Monday, February 2, 2026

Umbul Donga dan Launching Buku Membuka Acara Progo Sarang Art Fest 2024 oleh Dwi Ony Raharjo

 


Umbul Donga dan Launching Buku Membuka Acara Progo Sarang Art Fest 2024

Pedukuhan Bendo, Trimurti, Srandakan Bantul. Menggelar acara bertajuk Progo Sarang Art Fest yang dilaksanakan pada tanggal 24 hingga 27 Oktober 2024 di Kedai Bendo Nyawiji.  Festival ini adalah kali kedua yang dilaksanakan sebelumnya pada tahun 2023 lalu.

Kepala Padukuhan Bendo, Partono yang juga inisiator dari acara ini mengungkapkan bahwa acara ini adalah salah satu wujud nguri-nguri budaya Jawa asli, yang berupa sarang. Sarang adalah sebuah tempat untuk makanan yang terbuat dari daun kelapa muda, yang dianyam sehingga membentu seperti keranjang. Seperti kita ketahui bahwa di masyarakat Jawa, terdapat beberapa bentuk tempat makanan yang terbuat dari daun seperti pincuk, penak, ketupat dan sebagainya.

Acara yang berlangsung selama 4 hari ini dibuka dengan ritual umbul donga, yaitu doa bersama seluruh warga Bendo. Doa untuk nenek moyang serta cikal bakal desa, dan doa juga untuk masyarakat sekarang dan masa depan kelak. Acara umbul donga dalam bingkai besar Gumbregah Nyawidji Anggayuh Mukti ini juga dihadiri oleh pejabat setempat, antara lain dari Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul, Bapak Newu Kapanewon Srandakan, Bapak Lurah Kelurahan  Trimurti, para sesepuh dan tokoh  budaya desa, serta para pegiat dan pelestari budaya.

Pada kesempatan doa bersama yang dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 24 Oktober 20204 pukul 19.30 tersebut, juga dilaksanakan sarasehan budaya. Hal ini dilakukan untuk mengingat kembali sejarah desa, cikal bakal desa dan cerita cerita yang ada di sekitarnya saat itu. Sarasehan juga disertai penyerahn buku secara simbolis kepada Dinas Pawriwisata Bantul, Pak Newu Kapanewon Srandakan, Pak Lurah Kelurahan Trimuri, dan tokoh budaya setempat.

Sarasehan budaya dibuka dengan menampilkan Nurdin, salah satu keturunan cikal bakal desa Bendo. Nurdin menceritakan kisah cikal bakal dan sejarah terjadinya Desa Bendo. Dari abad ke 4 Masehi, Desa Bendo belum berupa desa, akan tetapi masih merupakan wilayah perairan. Kemudian muncullah tokoh Kyai Srondoko dan Nyai Bendo yang kemudian membuka desa hingga akhir hayatnya dan dimakamkan di desa ini pula. Itulah cikql bakal dari Bendo, yang makamnya berada tepat di pinggir Kali progo.

Menjelang penutupan, diadakan peluncuran dan bedah buku tentang kebudayaan Kali Progo. Buku yang berjudul Perahu Getek Kali Progo Segara karya Dwi Ony Raharjo ini menghadirkan sudut pandang lain tentang Kali Progo, yaitu tentang kekuatan wilayah perairan yang menciptakan kebudayaan tinggi.

Sesuai dengan judulnya, Ony atau Pawiro, sapaan akrabnya, membedah tentang perahu getek yang pernah berjaya di perairan Kali Progo. Perahu getek sebagai sebuah mahakarya nenek moyang yang mempunyai sejarah cukup panjang sejak ribuan tahun yang lalu. Dengan pengetahuan serta kearifan lokal memnanfaatk sumber daya alam yang ada, nenek moyang kita telah berhasil menciptakan sebuah transportasi air yang mempunyai stabilitas tinggi, dengan kecepatan tidak kalah dengan perahu, serta mempunyai daya muat lebih besar dari perahu biasa.

Harapannya dari adanya buku ini adalah agar pengetahuan serta kearifan teknologi pembuatan perahu getek ini dapat menjadi ikon serta cirri khas dari kebudayaan masyarakat bantaran Kali Progo.

“Bisa menjadi hak paten atau hak intelektual komunal, sebagai cagar budaya tak benda”, paparnya.

Dalam kesempatan bedah buku pula, arkeolog Goenawan A. Sambodo mentitik beratkan pada saktivitas perekonomian sehubungan dengan perdagangan yang tercipta antar wilayah dengan memggunakan perahu getek ini. Menurutnya, aktivitas perekonimian seperti di pasar tradisional di sekitar Kali Progo, seringkali berpatokan pada hari Jawa, seperti pahing, pon,wage  kliwon, dan legi. Dari hari hari besar pasaran tersebut, mungkin dapat dilacak pemetaan lokasi pusat perdagangannya, sehingga diharapkan akan berimbas pada kemajuan perekonimian modern saat ini.   

Sesi diskusi dan bedah buku, ditutup oleh sejarahwan Wahyudi Djaja. Dalam paparannya, Wahyudi Djaja mengungkapkan pentingnya dokumentasi sejarah, dari manapun asalnya. Cerita cerita tutur dari para sesepuh, akan hilanh seiring waktu jika tidak didokumntaskan. Dokemntasi sejarah, bisa dengan berbagai cara dan media. Rekaman audia, video dan buku adalah beberapa media yang dapat dipergunakan untuk menjaga kelsetarian sejarah.Tidak ada yang salah dalam sejarah, karena sejarah itu berkembang. Dari cerita tutur, lalu dapat dicari referensi maupun studi-studi pustaka lainnya sehingga tercipta sebuah narasi sejarah yang terkonfirmasi.

No comments:

Post a Comment