataran rendah, hanya terlihat jalan depan berkonblok dari jalan utama kampung.  Yang menarik saat melihanya adalah adanya sebuah batu kotak dengan gurat khas. Gurat gurat yang sering kulihat pada batuan batuan candi semacam yoni ataupun lapik.
Segera ku dekati, dan benar. Sebuah batu berukuran sekitar 80 cm x 80 cm, dengan ketinggian sekitar hampir 40 cm, dengan lubang persegi dengan kedalaman sekitar 30an cm, dan lebar adri lubang juga 30an cm. Batu ini terletak tepat di depan sebuah tempat pemandian, sendang dalam bahasa jawa. 
Cukup bersih dan terawat. Penduduk saat ini jarang menggunakannya karena di sebelah selatan dari sendang ini terdapat aliran sungai yang lebih terbuka dan lebih nyaman untuk mencuci pakaian. Konon tak jauah dari tempat ini juga ditemukan sebuah batu sejenis dengan ukuran yang lebih besar. Sayang sekali saya belum menemukannya.
Tidak diketahui dengan pasti tentang asal muasal batu itu. Namun merujuk pada penemuan penemuan sejenis yang ada di penampungan Seyegan, menurutku batu itu adalah peninggalan jaman kerajaan era Medang. 










Friday, October 19, 2018

Situs Senden Sumberadi Sleman

 Tak jauh dari Sumber Kluthuk, di desa Senden ini terdapat beberapa buah batu candi di pekarangan. Hasil dari penggalian yang tak sengaja. Tak diketahui dengan pasti tentang batuan candi ini. Menurut saya, batuan batuan ini berhubungan erat dengan bebatuan sejenis yang berada di desa sekitarnya seperti Kules, Burikan, dan Jetis.