Friday, April 24, 2020

Liputan Stupa Dawangsari

SELASAR
Dalam bangunan kuil atau candi kadang-kadang dapat dilihat dilengkapi dengan susunan horisontal mendatar berupa lantai yang bisa sejajar dengan tubuh candi, lebih rendah atau bahkan menempel pada tubuh candi tetapi letaknya tidak di dalam dinding bangunan tetapi mengarah keluar dan mengelilingi bangunan utama tersebut. Pada setiap candi yang memiliki susunan lantai yang semacam ini ukuran lantainya diapit atau terdapat diantara pagar langkan dan dinding bangunan candi (tubuh candi) maka akan terjadi lorong yang mengelilingi bangunan candi itu pula. Lantai atau lorong tersebut dalam arkeologi disebut selasar.
Ditinjau dari fungsi yang dikandung oleh selasar itu dapat dibedakan dalam dua macam, yaitu : fungsi religius dan fungsi yang berkenaan dengan bangunan candi itu. Fungsi religius dari selasar adalah sebagai sarana jalan untuk melakukan pradaksina dan atau prasawiya dimana dengan melakukan pradaksina atau prasawiya itu dapat kita ikuti atau ketahui jalan cerita yang biasanya dilukiskan dalam bentuk relief pada pagar langkan atau dinding tubuh candi.
Fungsi yang kedua dapat disebutkan sebagai perluasan atau sisa bidang mendatar dari kaki candi atau bagian lain untuk menempatkan pagar langkan.
Kedua fungsi ini belum tentu dimiliki setiap kuil atau candi, karena candi yang berselasar belum tentu berpagar langkan tetapi candi yang berpagar langkan dapat dipastikan mempunyai selasar.
Pada candi yang berselasar tunggal maka dapat diidentifikasikan bahwa selasar itu adalah sisa dari kaki atau batur candi yang kemungkinan memang disengaja disisakan/dibuat untuk maksud tertentu. Sedang untuk candi yang berselasar ganda, selasar dapat merupakan bagian dari batur, bagian tubuh candi yang sengaja disisakan untuk selasar, selain bagian dari kaki candi. Sebagai contoh pada candi Borobudur selasarnya terdapat pada tiap tingkatan sedang pada candi Ciwa di komplek percandian Loro Jonggrang selasarnya hanya satu.
Pada dasarnya selasar dapat dimasukkan sebagai salah satu unsur/bagian dari bangunan candi meskipun bukan sebagai unsur yang pokok karena tidak harus ada pada setiap candi, demikian pula dengan pagar langkan.
Dapat dikatakan bahwa antara selasar dengan pagar langkan itu adalah satu kesatuan, dimana ada pagar langkan tentu ada selasar namun bila ada selasar belum tentu ada pagar langkan. Contoh hal yang kedua adalah pada candi Plaosan Lor, dimana pada selasarnya tidak terdapat pagar langkan.
Suatu hal yang menarik, sementara selasar memiliki peranan yang cukup penting dalam hal-hal tertentu tetapi ternyata tidak semua bangunan yang sejenis menggunakan selasar. Apakah adanya selasar ini hanya karena kehendak si perencana pembangunan candi itu atau ada pertimbangan lain yang lebih dalam, atau kurang perhatikan lagi kepentingannya ?
Demikianlah tinjauan secara sepintas terhadap bentuk fisik dan fungsi selasar sejauh saya ketahui.



PAGAR LANGKAN
Dilihat dari segi letak, pagar langkan adalah merupakan bagian dari candi sehingga tidak lepas dari candi itu sndiri dan secara pasti terdapat pada selasar candi di sebelah sisi luar. Pada umumnya bagian ini terdapat pada kaki candi atau tubuh bagian bawah. Namun demikian tidak semua bangunan candi khususnya untuk kuil memiliki bagian ini.
Bila dilihat dari segi fungsinya, dapat diberikan sedikit keterangan tentang fungsi dari pagar langkan ini. Fungsi yang pertama adalah untuk perluasan dari bidang candi guna menempatkan relief baik sekedar berupa ornamentasi atau cerita-cerita, kedua berfungsi sebagai batas antara daerah yang dianggap suci dengan daerah yang profan.
Bentuk dari pagar langkan ini adalah berupa suatu bangunan dinding yang tidak terlalu tinggi dan mengelilingi bangunan candi tetapi tidak terpisahkan dari candinya karena dihubungkan dengan/oleh selasar. Pada umumnya pagar langkan dibangun tepat di atas ujung selasar yang menjorok ke luar dari tubuh candi. Lain halnya dengan dinding/tembok keliling candi yang letaknya sangat diluar candi sebagai pembatas halaman atau batas komplek candi.
Kalau dilihat bahwa tidak semua candi memiliki pagar langkan, dapat timbul berbagai pendapat mengenai hal ini. Sebagai misal secara struktural pagar langkan adalah salah satu bagian candi tetapi bukanlah bagian yang harus atau selalu ada dengan kata lain hanya sebagai pelengkap namun demikian harus diakui bahwa dengan adanya pagar langkan yang dilengkapi dengan relief cerita atau ornamentasi tersebut kita dapat lebih banyak mengetahui perjalanan hasil kesenian dan keadaan sosial-ekonomi serta keagamaan masyarakat Indonesia pada masa dahulu.
Bila ditinjau dari segi keagamaan, fungsi pagar langkan kurang begitu menunjukkan hal yang nyata selain dengan mengikuti alur cerita relief yang dipahatkan kita dapat mengetahui ritual apakah yang ditimbulkan dari mengikuti alur relief itu, pradaksina (pemujaan dewa) atau prasawya (pemujaan leluhur). Memang dalam hal ini alur relief yang dipahatkan pada pagar langkan sangat membantu kita untuk mengetahui untuk upacara apakah candi itu didirikan.

Dan dari segi relief yang dipahatkan biasanya terlihat relief dengan jenis ‘high relief’. Sedang untuk ceritanya pada umumnya disesuaikan dengan sifat atau latar belakang keagamaan dari candinya.

https://jogja.tribunnews.com/2020/04/25/stupa-dawangsari-bakal-lebih-besar-dari-stupa-induk-candi-borobudur