Waktu itu, aku harus ke rumah temanku di daerah Temanggung untuk sebuah keperluan.
Karena musim yang tak pasti, kadang hujan dan kadang terang, aku berangkat
pagi, dari Jogja langsung menuju Temanggung. Karena menghindari keramaian dan
kemacetan, selepas Magelang ku ambil jalur alternatif yang biasa ku lewati.
Tiba di sebuah pasar, tak sengaja ku lihat papan penunjuk arah. Disana tertulis
Candi Selogriyo. Hmmmm....baru perhatian sekarang. Oke. Mumpung masih agak
pagi, aku harus selesaikan urusanku di Temanggung dan pulangnya mampir ke candi
ini. Segera ku pacu kudaku, melewati gunung dan lembah.
Sebenarnya di Temanggung juga ada candi yang ingin ku
kunjungi, Candi Pringapus. Tapi jika hari itu ku klunjungi Pringapus dulu baru
kemudian Selogriyo, pasti sampe Jogja kemaleman. Itupun kalau tidak huja. Ya
sudah......Pringapusnya entar sajalah. Kapan kapan. Walaupun sebenarnya tak
begitu jauh dari rumah temanku itu.
Selesai urusan di Temanggung, segera ku pacu kudaku menuju
pasar tempat papan penunjuk arah Candi Selogriyo. Ku ikuti petunjuknya. Jalan
berkelok kelok, sawah terhampar di kiri kanan jalan. Indahnya....
Sudah cukup jauh ku berjalan, namun belum ketemu juga papan
penunjuk arah berikutnya. Terpaksa ku cari warung terdekat, beli rokok dan
bertanya lokasi candi dimana.
“Lho.....sampeyan keliwatan Mas....itu di tikungan belakang
itu kan arah candi.” Kata ibu ibu. Aku balik arah dan berhenti di tempat yang ditunjukkan.
“Pantes.....tulisane njepit!” batinku. Kebetulan ada ibu ibu
lagi di tempat itu.
“Bu, candine tebih?” tanyaku. (tebih, jawa alus. Adoh, jawa
ngoko. Jauh, bahasa Indonesianya)
“Wo lha wonteng nginggil mriko. Gunung!” jawabnya sambil
jarinya ditunjukkan ke atas.
“Wuh....adoh tenan iki berarti....” aku mengeluh dalam hati.
Tapi, kepalang tanggung. Dah sampe sini!
“Ikuti dalan ini Mas, nanjak, nanti ketemu kampung, terus
nanjak lagi, terus.....” Ibu ibu itu memberiku petunjuk.
“Sik...sik Bu......ngagem motor saget dugi candine?” aku
berusaha meyakinkan bahwa jalan yang akan ku tempuh aman.
“Dalan setapak Mas.....bisa tapi sulit.” Jawab ibu ibu itu.
“Hah!!!! Sulit adalah nama depanku!” kataku dalam hati. Tak
mau menunggu lama, aku segera pamit dan menuju lokasi. Dan benar.
Dari jalan utama, jalan menanjak dan berkelok kelok.
Melewati kampung dan sawah sawah. Ku lihat di beberapa tempat tertulis “tempat
parkir mobil/motor” di kampung kampung itu. Tapi aku tak mau menyerah. Harus
sampai lokasi bersama dengan kudaku.
Jalanan makin sempit. Aku telah sampai di desa terakhir. Ada
sebuah jalan berkonblok. Hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua. Jalan
menuju candi. Ku telusuri, dan..jreengg....gapura selamat datang di candi
selogriyo sudah terlihat. Ku bayar retribusi dan melanjutkan perjalanan.
Jalan setapak, berkelok kelok, terjal, turunan dan tanjakan
ku lalui. Tiba di sebuah perigaan kecil. Ki kiri menanjak menuju ke candi, ke
kanan menurun menuju kampung (kok yo ono kampung neng kene, batinku).
Disitu aku harus berhenti. Karena dari atas, jalan menuju
candi itu, beberapa orang sedang berusaha menurunkan kayu menggunakan gerobak
kecil yang ditarik bersama sama. Mereka terperosok. Bila perhitungan mereka
meleset sedikit saja, itu gerobak yang penuh dengan muatan kayu akan meluncur
ke bawah, menabrak aku dan kudaku. Aku
pun ikut berdoa untuk keselamatan semuanya waktu itu.
