Friday, February 13, 2026

WATUKANGSI SEBAGAI SISA JEJAK VOLKANOLOGI NGLANGGERAN PURBA YANG MENJADI IDENTITAS TOPONIMI PEDUKUHAN

 

WATUKANGSI SEBAGAI SISA JEJAK VOLKANOLOGI NGLANGGERAN PURBA YANG MENJADI IDENTITAS TOPONIMI PEDUKUHAN

 

Dwi Ony Raharjo, Agung K. Linap

ARG Perum Griya Ketawang Permai Blok C No 7 Ambarketawang Gamping Sleman

 Email : paradize099@gmail.com

 

 

ABSTRAK

Tujuan dari penelitian  untuk mengetahui asal muasal penamaan suatu tempat (topnimi) dengan dilihat dari peristiwa sejarah yang terjadi di lokasi, yang mempunyai arti, nilai dan makna yang dapat diterima oleh seluruh komunitas setempat sebagai identitas dari sebuah wilayah. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara dengan nara sumber setempat serta studi pustaka yang berkaitan dengan desa lokasi penelitian. Sedangkan pengolahan serta analisa data dilakukan dengan merangkum seluruh data yang didapat di lapangan, lalu membandingkan dengan data data yang ada di kepustakaan.

Hasil Penelitian dan Kesimpulan

Dari hasil dari penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat peristiwa sejarah yang memorable, sangat membekas di ingatan sehingga diabadikan menjadi nama dari lokasi ini.

 

 

Kata Kunci: Toponimi, Sejarah Desa

 

 

ABSTRACT

 

The aim of this research is to find out the origin of the naming of a place (topnimi) by looking at the historical events that occurred at the location, which have meanings, values ​​and meanings that can be accepted by the whole local community as the identity of a region. The data collection method was carried out by means of interviews with local informants as well as literature studies related to the research location villages. While processing and analyzing data is done by summarizing all the data obtained in the field, then comparing it with data in the literature.

Research Results and Conclusions

From the results of the research, it can be concluded that there are memorable historical events, which are so memorable that they are immortalized as the name of this location.

 

 

Keywords: Toponymy, Village History

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


PENDAHULUAN

Bumi  terdiri dari gunung gunung api yang aktif hingga sekarang, dan juga gunung gunung api purba yang pernah aktif namun kini telah tidak aktif. Dari berbagai aktivitas gunung api itu, timbullah  berbahai macam peninggalan geologis yang dapat kita saksikan hingga sekarang. Salah satu dari peninggalan geologis ini adalah watukangsi, yang berada di Watukangsi, Wukirharjo, Prambanan, Sleman Yoyakarta.

Letak dari Watukangsi ini berada pada jajaran atau gugusan Pegunungan Prambanan yang terbentuk oleh aktivitas volkanologi dari Gunung Api Purba Nglanggeran.

Menarik kiranya tentang fenomena alam dari watukangsi ini dimana dari batuan sisa aktivitas gunung api purba ini kemudian menjadi ikon desa, dan menjadi nama dari sebuah desa.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui proses terbentuknya batuan dimaksud, sehingga menjadi asal mula penamaan dari sebuah desa.

Manfaat dari penelitian adalah mendokumentasikan pengetahuan tentang asal muasal penamaan  sebuah desa berdasarkan sejarah desa baik secara cerita sejarah dalam bahasa tutur, maupun tentang obyek penelitian yang ditempuh dengan cara akedemis dan ilmiah.

 

METODE PENELITIAN

Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara dengan beberapa nara sumber setempat serta studi pustaka yang berkaitan dengan desa lokasi penelitian. Dari sumber data di lapangan, digabungkan dengan studi kepustakaan, dimabil data yang saling beririsan sehingga didapat data yang akurat baik secara kuantitatif maupun kualitatif.

 

HASIL PENELITIAN

Daerah pangamatan masuk dalam Formasi Batuan Sambipitu dimana pada formasi ini tersusun oleh batu pasir kasar, lalu semakin ke atas menjadi batu pasir halus dengan perselingan serpih, batulanau tufaan, dan batu lempung tufaan. 

