Monday, August 20, 2018

Stupa Mulungan oleh Dwi Ony Raharjo

Sekitar 2 bulan sebelum ku tulis kisah ini, aku dengar dari seorang petani tua yang sedang duduk di pinggir jalan melihat anak anak muda melatih burung burung merpati mereka dengan kolongan yang dibuat di tengah persawahan di wilayah Cebongan, Sleman.

Saat ku pulang dari melihat lokasi bakal proyek perumahan, tiba tiba ku merasa tertarik juga untuk melihat anak anak remaja bermain burung merpati. Di seberang jalan, di tempat teduh, seorang petani tua juga melihatnya. Aku hampiri dia, agar ada teman ngobrol. Setelah berbasa basi dan beramah tamah, obrolan mengalir hingga sampai pada bahasan tentang sejarah yang pernah terjadi di masa lampau. Masa kerajaan. Dan obrolanpun kemudian mengerucut pada benda benda purbakala yang masih dapat ditemui di beberapa desa. Sebuah benda yang diyakini merupakan peninggalan jaman kerajaan, yang hingga kini masih tercecer di desa, sawah ataupun sungai, dan tentu saja dengan  cerita cerita mistis yang membalutnya, semakin membuat menarik dan penasaran. Pun juga dengan benda peninggalan sejarah yang kita obrolkan ini.

Batu Gilang. Demikianlah Pak Tani itu menyebutnya. Di sebuah desa bernama Mulungan, terdapat sebuah batu gilang. Batu peninggalan jaman nenek moyang. Entah berasal dari mana, namun batu itu kini terletak di tengah persawahan, tepatnya di pinggir kali. Aku cukup heran. Mulungan dengan Cebongan terpaut jarak yang lumayan jauh. Tapi Pak Tani ini bisa menggambarkan posisi letak yang agak spesifik. Pasti ada sesuatu yang melekat dalam ingatannya tentang batu gilang itu.

“Lha sampun nate wonteng ingkang diweruhi, gedhene sak glugu je Mas. Ireng thunteng niko.....” katanya dalam bahasa jawa. Aku paham. Sangat paham apa yang Beliau maksud.
“Pokoke wingit tenan Mas..... yen salah seleh, kurang bejane ketemu niku.... Ampun dewekan...”katanya lagi. Aku semakin tertarik dan penasaran. Suatu saat harus ku lihat tempat itu.

Dan setelah lebih 2 bulan sejak itu, kemaren aku berhasil sampai ke tempat itu. Sehari sebelumnya, walau aku sudah masuk ke desa termaksud, justru aku terhenti oleh sebuah pemandangan baru untukku. Sebuah batu yang cukup besar, bundar dengan hiasan bunga mengelilinginya. Aku berhenti disitu. Ambil dokumentasi dan ngobrol dengan si pemilik. Aku ingat cerita tentang batu gilang tersebut, dan ku coba mencari keterangan darinya. Dan ternyata benar. Tanpa mengurangi dan menambahi, cerita Pak Tani 2 bulan yang lalu itu sama persis dengan cerita yang baru saja aku dapat. Dengan obyek benda yang sama. Peringatannya pun sama. “Ampun dewekan....” Hmmmmm.....














Saturday, August 18, 2018

The Lost Giant Ganesha Finally Revealed (Jejak Kejayaan Nusantara)


Setelah pada kesempatan pertama dengan sangat terpaksa tak dapat mengikuti expedisi melacak keberadaan arca ganesha yang berukuran sangat besar, aku berusaha menyempatkan waktu untuk setidaknya mengetahui jejak jejak awal setelah arca tersebut ditemukan pada kesempatan pertama yang aku lewatkan. Sangat menyesal. Dan sesalku harus ku bayar walau hanya 5 menit, aku harus berhasil menyentuhnya.