Setelah semuanya selesai, kayu dan gerobak kembali dalam
kendali, ku teruskan perjalanan. Masih naik dan jalan setapak. Konblok yang ada
kini sudah mulai berlumut karena air dan teduhnya pepohonan. Harus lebih
waspada. Terus ku berjalan, jalan konblok sudah habis, tinggal jalan tanah.
Kiri dan kanan pegunungan. Cukup indah, karena ku lihat ada satu dua orang di
sawah. Jika tak ada siapapun disana, tentu saja tidak menjadi indah. Terus ku
berjalan dan akhirnya tiba di sebuah tempat, jalan buntu, sangat teduh karena
pohon dan tebing gunung, dan disana berdiri gapura lokasi Candi Selogriyo. Tempat
parkir yang dijaga oleh beberapa anak muda. Leganya........ kurang lebih jalan
setapak dari desa terakhir (tempat bayar karcis, gapura pertama) sampai lokasi
ini sejauh 2kilometer.
“Dik....naiknya jauh?” tanyaku pada mereka saat ku lihat
dibelakang gapura itu berundak undak cukup tinggi.
“Lumayan Mas....” jawab mereka. Kepalang basah, keluhku dalam
hati. Satu persatu tangga dari semen itu
ku daki. Pelan pelan tapi pasti. Mendekati lokasi candi, tangga naik semakin
terjal. 45 derajat kemiringan. Gila!!! Apa boleh buat. Dengan kerja keras
banting tulang, aku berhasil masuk ke lokasi candi. Terdapat semacam pos dari
kayu disana, tanpa permisi ku duduk disitu, meluruskan kaki kakiku, mengatur
nafasku. Haus melanda. Tenggorokanku kering. Aku menyesal tak membawa air minum
dari bawah. Ku lihat ada petugas sedang bersih bersih.
“Pak, ada warung?” tanyaku yang menurutku sendiri adalah
konyol. Mana ada di lereng gunung nan sepi sunyi seperti ini ada warung.
“Ada Mas, disebelah candi!” jawabnya. Bagai disiram air
pegunungan nan segar, jawaban itu melegakanku. Segera ku berlari ke warung.
Buka, tapi tak ada orang.
“Kulonuwun......!” sapaku sambil ku ambil botol mineral
tanpa peduli empunya warung dengar atau
tidak. Cleguk....cleguk....
segarrrrrrrrr.......
“Iya Mas....”bapak bapak pemilik warung keluar setelah ku
minum beberapa teguk.
“Nyuwun toyane Pak...” sambil kutunjukkan botol yang telah
ku minum setengah.
“Ngapunten Pak, selak ngelak....” kataku kemudian.
“Njih Mas, monggo...... saking pundi?” pemilik warung ramah
juga ternyata.
“Jogja Pak...” jawabku. Setelah selesai beramah tamah dengan
pemilik warung, segera ku ke lokasi candi, ngobrol dengan petugaas.
Candi Selogriyo merupakan candi peninggalan purbakala yang
letaknya di Kecamatan Windusari,
Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, tepatnya di dusun Selogriyo. Candi ini
diperkirakan dibangun pada abad ke-9 M, pada masa Kerajaan Mataram Kuna. Candi
ini berada di lereng timur kumpulan tiga bukit, yakni Bukit Condong, Giyanti,
dan Malang, dengan ketinggian 740 mdpl. Aku gak habis pikir kenapa mereka
mereka membangun candi di lokasi ini. Sangat terpencil, terjal dan rawan
longsor. Candi sekarang masing diberi
sabuk penyangga, karena konon candi ini sudah agak miring, sehingga akan sangat
mudah roboh apabila tidak ditahan dengan tali untuk mengikat candi agar
bebatuan yang tersusun tetap dapat saling berhimpit dan mengait.
Telah hilang penat. Air minum sudah habis. Tiab tiba aku
dikejutkan oleh sebuah pemandangan yang sangat menakjubkan. Setidaknya buatku.