Gambar 1. Panah warna biru adalah titik lokasi Watu Goyang

Batuan yang diamati mempunyai lithologi batu pasir tuffaan dengan gradasi butiran sehingga membentuk leyer leyer sesuai ukuran butir batuan tersebut. Batupasir  tufaan memiliki karakteristik berwarna  lapuk abu-abu kecokelatan hingga cokelat kemerahan, dan warna segar abu-abu terang hingga kehijauan, besar butir pasir kasar hingga pasir sangat halus, bentuk butir menyudut tanggung hingga membundar, kemas terbuka-tertutup, pemilahan sedang hingga baik,permeabilitas baik.

Tabel 1. Perkiraan umur batuan adalah Tersier kala Miosen 20 – 12 juta tahun yang lalu

 

PEMBAHASAN

Sejarah pembentukan :

Batuan gunungapi di area Desa Wukirharjo, secara stratigrafi dibagi menjadi tiga satuan, yaitu

(1) Perselingan lava dan breksi piroklastika,

(2) Breksi epiklastika, dan

(3) Tefra batuapung.

 

Satuan batuan pertama

mencerminkan suatu kegiatan tahap pembangunan sebuah kerucut gunungapi komposit berkomposisi andesit, tersusun oleh perselingan aliran lava dan breksi piroklastika kaya bom gunungapi. Bom dan blok gunungapi masing-masing berdiameter butir rata-rata 15 – 20 cm (maksimum 40 cm) dan 78 cm (maksimum 8 m), menunjukan penjajaran dengan arah sumbu terpanjang U30°T. Data tersebut bersama-sama dengan banyaknya bongkah batuan ubahan hidrotermal mengindikasikan bahwa sumber erupsi gunungapi terletak cukup dekat di sebelah timur-timurlaut daerah pengamatan.

 

Satuan batuan kedua

terbentuk sebagai hasil pengerjaan ulang pada saat kerucut gunungapi komposit itu telah mati dan mengalami erosi lanjut. Satuan batuan ini terdiri dari breksi, beksi konglomeratan mengandung fragmen koral dan batuan non gunungapi lainnya, serta batupasir yang diendapkan di lingkungan laut dangkal.

Daerah  watu goyang masuk dalam satuan batuain ini. Dimana kerucut gunung api purba telah mati dan mengalami erosi lanjut.

 

Satuan batuan ketiga

Mengindikasikan pembentukan kaldera leturan sebagai tahap penghancuran kerucut gunungapi komposit.

Gambar 2. Ilustrasi daerah lingkungan endapan formasi Oyo, Formasi sambi pitu dan Formasi Nglanggeran.

 

Gunung api di Pulau jawa saat ini dan Gunung Api purba Nglanggran

Bentangan  perbukitan Pulau Jawa, dari barat sampai timur, lebih dari 1.000 km itu batuan  penyusun   utamanya  adalah batuan gunung api. Pusat aktivitas gunung api itu utamanya di bagian utara, selatan serta tengah Pulau Jawa. Fenomena tersebut tidak dapat dipisahkan dari sejarah dinamika geologi yang mempengaruhinya seperti gambar dibawah ini

Gambar 3. SebarangunungapidiPulauJawapadazamanKuarter(2.5jutatahun-sekarang)

 

Batuan yang berkaitan dengan proses ke- gunungapian di Pulau Jawa ini dalam sejarah  pembentukannya,  sangat dipengaruhi oleh proses geologi yakni subduksi. Sebuah lingkungan tektonik sebagai pertemuan antara dua lempeng dimana lempeng samudera

yang memiliki nilai berat jenis yang lebih besar relative menunjam di bawah lempeng benua yang memiliki nilai berat jenis lebihkecil.

Mengacu pada model evolusi tektonik yang dipublikasikan oleh Hall,dkk.(2012), hal ini mengambarkan perubahan  pergerakan lempeng di wilayah Asia Tenggara berdasarkan bukti-bukti geologi yang ditemukan. Proses subduksi di Pulau Jawa dimulai sejak 45juta tahun yang lalu.

Dapat di gambarkan keadaan gunung api purba pada masa dimana merupakan sumbar batuan  Formasi batuan Sambipitu  (di loaksi pengamatan) pada gambar dibawah ini.