Pada hari Sabtu tanggal 18 Agustus 2018 sekitar pukul 12 siang, dengan ditemani 2 orang kawan senior, aku berhasil  sampai di lokasi tempat arca ganesha raksasa itu berada. Medan yang cukup sulit, dengan jalan setapak yang sangat terjal, beberapa kali harus meletakkan badanku di atas tanah yang menurun tajam, serta berpegangan akar akar pohon, harus ku lalui. Setelah beberapa saat menempuh jalan seperti itu, nampak dari kejauhan sesuatu yang tinggi menjulang. Kami bertiga mendekatinya dan itulah arca ganesha raksasa yang kini dalam keadaan jatuh dari tebing. Rusak? Tentu saja. Namun masih dapat dikenali beberapa bagian tubuhnya. Antara lain kaki kanan dengan sikap duduk bersila, serta tubuh yang sudah tak utuh lagi, namun setidaknya kami bisa mengenali bagian perut dan kepala.

Beruntung saat ini aku sedang menjabat sebagai “mandor kawat”, kerjane kendor tapi mangane kuat. Aku selalu membawa meteran bangunan. Kami mencoba ukur dengan apa adanya seperti yang kami temukan, dengan ditambah perkiraan perkiraan logis. Pertama kami ukur lingkar perut, di bawah pusar. Lingkar perut dibawah pusar, sesuai yang bisa kami ukur adalah 280 + 30 cm = 310 cm. Jika ditambah dengan perkiraan yang tak dapat kami ukur karena perut bagian bawah menyentuh tanah, kurang lebih ditambah 50 cm. Total untuk lingkar perut dibawah pusar adalah 360 cm. Sangat besar.
Sedangkan untuk tinggi arca, kami coba ukur dari mulai posisi arca itu duduk, 100 cm + 180 cm = 280 cm. Berdasarkan batuan arca yang masih tersisa, dan patah. Jika ditembah dengan bagian kepala yang telah hilang/ patah tersebut, lengkap dengan mahkota, diperkirakan mencapai 400 cm lebih. Luar biasa. Sedangkan untuk dudukan arca itu sendiri, sama sekali kami tak dapat mengukurnya karena posisi yang tak terjangkau oleh tangan tangan kecil ini.

Menurut keterangan penduduk, arca ini pada tahun 60an masih berada di atas tebing, dekat dengan sebuah mata air. Namun karena karakter tanah di tempat itu agak kurang stabil, dan terjadi beberapa kali longsor, hingga longsoran itu menggerus bagian bawah arca sehingga mengakibatkan arca tersebut jatuh dari atas tebing dan mengalami kerusakan seperti sekarang ini.
Cukup sulit untuk menormalisasi, karena disamping ukuran yang sangat besar dan beban  yang sangat berat, lokasinyaa pun sangat sulit dijangkau apalagi dengan alat berat.  Mudah mudahan, suata saat dapat terawat dengan lebih baik.

Adapaun tentang arca ganesha itu sendiri, ada beberapa uraian menarik tentangnya. Seperti di bawah ini.

Di dalam agama Hindu, Ganesha termasuk salah satu dewa yang paling populer, di samping Dewa-dewa Trimurti, yakni Brahma (dewa pencipta alam semesta), Wisnu (dewa pemelihara alam semesta), dan Siwa (dewa perusak alam semesta). Sejak bertahun-tahun lalu temuan arca Ganesha dari seluruh Indonesia sangat banyak jumlahnya. Ada yang berhiasan sederhana, ada pula yang kelihatan megah. Hal ini tentu saja disesuaikan dengan keterampilan seniman pembuatnya atau kondisi ekonomi masyarakat sekitar.

Ganesa atau Ganesha adalah dewa berkepala gajah. Di kalangan masyarakat Hindu, Ganesha dianggap setengah manusia dan setengah dewa. Peranan Ganesha begitu penting karena dia adalah anak Dewa Siwa. Masyarakat Hindu percaya Ganesha merupakan dewa ilmu pengetahuan. Maka di banyak tempat, termasuk di Indonesia, sampai sekarang masyarakat Hindu sering membangun kuil berisi Dewa Ganesha. Konon hal ini dimaksudkan agar anak-anak yang dilahirkan menjadi pintar dan berbakti kepada orang tua.
Sebagai dewa ilmu pengetahuan, Ganesha selalu mengundang kekaguman para pakar ikonografi (pengetahuan tentang seni arca kuno) karena bentuk, gaya seni, dan langgamnya yang berbeda-beda. Namun ciri utama Ganesha tetap sama, yakni memiliki belalai yang sedang mengisap isi mangkok dalam genggaman tangan depannya.

