Wednesday, November 4, 2026

Liputan Sanggar Tari Trisna Budaya Adi oleh Dwi Ony Raharjo

 

Sanggar Tari Trisna Budaya Adi,

Pendidikan Non Formal Berbasisi Budaya Yang Mumpuni

Pasal 33 ayat 1 UUD 1945 yaitu “Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.” Diteruskan pada pasal 2 yaitu “Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya.” Itulah begitu pentingnya arti pendidikan bagi pemajuan sebuah negara sehingga negara menetapkan bahwa pendidikan adalah suatu kewajiban  negara, dan hak bagi warga negara

Dengan terbitnya Perda DIY Nomor 5 Tahun 2011 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan Berbasis Budaya, menjadikan dunia pendidikan khususnya wilayah DIY semakin berkarakter. Sesuai dengan visi dari Pemerintah DIY  bahwa tahun 2025, DIY sebagai  pusat pendidikan, budaya, dan tujuan pariwisata terkemuka di Asia Tenggara.  Maka, pendidkan berbasis kebudayaan menjadi ciri khas dunia pendidikan di semua jalur.

Terdapat 3 jalur pendidikan yaitu pendidikan formal, informal dan non formal.  Sistem pendidikan formal yaitu jalur pendidikan organik pemerintah yang terstruktur dan berjenjang dari tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama dan sekolah menenga atas.

Pendidikan informal  yaitu merupakan sistem pendidikan diluar dari sistem formal, yang dilakukan secara mandiri, dan berujuan untuk membantu siswa mencapai tujuan belajarnya.  Jalur pendidikan seperti ini biasanya lebih bersifat komunal atau berada di lingkungan sekitar seperti  TPA (Taman Pendidikan Al Quran, sekolah minggu di gereja, dan jenis ketrampilan lainnya.

Pendidikan non formal adalah jenis pendidikan di luar sisitem formal, dengan aktivitas yang lebih terorganisir, mandiri, dan sebagai bagian dari kegiatan yang lebih luas dari sistem formal.  Biasanya pendidikan jenis ini untuk menampung atau melayani peserta didik yang mempunyai minat khusus yang tidak mereka dapatkan secara maksimal di pendidikan formal.  Pendidikan non formal yang cukup populer adalah jenis lembaga pelatihan, tempat kursus dan sanggar.

Dengan adanya pedidikan berbasis kebudayaan, menjadikan dunia pendidikan non formal semakin beragam. Minat dan bakat peserta didik yang semakin berkembang, kadang tak dapat dipenuhi oleh jalur pendidikan formal. Seperti yang terjadi di Sanggar Tari Trisna Budaya Adi, yang beralamat di Dusun Kronggahan 2, Kelurahan Trihanggo, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Pak Baryudi, sebagai pemilik dan pendiri sanggar ini merintisnya sejak tahun 1976, setelah lulus dari bangku kuliah di ASTI (Akademi Seni Tari Indonesia). Latar belakang berdirinya sanggar ini adalah nguri ngruri kabudayan jawi, serta karena jiwa seni yang sangat kental pada dirinya, dan ditopang olah bakat, minat serta pendidikan yang bekualitas serta dapat diperyanggung jawabkan secara akademis.

Bagaimana tidak? Baryudi mulai mencintai dan menggeluti seni tari sejak kelas 3 SD. Di kampungnya itu setiap hari Kamis, datang seorang guru tari bernama Pak Wagiyo dari Medari. Beliau mengajar anak anak sekampung dengan Baryudi. Karena bakat dan kemampuannya yang sangat menonjol, ia sering sekali menjadi contoh dan berdiri paling depan, sehingga kadangkala, Baryudilah yang seolah menjadi guru bagi teman temannya. Hal seperti itu tidak hanya terjadi di kampungnya, hingga ke SD tempat Baryudi bersekolah. Saat pelajaran selain tari, ia adalah murid, dan saat pelajaran tari, ia adalah murid sekaligus guru.

“Yo murid yo guru... hahaha...”tawanya renyah mengenang masa kecilnya.

Setelah masuk SMP dan melanjutkan ke SPG Bopkri. Rupanya kepiwaiannya dalam seni tari semakin menjadi. Ia selalu menjadi guru bagi teman temannya. Kemampuannya yang diatas rata rata itulah yang kemudian menyentuh hati gurunya untuk mengirimnya kepada Bagong Kussudiardjo, koreografer serta pelukis ternama yang digelari Begawan Seni. Bagong Kussudiardjo juga pencetus aliran “Bagongisme” karena tarian tarian ciptaannya merujuk pada karakter khas Bagong dalam tokoh pewayangan. Dalam waktu hanya 3 bulan, Baryudi diangkat menjadi asistennya.   

“Tari, bisa dikatakan sebagai cabang dari kebudayaan yang sangat fleksibel. Menurut saya, seni tari adalah gerak badan (olah raga) yang indah.” Tuturnya.

Sejalan dengan pengertian seni tari yaitu gerak badan yang dilakukan secara berirama ditempat dan waktu tertentu untuk kepentingan pergaulan, mengungkap perasaan, maksud, serta pikiran. Adapun musik pengiring tari berfungsi mengatur gerakan penari,  menguatkan serta menegaskan  maksud yang ingin di sampaikan.

Sanggar ini mendapatkan SK dari Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata  No. 083 setahun setelah berdirnya. Menerapkan kurikulum berjenjang  layaknya pendidikan formal sehingga serasi, setara dan sejalan dengan pendidikan peserta didik di sekolah fomral.

