Monday, March 19, 2012

CANDI KEDULAN, KINI TERBENAM AIR HUJAN


Pagi yang cerah, teman teman telah menghampiri dengan masing masing sepedanya. Hari liburan sekolah, biasa yang kami lakukan adalah bermain main, sepedaan, dengan saling berboncengan. Dan aku adalah anak yang paling setia bonceng, karena tak punya sepeda. Karena merasa tak punya sepeda, akupun bersedia sebagai pengemudinya, dan pemilik sepedanya tinggal duduk manis di belakang sambil bercanda dengan teman teman.  Kami bersepuluh, dengan menaiki 5 sepeda, saling berboncengan. Saat itu waktu liburan sekolah.

Kami berjalan ke arah tenggara dari dusun kami, sekedar putar putar bersepeda. Sampailah kami di tempat sebuah bangunan mirip kolam, dimana airnya sangat jernih, hingg ikan ikan yang berenang di bawah airnyapun Nampak sangat jelas. Kolam itu tak pernah kering, karena dari dalam kolam itulah sumber dari mata airnya. Mata air yang sangat besar, yang konon katanya, untuk menutup mata air itupun diperlukan seekor sapi yang besar, namun itupun belum dapat menutup hingga tuntas, dan akhirnya mata air itupun berhasil di tutup dengan “lumpang”, sebuah batu besar yang pipih dan cembung, mirip sebuah cobek yang berbentuk oval. Mata air itu ditutup, karena daya sedotnya sangat besar, sehingga pernah terjadi korban. Kolam itu belakangan terkenal dengan nama Umbul Pajangan.

Belum puas kami bermain, selesai mandi di kolam beramai ramai, kami berjalan ke arah timur, lebih jauh lagi. Dan di sana, di sebuah daerah persawahan di sisi sebuah desa, tampak hiruk pikuk orang orang yang tengah mencari pasir, untuk dijual. Waktu itu kami hanya bermain berkeliaran di sekitar penambangan pasir itu, dan setelah lelah dan puas, kami pulang.

Kini, setelah sekian tahun berlalu, aku melewati daerah itu lagi. Muncul keinginanku untuk melihat lihat tempat daerah permainanku sewaktu kanak kanak.  Jalan setapak menuju tempat itu telah agak lebar, sehingga mudah bagiku untuk samapi kesana. Namun yang ku lihat kali ini sunggung di luat dugaanku.
Tempay itu sekarang menjadi seperti sebuah kolam yang tak terawatt, dengan air yang warnanya hingga menjadi hijau. Kelihatan cukup menyeramkan dan dalam. Dilihat dari tonggak tonggak kayu yang berbdiri di tengah tengahnya.

bagian atas candi yang di kelilingi tonggak kayu. terbenam air setinggi 8 meter
bagian atap candi
Yang sangat menarik kemudian adalah, di tengah tengah dari tonggak tonggak kayu yang dipasang melingkar itu, terdapat beberapa batu yang menyembul di atas air, dan batu itu membentuk sebuah wujud bangunan.
Di seberang kolam itu terdapat sebuah bangunan dengan beberapa orang duduk di sekitarnya. Aku hampiri, dan dari mereka ku dapat keterangan bahwa bangunan di bawah air itu, adalah sebuah candi. Candi yang dibuat pada jaman kerajaan hindu, yang berusia hampir sama dengan candi yang tak jauh dari lokasi tersebut, yaitu Candi Sambisari, dan Candi Prambanan. Candi yang terbenam olah air itu, yang bernama Candi Kedulan, keadaannya lebih memprihatinkan daripada kedua candi tersebut.

rekontruksi yang masih jauh dari harapan
Disamping keadaannya yang terbenam oleh air, rekontruksi yang dilakukanpun, kelihatnnya masih jauh dari harapan, melihat di sana sini masih berserakan batu batuan candi yang berlum tersusun, patung patung dan arca yang terbelah belah dan terpotong potong yang masih tersimpan di bangunan rumah itu, dan sebuah papan penunjuk jalan kea rah candi yang mangkrak dan telah toboh. 

“Tidak pernah selesai Mas, wong tidak ada dananya (dari pemerintah)” kata bapak bapak yang ku jumpai di tempat rekontruksi candi. Yah, seperti sebuah kain lusuh yang hanya di gantung di tiang.  

masih belum ketemu juga
Ternyata, para penambang pasir yang dulu pernah ku temui itulah penemu dari Candi Kedulan ini. Dari pihak yang berwenang telah turun tangan, namun karena kendala satu dan lain hal, candi ini masih sangat jauh dari sempurna. Candi induknya saja masih terbenam air, bagaimana rekontrkusi akan dapat dilanjutkan? Dan hal inipun berlangsung cukup lama, hingga air yang menggenang itupun sampi manjadi hijau warnanya. Bayangkan, berapa lama candi induk itu tergenang air???

plang nama yang mankrak di kantor
Mungkin hal seperti  inilah yang kemudian apabila di amati dengan seksama, lingkungan candi tersebut cukup membuat bulu kuduk merinding. Disamping lokasinya di tengah sawah, di bawah tanah, tergenang air yang telah menghijau, dan di sebelahnya mengalir sebuah sungai yang cukup dalam, dengan pohon pohon yang cukup rapat di sekitarnya. Konon, pada malam tertentu, sering muncul sebuah penampakan raksasa dengan membawa sebauh gada kuningan yang muncul dari dalam candi induk itu. Hmmmm……. Tak boleh dibiarkan!!!!

No comments:

Post a Comment