Mangkok tersebut, menurut mitologi Hindu, berisi cairan ilmu pengetahuan yang tidak habis-habisnya walaupun diisap terus-menerus olehnya. Hal inilah yang kemudian diidentikkan dengan ilmu pengetahuan, yang tak pernah habis digali dan tak pernah henti digarap. Mungkin, hal demikianlah yang diharapkan dari para manusia.
Karena popularitas Ganesha sangat tinggi, dia juga dipuja sebagai dewa penyingkir segala rintangan, baik gangguan gaib (magis) maupun gangguan fisik. Ganesha semakin dipuja karena dia memiliki sahabat karib tikus. Sang tikus kemudian dijadikannya sebagai wahana (= kendaraan tunggangan). Karena itu dalam pengarcaannya Ganesha selalu menunggang tikus (musaka). Musaka merupakan simbol dari keangkuhan diri. Jadi diharapkan musaka itu akan berperan sebagai pengendali dari keangkuhan seseorang.
Sering diartikan pula bahwa tikus sesuai dengan sifat Ganesha. Tikus dapat melewati segala rintangan di lokasi mana pun, seperti di dalam rumah, sawah, dan selokan. Begitu pun yang diharapkan dari Ganesha, karena gajah mampu mendobrak segala pepohonan di hutan dengan tubuhnya yang gagah dan kuat. Pepohonan diibaratkan berbagai masalah besar.
Menurut para arkeolog di zaman Hindia Belanda seperti W.F. Stutterheim dan R. Goris, pemujaan secara khusus kepada Ganesha (dinamakan Ganaphati), banyak dilakukan masyarakat kuno di Jawa dan Bali. Tafsiran ini didasarkan atas banyaknya temuan arca Ganesha di sejumlah situs arkeologi. Uniknya, pemujaan sejenis kepada dewa-dewa lainnya tidak pernah ditemukan. Kemungkinan dewa-dewa lain kurang memperoleh perhatian dari masyarakat kuno karena peranannya dianggap kecil.

Mitologi
Sebagai salah satu dewa terkemuka dan banyak pemujanya, Ganesha banyak dikupas sejumlah sumber kuno. Versi yang paling dikenal terdapat dalam kitab Smaradahana.
Dikisahkan, suatu ketika Kadewataan akan diserang oleh para raksasa pimpinan Nila Rudraka. Karena para dewa tidak mampu menghadapi para raksasa itu, mereka bersepakat untuk meminta bantuan kepada Dewa Siwa yang ketika itu sedang bertapa. Setelah berunding, mereka menunjuk Dewa Kamajaya untuk membangunkan Dewa Siwa dari pertapaannya itu. Ternyata, Dewa Siwa sulit untuk dibangunkan. Dengan terpaksa Dewa Kamajaya mengeluarkan senjata andalannya, yakni panah pancavisaya. Senjata ini terkenal sangat ampuh untuk membangkitkan birahi dan rasa rindu. Setelah terkena panah itu, Dewa Siwa pun rindu kepada isterinya, Dewi Uma, yang berada di Kadewataan. Akhirnya, Dewi Uma hamil.

Suatu saat, para dewa menghadap Dewa Siwa untuk mengabarkan bahwa tentara Nila Rudraka hampir mendekati Kadewataan. Di antara para dewa itu terdapat Dewa Indra yang menaiki gajah Airavata yang gagah dan super besar. Tanpa disangka, Dewi Uma yang sedang hamil tua sangat ketakutan melihat gajah itu sehingga dia jatuh pingsan.
Setelah saatnya tiba Dewi Uma pun melahirkan anak tepat seperti ucapan Dewa Siwa, yakni berkepala gajah dan berbadan manusia. Anak itu lalu diberi nama Ganesha, dimaksudkan agar segera mempunyai kekuatan yang luar biasa untuk mengalahkan para raksasa jahat. Ketika dilibatkan dalam peperangan, mula-mula Ganesha mengalahkan para tentara raksasa. Seluruh musuh para dewa itu dilibasnya dengan mudah. Setelah semuanya mati, Ganesha tinggal berhadapan langsung dengan pimpinan tentara raksasa jahat, yaitu Nila Rudraka.

