Tuesday, September 4, 2018

Situs Candi Kantongan Sleman oleh Dwi Ony Raharjo

 Kantongan Triharjo Sleman, Sleman Yogyakarta. Sebuah ornamen bagian dari candi ditemukan di atas pagar jalan kampung. Masih cukup baik. Gurat gurat yang masih sangat jelas dsn bstusn ysng relatif bersih terjaga.
Mungkin erat kaitanyya dengan temuan temuan di wilayah sekitarnya yang relatif dekat dengan situs yang pernah ditemukan di Jumeneng dan Jornggrangan.


Tak jauh dari lokasi ini, terdapat batuan candi yang cukup banyak, digunakan sebagai pondasi rumah. Konon, semua bebatuan itu didapat dari galian jaman Belanda dari sebelah barat makam desa ini.
Galian yang dilakukan Belanda waktu itu untuk mengambil tanah untuk urugan dalam rangka pembuatan jalur kereta api. Pada saat penggalian itulah ditemukan bebatuan candi yang membentuk sebuah bangunan, lumayan tertata dan berbentuk, hingga warga atau orang tua di desa ini menyebutnya dengan candi, karena bentuknya memang seperti candi, pada waktu itu, waktu semuanya masih relatif utuh, tidak seperti sekarang yang telah tidak beraturan.
Aku menyebutnya dengan Candi Kantongan, karena lokasinya di desa Kantongan.















Monday, September 3, 2018

Situs Yoni Kedung Banteng oleh Dwi Ony Raharjo

 Kedung Banteng Moyudan Sleman. Sebuah yoni ditemukan di halaman rumah warga. Yoni yang berukuran 60 x 60 x 30 ini dimanfaatkan sebagai umpak. Sebagaimana instilah yang digunakan untuk menyebutnya sebagai umpak, maka saya rasa pas juga pemanfaatannya. Pada saat ditemukan di sekitar lokasi itu juga, masih relatif utuh beserat ceratnya. Namun saat saya datangi dan melakukan pengukuran, cerat telah patah dan tak tahu dimana letaknya sekarang.
Temuan ini menarik, karena lokasinya yang berada di tengah tangah antara situs terdekat yanag pernah ditemukan yaitu di sekitar wilayah Gamping Sleman di sisi timur, dan beberapa situ yang ditemukan di wilayah Minggir di sisi barat laut, dan keberadaan Sungai Progo yang lurus ke arah barat.
Silahken merangkai rangaki, mereka reka..... bahwa sebuah kehidupan masa lampau pernah berada di sini....







Sunday, September 2, 2018

Sebaran Somorai Margoagung oleh Dwi Ony Raharjo

 Rasanya pantas ku memberinya judul Sebaran Somorai. Beberapa kali blusuk blusuk di daerah Somorai dan sekitarnya, dari temuan temuan batu batu lepas, keterangan dan informasi dari banyak warga, cerita cerita orang tua, lokasi yang berdekatan dengan tempat penampungan benda cagar budaya Seyegan
Walau hanya tinggal beberapa bagian tercecer dari bebatuan yang ada, setidaknya aku berusaha merangkai rangkai bahwa dahulu kala, pernah tercipta sebuah lingkungan kehidupan di tempat ini. Dari Desa Galpuluh yang berbatasan dengan Desa Pituren, Sendang Tirto Guno, Somorai sendiri dan sebuah kawasan yang warga setempat menyebutnya “sawah candi”, dimana dulu pernah dilakukan penggalian dan ditemukan batu batu candi yang cukup banyak, beberapa sudah diamankan, dan sebagian lagi dikubur ditempat. Agak jauh ke utara, di desa Mangunan, menurut data sejarah pernah juga ditemukan batuan batuan candi dan pernah dilakukan penggalian. Kini sudah habis tak tersisa, hanya beberapa bongkah batu yang pernah ku temukan di halaman kosong di dekat pohon bambu.
Di Somorai sendiri menurut keterangan juga pernah ditemukan beberapa yoni dan batuan candi yang cukup banyak pula, namun keberadaannya kini telah entah kemana. Dugaanku, pusat dari semuanya adalah di “sawah candi tersebut, sedangkan desa desa sekitar kusebut di atas, adalah bagian bagian kecil dari pusat yang ada di sawah candi itu.
Mungkin, kalau gak salah, entah, ini hanya praduga kasar orang awam yang suka mereka-reka....


