Dengan biaya pendaftaran dan biaya bulanan yang sangat terjangkau, Baryudi tetap berusaha menjaga kelestarian dan kualitas, baik tempat atau studio, bahkan hingga fasilitas serta peralatan pendukung seperti kostum, alat musik, peralatan praktek dan sebagainya. Adapun pelaksanaan dari kegiatan belajar mengajar, dilakukan sore hari selepas waktu sekolah formal, agar setiap siswa dapat belajar maksimal di sekolah, dan mengembangkan minat dan bakatnya selepas pulang sekolah  dengan maksimal. Bahkan tak jarang yang menginginkan belajar tari pada hari Minggu, terutama para mahasiswa. 

Dari semua peserta didik tingkat SD, SMP, SMA, dan paling banyak adalah tingkat Mahasiswa. Murid setingkat mahasiswa selalu yang terbanyak, karena selepas dari sanggar ini, tiap peserta mendapatkan sertifikat yang dapat dipergunakan untuk mencari pekerjaan.

Hal ini tak lepas dari pola didik serta materi ujian kelulusan yang sangat ketat. Ujian melalui 3 kali ujian yaitu Ujian Pertama meliputi ujian 3 jenis tarian plus ujian tata rias. Ujian Kedua meliputi ujian 3 jenis tarian plus ujian tata busana, serta Ujian Ketiga meliputi ujian 3 jenis tarian plus cipta tari. Dewan penguji, terdiri dari 3 orang seniman seniwati yang teruji dan mempunyai jam terbang tinggi. Adapun jenis tariannya meliputi tari klasik dan tari modern atau kreasi baru.

Dalam setiap tarian, terkandung cerita yang sarat makna dan petuah bagi manusia seperti Tari Bondan yang sangat populer. Tari ini merupakan tarian “wajib” di Sanggar Trisna Budaya Adi, yang sangat digemari oleh hampir semua peserta didik. Dengan perlengkapan tari berupa boneka bayi, payung dan kendi dari tanah liat.

Tari Bondan ini menceritakan sebuah kejadian di pedesaan, yaitu Sang Ayah sedang bekerja di sawah, Sang Ibu sedang sibuk memasak di dapur, dan Sang Anak Gadis harus membantu ibunya mengasuh adiknya yang masih bayi. Beberapa makna yang terkandung adalah seorang anak wajib membantu orang tuanya, dan megasuh adiknya. Jika si penari dimaknai sebagai ibu, maka tarian tersebut menggambarkan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Jika si penari dimaknai sebagai gadis yang belum menikah, maka tarian itu menggambarkan pembelajaran untuk mengasuh anak kelak.

Gerakan memandikan dan menidurkan bayi, melambangkan kasih sayang yang melimpah ditujukan untuk sang anak dari ibunya.

Payung bermakna bahwa Sang Pengasuh bayi, wajib memberikan perlindungan, kasih sayang yang menyejukkan, sehingga si bayi terhindar dari terik, dan terpenuhi segala kasih sayangnya. Kendi tanah liat. Bagi masyarakat pedesaan, kendi adalah tempat air minum. Kendi ini selalu dibawa kemanapun, sebagai perlambang air suci yang menyejukkan jiwa  dan raga, serta sebagai sumber kehidpuan selalu harus dipegang, dijaga utuh demi kelangsungan hidup keluarga.

Paling unik dan merupakan ciri khas dari Tari Bondan adalah si penari akan mancik kendi  atau berdiri di atas kendi sambil menari. Ini perlu teknik dan latihan khusus dan berulang ulang  supaya kendi tidak pecah. Keseimbangan tubuh penari sangat mutlak diperlukan. Upaya keseimbangan inilah yang menggambarkan bahwa dalam kehidupan manusia harus seimbang, sabar, tekun, khusuk, fokus dan pantang menyerah. Mampu naik lebih tinggi tanpa menghancurkan atau merugikan yang dibawah.

Di akhir tarian, si penari memecahkan kendi yang mempunyai makna bahwa semua masalah pasti dapat dipecahkan atau ada jalan keluarnya.

Dari seluruh adegan Tari Bondan ini, maknanya adalah mengajarkan kepada anak anak untuk mengerti dan memahami pekerjaan perempuan, dimana gerak gerik dalam tarian ini adalah gambaran dari kegiatan keseharian seorang ibu seperti menggendong bayi, memandikan, meninabobokan, menyuapi makanan, dan mengajaknya bermain.

Berita tentang kendi yang tetap utuh walaupun diinjak si penari ini pernah membuat heran seorang dosen dari Australia yang anaknya belajar tari di sanggar ini. Untuk membuktikan dan melihat dengan mata kepala sendiri. Ia datang menemui Baryudi dan “menantang” untuk membuktikannya. Bahkan dengan “taruhan”.  Jika benar Baryudi mancik kendi dan tetap utuh, Baryudi menang. Dengan lancar lan sukses, Baryudi mancik kendi tanpa pecah, bahkan retakpun tidak.

“Rahasia ada di kendi yang belum pernah terkena air, tidak retak, dan teknik manciknya. Jam terbang sangat penting. Setiap penari, harus sering pentas, dimanapun. Agar bisa lebih menjiwai tarian dan luwes. “Hahaha..lumayan menang taruhan...” Baryudi menutup ceritanya.

Penulis : Dwi Ony Raharjo