Duel yang maha dahsyat pun terjadi di antara keduanya. Semakin sengit duel itu, ternyata tubuh Ganesha semakin besar. Pada suatu ketika Nila Rudraka berhasil mematahkan salah satu gading Ganesha. Sambil memegangi patahan gadingnya lalu Ganesha mengeluarkan senjata andalannya, yaitu parasu (kapak pendek). Dengan senjata itu akhirnya Ganesha dapat membinasakan Nila Rudraka.
Sesuai mitologi ini maka dalam pengarcaannya Ganesha selalu ditampilkan memegang patahan gading di salah satu tangannya dan parasu di tangan yang lain. Dua tangan lainnya memegang aksamala (tasbih) dan mangkok. Dengan demikian Ganesha bertangan empat, sebagai pertanda bahwa kemampuan Ganesha melebihi manusia biasa.

Rupa-rupanya penganut Ganesha memiliki berbagai aliran. Ini terlihat ketika para seniman tidak selalu konsisten dalam memahat arca Ganesha. Yang paling jelas terlihat pada gadingnya, sebagaimana temuan di sejumlah candi. Ada yang patah di sebelah kanan, ada yang di sebelah kiri, dan ada pula yang keduanya tidak patah. Namun yang paling banyak dijumpai pada situs-situs arkeologi adalah Ganesha bergading satu (disebut ekadanta). Selain itu, sikap Ganesha pun digambarkan berbeda-beda. Sebagian seniman menggambarkannya dalam sikap duduk. Sebagian lagi melukiskannya dalam posisi berdiri. Ini pun memiliki beberapa variasi, seperti berdiri dengan kedua kaki dan berdiri di atas satu kaki. Secara panjang lebar arkeolog Edi Sedyawati pernah membahas topik ini dalam disertasinya “Pengarcaan Ganesa Masa Kadiri dan Singhasari: Sebuah Tinjauan Sejarah Kesenian” (1992).

Ternyata Ganesha bukan saja dipuja sebagai dewa ilmu pengetahuan dan penyingkir segala rintangan, tetapi juga sebagai dewa kebijaksanaan dan kesenian. Di negara asalnya, India, Ganesha juga dipandang sebagai dewa keberuntungan dan kemakmuran karena dalam penggambarannya Ganesha memerlihatkan perut yang besar. Kini nama Ganesha sudah demikian populer karena banyak dipakai oleh lembaga atau perusahaan di Indonesia. Institut Teknologi Bandung (ITB) menggunakannya sebagai lambang atau logo. Banyak perusahaan menggunakannya sebagai merk dagang. Tampaknya fenomena Ganesha tak pernah pudar.

Diciptakan Parwati, Dibunuh Siwa
Menurut Kitab Siwa Purana, pada suatu hari Dewi Parvati—isteri Dewa Siwa—ingin mandi. Karena tidak ingin diganggu, maka dia menciptakan seorang anak laki-laki yang diberi nama Ganesha. Dia berpesan kepada Ganesha agar tidak mengizinkan siapa pun masuk ke rumahnya saat Dewi Parwati mandi. Dia pun hanya boleh menuruti perintah Dewi Parwati. Pesan dan perintah tersebut dilaksanakan dengan baik oleh Ganesha. Syahdan Dewa Siwa suami Dewi Parwati pulang dan hendak masuk ke rumahnya. Namun ia tidak dapat masuk karena dihadang oleh si anak kecil itu. Ganesha melarangnya karena dia melaksanakan perintah Dewi Parwati.

Dewa Siwa menjelaskan bahwa ia suami Dewi Parwati dan rumah yang dijaga Ganesha adalah rumahnya juga. Namun Ganesha tetap tidak mau mendengarkan perintah Dewa Siwa. Ini sesuai dengan perintah ibunya untuk tidak mendengar perintah siapapun. Dewa Siwa kehilangan kesabarannya dan bertarung dengan Ganesha. Pertarungan amat sengit sampai akhirnya Dewa Siwa menggunakan Trisulanya dan memenggal kepala Ganesha. Saat Dewi Parwati selesai mandi, ia menemukan putranya sudah tak bernyawa. Mengetahui putranya dibunuh oleh Dewa Siwa, ia menjadi amat marah dan menuntut agar anaknya dihidupkan kembali.