Saturday, September 1, 2018

Situs Rewulu Kulon oleh Dwi Ony Raharjo

 Pagi yang sejuk. Mendung menggantung di bumi Gamping.  Aku sengaja berangkat pagi karena kepenasaranku terhadap sebuah berita tentang bebatuan peninggalan jaman kerajaan jaman dahulu kala yang lokasinya sangat dekat dengan domisiliku.
Setelah beberapa urusan  selesai, segera ku pacu motorku menuju lokasi tujuan. Lokasi yang sama sekali tak asing bagiku. Sebagai penjual keliling, tentu aku pernah menjelajah tempat itu. Sebuah pasar tradisional yang tak lekang oleh waktu. Dengan aneka barang dagangan dan jamu tradisional yang ternyata sangat mujarab, terbukti dengan ponakanku yang dulunya hampir setiap bulan keluar masuk rumah sakit karna oleh dokter divonis asma, alergi makanan ini dan itu, dan entah apalagi.
Karena mendapat petunjuk  dari seseorang untuk mencoba memberikan ramuan dari pohon inggu untuk mengobati ponakanku, dimana ramuan tersebut hanya di dapat di pasar pasar tradisional, yang kebetulan dekat dengan domisiliku, maka aku serring ke pasar tersebut.
Ternyata, ramuan tersebut terbukti ampuh. Ponakanku sembuh, tak pernah keluar masuk rumah sakit lagi. Yah.... ramuan dari pohon itu ku dapat dari penjual obat tradisional di pasar Bibis, Sidokarto, Godean, Sleman.
Kembali ke rasa penasaranku. Dengan petunjuk seadanya, aku menyusuri setiap relung gang di desa itu. Beberapa kali harus bertanya, dan beberapa kali pula harus bolak balik arah. Setelah berbelok belok di gang gang sempit, sampailah aku di sebuah halaman yang lumayan luas, dengan beberapa pohon tumbuh disana. 
Sebuah batu yoni berukuran sekitar 95 cm x 95 cm, dengan cerat kurang lebih 40an cm, berada di atas sebuah yoni dengan ukuran sedkit lebih kecil, sekitar 60an cm x 60an cm, dengan cerat sekitar 20an, dan badan yoni kecil itu setengahnya terbenam di dalam tanah.
Konon, yoni tersebut telah berada di tempat itu sejak jaman dahulu kala. Tidak ada keterangan dari mana batuan itu berasal.  Tak jauh dari temapat itu, terdapat batu bata berukuran cukup besar sekitar ukuran batako jaman sekarang ( 10 x 20 x 40 ), berjumlah ratusan, serta batu batuan candi yang cukup banyak pula. Kini sudah dipendam lagi, sedangkan arca dan artefak lain yang dinilai lebih berharga dan penting, sudah diamankan.
Dari situ, aku mendapat petunjuk tentang yoni seperti itu di lokasi lain, masih dalam lingkup desa yang sama. Segera ku pamit dan mencari yoni kecil dimaksud. Keluar gang lagi, tengak tengok, dan....nah!!! 
Nampak olehku sebuah batu kotak di kebon. Langsung ke dekati, poto cekrak cekrek, tak lupa ambil meteran. Sekitar 50 x 50, dengan cerat panjang 20an cm. Tinggi yangterlihat di permukaan tanah, sekitar 20an cm. Setelah cukup, aku menemui pemilik lahan. Dari Beliau dapat info lagi tentang batu yang sama, namun berukuran lebih besar. Di desa yang sama pula. Hmmmmm......... aku menarik nafas panjang.......
Pikiranku menduga duga, merangkai rangkai. Ada 3 yoni di lokasi yang cukup berdekatan, ditemukan pula arca dan artefak, batu batu beukuran besar yang berjumlah ratusan serta batuan candi yang cukup banyak pula dan berlokasi sama dengan
batu bata.
Tempat apakah pada jaman dahulu kala? Pada jaman kejayaannya?