Baritan dan Bedah Buku Perahu Getek Kali Progo
Pemandangan tak biasa pagi itu di sebuah jalan di depan desa. Kerumunan orang orang berpakaian adat Jawa, berkerumun menykasikan sesuatu. Rupanya, warga Pedukuhan Sejati Desa, Kelurahan Sumberarum, Kapanewon Moyudan baru baru ini menggelar tradisi Baritan. Tradisi ini dilakukan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan berkah di bidang pertanian, melalui cara memuliakan hewan ternak (rajakaya).
Tradisi Baritan kali ini berbeda dengan tahun tahun sebelumnya, yaitu dengan dikemasnya tradisi ini menjadi seni budaya. Rangkaian acara ini mulai dilaksanakan di Pendopo Sejati Desa. Dibuka dengan iringan gamelan dan tari teaterikal Sedekah Bumi oleh Sanggar Seni Kidung Cakrawala dari desa setempat pimpinan Yulius. Semua peraga baik gamelan maupun tari, dilakukan oleh para pemuda setempat.
Prosesi selanjutnya yaitu kirab rajakaya dan gunungan dari pendopo menuju Sungai Progo. Hewan ternak rajakaya kali ini menampilkan 2 ekor sapi yang diberi nama Mbah Broni dan Mbah Bergas Waras. Keduanya dikirabkan dari pendopo menuju Sungai Progo yang berjarak kurang lebih 1000 meter , diikuti oleh seluruh warga desa.
Setelah tiba di Sungai Progo, prosesi ritual memandikan kedua sapi itu dimulai. Prosesi ini banyak menyita perhatian dari seluruh warga, terutama bagi para potografer dan videographer yang sengaja datang dari berbagai daerah untuk mengabadikan momen yang sudah langka ini. Mbah Broni dan Mbah Bergas dimandikan oleh para tuannya di Sungai Progo. Sedangkan gunungan tumpang dan segalam macam masakan tradisional desa, diarak menuju tempat yang telah disiapkan di pinggit sungai, tak jauh dari lokasi pemandian kedua hewan tersebut, untuk dilaksanakan kenduri kepungan.
Hadir dalam kenduri itu beberapa tokoh masyarakat antara lain Penewu Kapanewon Moyudan, Pak Ganda anggota DPRD Sleman, Pak Sukamto Lurah Sumberarum, Pak Wardani Kepala Dukuh Sejati Desa, dan Pak Giyo tokoh budaya Sumberarum.
Pak Giyo dalam paparannya tentang Baritan mengatakan bahwa Baritan adalah sebua tradisi peninggalan nenek moyang sejak jaman dahulu. Istilah Baritan adalah akronim dari kata antara lain “bubar panen terus kupatan”. Baritan ini sendiri, di masing masing desa mempunyai istilah sendiri sendiri. Akan tetapi maksud dan tujuannya adalah relative sama yaitu wujud syukur masyarakat petani kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah yang telah dilimpahkannya. Adapaun kaitannya dengan hewan, Beliau menghubungkannya dengan konvensi internasional tentang hari hewan yaitu jatuh pada tanggal 4 Oktober.
“Maka sebaiknya oada tanggal tersebut, kita tidak boleh menyakiti hewan.” Paparnya.
Sebagai bentuk pelestarian dan pendokumentasian tradisi yang hampir punah ini, pada kesempatan ini juga dilaksanakan launching dan bedah buku yang berjudul Perahu Getek Kali Progo, Cerita Sejarah Kebudayaan Kali Progo, oleh Dwi Ony Raharjo. Launching buku dilakukan dengan penyerahan buku kepada seluruh tokoh masyarakat.
Dalam acara bedah buku, sesuai dengan judulnya, buku ini berisi tentang cerita sejarah kebudayaan yang ada di desa desa bantaran Kali Progo, khususnya wilayah Kabupaten Sleman. Buku ini membahas tentang Kali Progo itu sendiri sebagai sungai kuna yang ternyata terdapat jejak peninggalan jamn klasik (Hindu Budha), kejayaan perahu getek yang menguasai perairan Kali Progo dan seluk beluknya, tradisi dan kebudayaan yang tercipta berkaitan dengan Kali Progo, dan juga cerita kepahlawanan masyarkat setempat di saat perang kemerdekaan yang melibatkan Kali Progo, perahu getek dan tukang satangnya.
“Buku ini saya tulis kurang lebih satu tahun, dari mulai awal penelitian.” Ujar Ony .
Menurutnya, Kali Progo sangat jarang dibahas dalam hal kesejarahan, tradisi maupun kebudayaan yang tercipta olehnya. Akan tetapi ingatan dari masyarakat masih sangat lekat. Maka dari itu, buku ini dapat dikatakan sebagai pendokumentasian dari ingatan masyarakat, sebagai jejak peradaban yang layak untuk dilestarikan dan ditularkan kepada generasi mendatang.
“Perahu getek, bisa saja menjadi ikon baru bagi masyarakat, bahwa Kabupaten Sleman juga mempunyai kebudayaan maritim pedalaman, yang pernah berjaya pada masanya, yang menghubungkan antara Sleman dan Kulon Progo”. Demikian harapan dari penulisan buku ini.
Setelah bedah buku, dilanjutkan dengan prosesi kenduri kupat, dan diakhir kenduri, diucapkan secara bersama sama mantra dari Baritan “Kebo geleng sapi geleng, amin!”, dan ditutup dengan acara kembul bujana, makan bersama sama seluruh warga.

No comments:
Post a Comment