Dewa Siwa tersadar akan perbuatannya dan ia menyanggupi permohonan istrinya. Dewa Siwa kemudian menemui Dewa Brahma menceritakan kejadian tersebut. Atas saran Dewa Brahma, Dewa Siwa mengutus abdinya, Gana, untuk memenggal kepala makhluk apapun yang dilihatnya pertama kali yang menghadap ke utara. Ketika turun ke dunia, Gana mendapati seekor gajah dengan kepala menghadap utara. Saat mengetahui kepalanya akan dipenggal sang gajah melawan hingga salah satu gadingnya patah. Namun kepala gajah itu pun akhirnya dapat dipenggal dan digunakan untuk menggantikan kepala Ganesha. Akhirnya Ganesha dihidupkan kembali oleh Dewa Siwa.

Kepala Pemuda Tampan
Kelahiran Ganesha, menurut versi lain, dilatari oleh permintaan Indra dan para dewa, agar Siwa menciptakan tokoh yang dapat mengalahkan raksasa yang ingin menguasai tempat tinggal para dewa. Kemudian Siwa mengerahkan salah satu kekuatannya dalam ujud seorang pemuda tampan yang lahir dari rahim Parwati. Pemuda tersebut diberi nama Vighneswara (Penyingkir Rintangan). Kelak dia diperintahkan untuk mengalahkan para raksasa.

Parwati sangat bangga akan ketampanan putranya. Maka dia mengundang para dewa untuk memamerkan putranya itu. Semua dewa memandang kagum kepada Vighneswara. Kecuali Sani (Saturnus), dia tidak mau memandang Vighneswara karena membawa kutukan isterinya. Konon, apa saja yang dipandangnya akan berubah menjadi abu. Meskipun sudah menolak, Parwati tetap meminta Sani memandang putranya. Akibatnya kepala Vighneswara hancur menjadi abu. Parwati pun sangat berduka. Kemudian Brahma menghibur Parwati dan berjanji memulihkan kepala putranya dengan makhluk pertama yang dilihatnya. Makhluk pertama yang dijumpai Brahma adalah seekor gajah.

Ganesha sangat populer dan banyak pemujanya, terutama dari sekte Ganapatya. Ganapati adalah nama lain Ganesha dalam kedudukannya sebagai pimpinan para gana. Gana adalah makhluk kahyangan yang termasuk di dalam kelompok pariwara kecil yang bertugas sebagai pasukan pengawal Siwa. Dalam cerita wayang, Ganesha disebut Bhatara Gana. Sebagai dewa yang cukup populer, Ganesha mempunyai banyak nama. Yang terkenal adalah Ganapati (pemimpin para gana), Ekadanta (hanya memiliki satu gading), Lambodara (berperut gendut), Vighneswara (berhasil menghalangi segala rintangan dan kesulitan), dan Heramba (bertangan delapan). [Djulianto Susantio]

Sumber, antara lain:
Arca Dewa-Dewa Hindu Koleksi Museum Nasional, Museum Nasional, 2002.
Dewa-Dewi Masa Klasik Jawa Tengah, BP3 Jawa Tengah, 2009















Wednesday, August 15, 2018

Candi Kalongan


Candi ini  terletak tepat di desa Kalongan, sebelah selatan Candi Sojiwan. Di desa ini terdapat cukup banyak bebatuan candi yang kini ditumpuk  dijadikan pagar jalan di dalam desa tersebut.  Sebagian masih cukup banyak tergeletak di halaman warga. Dan saat penulis mencoba berkeliling, juga ditemukan batu batu bagian dari candi yang tergeletak di pekarangan.
Entah dahulunya desa ini juga ditemukan sebuah candi atau tidak, penulis tidak mendapat informasi. Namun melihat lokasi yang sangat berdekatan dengan Candi Sojiwan, kemungkinan bahwa adanya sebuah candi di desa tersebut rasanya cukup masuk akal. Atau.....
Entahlah.....









