Tuesday, September 11, 2012

SUMANTRI, MIKUL GENDHONG LALI (1)


Tersebutlah seorang pemuda yang tampan dan sakti mandraguna. Hal ini sangta wajar, karena  dia adalah putra dari seorang Begawan Suwandagni, seakligus murid dari Sang Begawan. Dari padepokan yang sangat sederhana di daerah pedesaan jauh dari pusat kota, maka menginjak dewasa, dengan tekad bulat dan berbekal kemapuan dari perguruaannya, pemuda tersebut ingin mengabdi ke pusat kerajaan, yang dipimpin oleh raja yang terkenal sakti, yaitu Raja Harjunasasrabahu, di negeri   Mahespati.

“Berhati-hatilah Ngger, dan jaga dirimu baik baik. Ariflah dalam bertindak, jangan gegabah dan mudah naik darah…..” pesan Sang Begawan saat melepas sang putera pergi, disertai dengan dua orang pembantu setianya.

Dengan bekal pesan dari ayahandanya, dan dengan kemampuannya, maka perjalanan menuju kerajaan tak menemui rintangan berarti. Pada saat pisowanan agung yang diselenggarakan tiap bulan purnama, pemuda itu dengan cukup mudah berhasil menghadap di hadapan Raja Harjunasasrabahu. Melihat soeang pemuda dengan perawakan yang tegap, berdada bidang, berwajah tampan, dan dengan perilaku serta sopan santun yang tertata, tertariklah Raja Harjunasasrabahu untuk menerimanya secara khusus.

“Siapakah kau anak muda? Baru kali ini aku melihatmu.” Kata Sang Raja saat pemuda itu menghadap.
“Ampun Baginda, hamba adalah Sumantri, anak desa dari padepokan Begawan Suwandagni.” Jawab pemuda yang mengaku bernama Sumantri  itu.
“Hmmmmm… Sumantri. Benarkah engkau adalah putera dari Sang Begawan?” tanya Sang Raja.
“Hamba Baginda…..” jawab sumantri singkat.
“Hmmmm, haturkan sembah sujudku kepada Sang Begawan. Sampaikan maafku hingga saat ini aku belum sempat berkunjung ke padepokan….” Kata Sang Raja.
“Hamba Baginda, pesan Baginda akan hamba sampaikan kehadapan ayahanda.” Jawab Sumantri dengan hormat.
“Baiklah, apa maksud kedatanganmu ke sini Sumantri?” tanya Sang Raja kemudian.
“Ampun Baginda, kedatangan hamba kesini, hamba ingin mengabdikan diri pada Baginda Raja, dengan segenap tenaga dan kemampuan yang hamba miliki dari padepokan.” Jawab Sumantri semakin hormat.
Sang Raja berpikir sejenak. Matanya memandang jauh kedepan, seolah berusaha mendekatkan suatu masalah dihadapannya, sehingga lebih jelas dan tepat.

“Baiklah Sumantri, aku percaya dengan Sang Begawan. Aku terima pengabdianmu disini, tapi dengan satu syarat…” kata Sang Raja kemudian terhenti.
Serasa sinar matahari pagi yang cerah dan hangat, mengguyur sekujur tubuh Sumantri. Pengabdiannya diterima, walau dengan syarat yang sama sekali belum di ketahui. Namun hal itu telah lebih dari cukup bagi Sumantri.

No comments:

Post a Comment