Gambar 4. SebarangunungapidiPulauJawapadazamanhingga Miosen atas

 

Sangat jelas bahwa aktivitas gunung api purba pada masa Miosen atas sangat berbeda dengan kunung api aktif yang ada pada saat ini di pulau jawa

 

KESIMPULAN DAN SARAN

Watukangsi adalah sebuah batu besar yang berdiri di atas batuan lain yang lebih besar. Secara keseluruhan, batu ini sama dengan jenis batuan lainnya di sekitarnya. Akan tetapi karena letaknya yang persis berada di pinggir jalan utama dan di pusat Pedukuhan Watukangsi, maka batu ini secara tidak sengaja menjadi ikon dari pdukuhan tersebut. Sejarah yang dapat dari beberapa narasumber menyebutkan bahwa di sekitar batu ini, saat Agresi Militer Belanda II, dijadikan tempat pengungsian dari penduduk yang terdampak dari aksi militer tersebut. Dari peristiwa itulah kemudian batu itu disebut sebagai “watukangsi”, yaitu sebuah batu ikonik pedukuhan yang menjadi tempat mengungsi.

Adapun dari uraian dan paparan diatas, batu ini terbentuk dari aktivitas Gunung Api Purba Nglanggeran dalam rentang 40 - 20 juta tahun yang lalu 

Saran untuk Pemerintah Kabupaten Sleman, kondisi batu yang berada di alam bebas tanpa perlindungan, menyebabkan pelapukan di beberapa bagian. Hal ini dikhawatirkan lambat laun akan memusnah batu tersebut. Maka, perlu langkah perlindungan dalam rangka pelestarian dengan cara membuat atap agar batu ini terlindung dari panas dan hujan. Sebagai langkah pelestarian untuk edukasi, batu ini bisa dijadikan semacam museum desa dimana para siswa bisa mendapatkan ilmu pengetahuan baik tentang bebatuan maupun sejarah desa.

 

UCAPAN TERIMAKASIH

Terimakasih kepada Dinas Kebudayaan Sleman karena programnya penulisan toponimi pedukuhan sehingga kami dapat melaksanakan penelitian ini. Kepada Pemerintah Desa Wukirharjo, Tokoh Masyarakat serta pemuda desa ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

Simbolon,  J.H.,  Blessia,  S.,  Mulyaningsih,  S., 

Tania, D. and Heriyadi, N.W.A.A.T., (2019). 

Petrologi  Batuan  Gunung  Api  Gunung 

Ireng,  Desa  Pengkok,  Kecamatan  Patuk, 

Kabupaten  GunungkidulDIY.  Jurnal 

Teknomineral, 1(1), pp.114. 

 

Surono,  B.T.  and  Sudirno,  I.,  (1992).  Peta 

Geologi  Lembar  SurakartaGiritontro.

awa.(14083), Skala 1: 100000. 

 

 

Mulyaningsih, S., Suhartono, dan Mindayani, 

E., (2019b). Kajian Potensi Pengembangan 

Jalur  Jelajah  Alam  Geologi  gunung  Api 

Purba  GiriloyoImogiri,  Jurnal  Riset 

Daerah, in press. 

 

Mulyaningsih,  S.,  2015.  Vulkanologi. 

Yogyakarta: Penerbit Ombak. 

 

Blessia, S., Mulyaningsih, S., Tania, D. and Heriyadi, N.W.A.A.T., (2019). Vulkano-Stratigrafi Gunung Ireng, Desa Pengkok, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul-DIY. Jurnal Teknomineral, 1(1), pp.24-33.

 

Andrews, G.D., Branney, M.J., Bonnichsen, B. and McCurry, M., (2008). Rhyolitic ignimbrites in the Rogerson Graben, southern Snake River Plain volcanic province: volcanic stratigraphy, eruption history and basin evolution. Bulletin of Volcanology, 70(3), pp.269-291.

 

Annisaa, N.A., (2016). Pelestarian Kawasan Warisan Geologi Gunungapi Purba Nglanggeran Sebagai Geowisata Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta (Doctoral dissertation, UPN" Veteran" Yogyakarta).

 

Hermawan, H., (2017). Pengaruh Daya Tarik Wisata, Keselamatan, Dan Sarana Wisata Terhadap Kepuasan Serta Dampaknya Terhadap Loyalitas Wisatawan: Studi Community Based Tourism Di Gunung Api Purba Nglanggeran. JURNAL MEDIA WISATA: Wahana Informasi Pariwisata, 15(1).

No comments:

Post a Comment