Monday, August 13, 2018

Yoni Rogocolo, Makam Kanjeng Raden Tumenggung Secodiningrat (1760-1831) oleh Dwi Ony Raharjo

Nama Tionghoa pangeran Setyodiningrat adalah TAN JING SIN dan inilah sejarah hidup beliau.  Hal-ikhwal yang mencuat dalam latar belakang protagonis ceritera ini adalah semangat pembaurannya. Pergaulan luasnya dengan orang berbagai etnis, cintanya yang sama terhadap budaya berpusparagam - Kanjeng Raden Tumenggung Secodiningrat (1760-1831) merupakan yang barangkali dapat menjadi contoh layak untuk bangsa Indonesia sehubungan upayanya mengukuhkan tersusunnya persatuan di antara para warganya dalam rangka menyadarakan secara maujud cita-cita mulia reformasi ibu pertiwi kita.
Niscaya ketika masih kecil, dikenal dengan nama Tan Jin Sing, lantas menjadi wiraswastawan sukses yang sewaktu berusia 30 tahun, mencapai pangkat Chinesche Kapitein (Kapten Cina) di Kedu, Jawa Tengah. Beberapa tahun kemudian, menjabat dengan pertanggungjawaban serupa di Yogyakarta. Lantaran sudah terjun dalam kancah politik, demikianlah mempertaruhkan jiwa serta hartanya, membantu Pangeran Suroyo dan Sri Sultan Raja memperoleh kenbali singgasana kiani Ngayogyakarta Hadiningrat, lalu dinobatkan dengan gelar Khalifah Ngabdurrachman Sri Sultan Hamengkubuwono III. Sesudah itu, Kapten Tan Jin Seng dilantik sebagai pembantu utama diraja dengan gelar rudah keningratan Raden Tumenggung Secodiningrat, walaupun masih mempertahankan kedudukannya sebagai Kapten Cina Yogyakarta.


Akibatnya, K.R.T. Secodiningrat sepanjang hidupnya dianggap orang Jawa, Tionghoa maupun Eropa seorang keturunan Tionghoa, suatu praduga rancu yang hingga dewasa ini masih dianut sebahagian rakyat jelata Jawa.

Sementangpun, keunikan riwayatnya, yaitu bahwa K.R.T. Secodiningrat dilahirkan di desa Kalibeber, Wonosobo, dalam keluarga berkulasentana Jawa dan, oleh karena ayahnya wafat ketika masih menjejaki masa kanak-kanaknya, lantas diangkat anak oleh Tek Yong yang sangat akrab dengan kulawangsanya. Ibunya R.A. (Raden Ayu) Patrawijaya, salah satu putri R.M. Kunting, keturunan ke-tiga Sri Paduka Sunan Mataram Mangkurat Agung (Tegal Arum), dari ibunya belajar tata-istiadat dan kromo inggil/bagongan Kraton Jawa sentiasa tanpa mengetahui sedikitpun identitas sebenarnya wanita yang begitu menyayanginya. Dari keluarga angkat Tionghoanya, mengkaji resam-rasam serta bahasa tamaddun Cina. Bahasa Melayu dan Jawa madya/ngoko terserap melalui percakapan sehari-hari dengan kawan- kawan dan para pembantunya.

K.R.T. Secodiningrat bisa menyesuaikan diri dengan mudah ke dalam tiga dunia, yakni: Tionghoa, Jawa dan Eropa Barat, orang Barat yang mengenalnya sebagai karib atau musuh mengakui tingkat tinggi kedhyaksaan dan kepandaiannya. Orang-orang Tionghoa bergagasan K.R.T. Secodiningrat mempunyai bakat dalam hal memadukan antara kepiawaian Cina dan unggah-ungguh (sopan-santun) Jawa. Adapun mereka yang tidak senang kepadanya, acapkali menyindirkannya dengan ungkapan berlanggam senada: "Cino wurung, Jowo tanggung, Londo pun durung" atau dengan kata lain, Cina ya tidak lagi, Jawa ya tanggung, jadi Belanda pun belum. Sebagai Bupati Yogyakarta, K.R.T. Secodiningrat berusha keras agar Kesultanan ini dapat maju dan jadi makmur, namun manakala mulai menunjukkan tanda-tanda sukses, terjadinya gejolak-gejolak politis mengganggu-gugat sebagian banyak upaya rajinnya.