Saat masih melepas lelah dan menikmati lereng lereng pegunungan di seputaran
candi, aku dikejutkan dengan suara orang mengeeluh.
“Huufftt.....finally......” seorang ibu ibu usia lanjut,
sekitar 70 tahunan perkiraanku, muncul dari sebelah kiri tempatku bersandar.
Tepatnya, dari mulut tangga menuju candi ini dari bawah. Itulah satu satunya
jalan. Tak lama kemudian muncul lagi seorang ibu ibu, usia hampir sama dengan ibu
ibu yang pertama datang. Dia berhenti di
mulut tangga.
“Wong londo....” batinku. Aku langsung beranjak untuk
menolongnya. Tampak dia berhenti
membungkuk, tangan kanan memegang lututnya, sedangkan tangan kirinya
berpegangan pada pagar tangga.
“May I help You Mam....” tangan kananku ku ulurkan, meraih
tangan kirinya dan tangan kiriku meraih punggungnya. Dia tersenyum melihatku.
“Thank you...” jawabnya sambil mengatur nafasnya. Sedangkan
ibu ibu yang sudah tiba duluan tadi ku lihat sudah duduk di tempatku duduk
tadi. Ku bawa dia menuju tempat temennya itu. Ku biarkan mereka istirahat
sebentar. Aku tidak tega untuk segera bercakap cakap untuk beramah ramah,
karena mereka terlihat sangat kelelahan. Ku tawarkan air minum cadanganku, tapi
mereka menolak. Mereka sudah mempersiapkannya pula. Kini dihadapaku ada 2 orang
ibu ibu dari luar negeri, yang dengan susah payah sampai ke Candi Selogriyo,
yang aku sendiri sudah kapok. Gak mau lagi ke tempat ini. Jauh.... capek...
terpencil... di gunung pula.
Setelah mereka berkeliling mengamati candi dan menikmati
pegunungan, rasa penasaranku yang sejak tadi kupendam kini mucul lagi.
“Hi Mam, where are you come from?” tanyaku. Ku terjemahkan
dalam bahasa Indonesia saja ya. Aku ngerti bahasa inggris kalian pas-pasan. Hehehe.....
“Turkmenistan.” Jawab ibu ibu itu hampir berbarengan. Hmmm....
pecahan Sovyet, batinku.
“Sudah berapa lama disini?” tanyaku lagi.
“Kami disini untuk 3 hari.” Jawabnya.
“Sudah kemana saja?”
“Kami baru ke Borobudur saja. Besok kami ke Prambanan, dan
lusa sudah kebali lagi ke negara kami.”
“Lho...mengapa gak ke Dieng saja? Disana candi banyak, tua,
hawanya sejuk..” kataku. Mereka menggeleng gelengkan kepalanya. Seperti kebingungan.
“Oya? Wah sangat menarik. Tapi kami gak tahu tentang Dieng.”
“Loh....loh.... sampeyan sampeyan gak tahu Dieng tapi kok
tau Selogriyo ini? Yang tempatnya jauh terpencil dan susah dijangkau?” mereka
menggelengkan kepala, sambil menarik nafas dalam.
“Huffttt....kami sebenarnya gak tahu candi ini. Kami hanya
diantar sopir dan suruh jalan sampai kesini.”
“Loh...tour guidenya gak bilang apa apa?”
“Tidak. Hari ini kami diantar kesini. Setelah itu balik lagi
ke hotel”
“Jadi sebenarnya Sampeyan sampeyan kemari itu gak tahu akan
menemukan candi ini?”
“Sama sekali gak tahu. Kami di bawa sopir, mereka parkir di
desa bawah sana, dan kami jalan kaki sampai sini.” Jawabnya lagi. Ada segurat
kebingungan terlintas di raut wajah wajah mereka.
Tapi aku, justru lebih bingung lagi. Kok bisa bisanya melepaskan
turis luar negeri yang sama sekali belum pernah menginjak Indonesia, diantarkan
samapi desa terdekat, dan dibiarkan jalan kaki sampai Candi Selogriyo, melewari
jalan setapak di pinggir jurang, terjal dan mendaki.
Long life and health Mam.....