Semenjak tahun 1798, Inggris sudah terlibat perang dahsyat melawan Perancis di bawah kuasa Napoleon Bonaparte, pertempuran-pertempuran konon siap membentang ke Asia. Kerajaan Belanda telah menyerahkan diri pada Perancis, alhasil, Hindia Belanda Timur yang saat itu dipimpin Gubernur-Jenderal Willem H. Daendels, sesuai ketentuan syah wajib menyerah pada hak kedaulatan wilayah Perancis. Letnan- Jenderal koloni Permukiman Perselatan yang berpangkal di Melaka, semenanjung Melayu, Sir Thomas Stamford Raffles, langsung diberi prerogatif memprakarsai dan melaksanakan pengambilalihan lekas pulau Jawa, pusat nadi operasi militer-ekonomis Belanda, karena orang Inggris khawatir balatentara-balatentara Perancis dapat mendarat di sana terlebih dahulu. Demikianlah seluk-beluknya, suka atau tidak,kawula Yogyakarta diharuskan menentangkan petualangan bersenjata Inggris yang dinanti-nantikan, sementara itu K.R.T. Secodiningrat berikhtiar sebisa mungkin guna meraih kesepakatan berdamai antar Kesultanan Yogyakarta dan penguasa Inggris.

Percobaan ini malah tersia-sia, semenggahnya terjadi karena pencegatan pesuruh R.T. Secodiningrat kepada Sir Raffles, akibat intrik bertele-tele dalam lingkaran istana, ditopang penguasa administratif Belanda tertentu yang hendak mempertahankan kuasanya...peristiwa ini didahului dan disusul pelbagai kejadian tragis, seumpamanya asasinasi Patih Danurejo II yang dianggap telah mengkhianati Sultan Raja, meskipun kalau perbuatan hina ini tentu saja memedihkan hati Yang Mulia yang sendirinya akan menemui nasib semacam itu, di mana dima'zulkan dari singgasana kianinya, dikarenakan pertengkaran intern di lingkungan astana. Mulai kala itu, demi keselamatan Sultan Raja mengambil keputusan turun takhta dengan mengembalikan mahkota kepada Sultan Sepuh yang tidak ayal lagi, menerimanya dengan sukacita. Segenap hak luar biasa Pangeran Suroyo dilucutkan dan Sultan yang baru naik takhta menunjuk Pangeran Mangkudiningrat, putra ke-11 dari permaisurinya, Ratu Hemas, sebagai wakilnya.

K.R.T. Secodiningrat amat menghelaskan kerama ini karena anggap kezaliman Sultan Sepuh itu berkukarma,  sebagaimana terlihat jelas dari perlakuannya yang keji terhadap kaum menak baik terhadap wong cilik, berjanji kepada Pangeran Suroyo bahwa dirinya akan mengatasi masalah serba sulit ini. Isbat, ketabahan teguhnya mendapat pahala dengan penobatan kembali Sultan Raja seusai mangkat mandat Inggris atas pulau Jawa.

Di kelak hari, pada usia lebih lanjut, sebuah pagelaran wayang kulit sedang dipentaskan di kediaman K.R.T. Secodiningrat yang menjudulkan secara tematis wiracarita tokoh pelaku utama-pahlawan Bima, terkenal untuk kejujuran dan watak ksatryanya, setelah terima wejangan dari Maharesi Durna - ustadnya, supaya mencari tirta amarta (air suci) kehirupan. Selama tamasyanya yang penuh akan mara dan rintangan, Bima terhimpit membanteraskan lawan makhluk bangsat yang terpaksa harus dibasmi. Akhirnya, Bima menyeberangi samudra dan sehabis mengadu seekor naga beringas, bertemu dengan manusia kerdil bernama Dewa Ruci yang kemudian memerintahkan Bima yang berperawakan besar masuki tubuh kecilnya lewat liang kupingnya. Dalam badan Dewa Ruci, Bima menjumpai berbagai macam gejala, warna, pola dan ujud; Satu per satu yang Dewa Ruci menerangkan.

Dari perbincangan ini, Bima akhirnya memahami apa itu makna berintisari kehidupan dan kepentingan mawas diri. Dengan rendah hati, Bima menyampaikan rasa terima kasihnya yang setulus-tulusnya kepada Dewa Ruci. Makhluk kecil ini dikagumi lantaran mengetahui semua tentang rahasia kehirupan, kebijaksanaan, ketenteraman dan teka-teki kebahagiaan langgeng, segera sesudahnya, Dewa Ruci menghilang dari layar sebeng pewayangan.

Kini, K.R.T. Secodiningrat nyampang sadar bahwa ibarat mencari tirta amarta itu dimaksud sebagai lambang perjuangan insan dalam hal mendambakan ketenteraman dan kebahagiaan abadi, apa yang pada hakekatya sesuatu yang ditemukan dalam diri batin seseorang. Namun untuk menggapai jajaran dasar guna sedemikian, mutlak perlu agar seorang mengekang dan mengendalikan indra pencium, pendengar, perasa, peraba dan pelezat. Manakala seberhana indra ini dikuasai, seseorang tidak mudah terimbit oleh alam fana loka ini yang gelap gulita. Oleh sebab itu yang jasmaniah bisa sepadan dan bergabung dengan yang rohani, selanjutnya memperbolehkan perhubungan langsung dengan yang Maha Tunggal - Tuhan.

10 mei 1831, jam menunjukkan pukul 6 dinihari, almarhum K.R.T. Secodiningrat dimakamkan di Rogocolo, Mrisi, acara penguburan itu dihadiri ribu-ribuan pelayat.
Adapun keturunan K.R.T. Secodiningrat atau Tan Jin Sing, dalam kurun waktu satu setengah abad telah membuahkan dua golongan, yakni Jawa dan Tionghoa; Raden Dadang menggantikan ayahnya baik sebagai Kapten Cina dan Bupati, kelak menyandangkan gelar R.T. Secodiningrat II; Seperti diizinkan tradisi Islam, mempunyai tiga istri: (1) wanita Tionghoa Peranakan setempat dengan sebutan Nyonya Kapitein, (2) wanita Jawa bergelar Mas Ajeng Secodiningrat (3) seorang wanita Jawa yang disapa Raden Nganten Secodiningrat. Salah satu putri Raden Dadang - B.R.A. Kumaraningrum (Putri Bhe Siu Kai) menikahi Pangeran Mangkusuno dari Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Sebermulanya, sehubungan bujukan residen Belanda yang mewakili administrasi Hindia Belanda Timur, terhadap diri Sri Sultan Hamengkubuwono VI, semua warasa syah K.R.T. Secodiningrat dianjurkan olehnya memindahkan tanah warisannya pada Kesultanan, lagi pula akan diberi ganti rugi finansial sebesar f 7.800 per tahun, atau f 650 per bulan. Jika jumlah ini digabungkan sama ganti-ganti kerugian atas tanah-tanah di luar keresidenan Yogyakarta yang telah diterima
K.R.T. Secodiningrat sejak tahun 1824, maka jumlah senilai f 1.500 per bulan mungkin dibagi-bagi antara segenap ahli warisnya. Persetujuan ini tertera dalam Akte Notaris no. 57 tertanggal 24 april 1861.


Dalam risalat singkat ini riwayat K.R.T. Secodiningrat (Tan Jin Sing) dikissahkan, seseorang melihat bahwa dirinya telah berhasil pada zamannya melakukan apa yang dewasa ini jadi angan-angan dan dianggap sangat genting bagi masa depan proses pembangunan wawasan kebangsaan Indonesia, yaitu pembauran yang merupakan alur berjalur ganda di mana baik mazhab integrasi dan peleburan (asimilasi) dipandang sama, tidak salah satu pun di antaranya dapat melebihi yang lain, tidak satu pemerintah pun disahkan menimbrung dalam hak azasi seorang manusia untuk hidup sesuai pilihannya asalkan serasi dengan kesusilaan baik yang tercantum dalam Undang-Undang. Sebelum pemasukan dan pemberlakuan susunan hukum semi-aparteid oleh Pemerintahan kolonial Belanda sedari akhir Perang Jawa yang sangar, seantero pulau Jawa memang masyarakat amat kosmoplitan di mana terdapat rasa kesetiakawanan kuat warga masyarakat yang berlatarbelakang, beragama dan berketurunan etnis majemuk.
Ada yang menarik di komplek makam ini. Keberadaan dua buah yoni berukuran sedang, yang diletakkan masing masing di samping kiri dan kanan menghadap pintu gerbang makam utama yang diletakkan paling tinggi tersebut. Konon, pada jaman dahulu, masyarakat sekitar memeluk agama hindu, dan yoni tersebut adalah merupakan peninggalan pada jaman itu.