WATUKANGSI SEBAGAI SISA JEJAK
VOLKANOLOGI NGLANGGERAN PURBA YANG MENJADI IDENTITAS TOPONIMI PEDUKUHAN
Dwi Ony Raharjo, Agung K.
Linap
ARG
Perum Griya Ketawang Permai Blok C No 7 Ambarketawang Gamping Sleman
Email : paradize099@gmail.com
ABSTRAK
Tujuan dari penelitian untuk mengetahui asal muasal penamaan suatu
tempat (topnimi) dengan dilihat dari peristiwa sejarah yang terjadi di lokasi,
yang mempunyai arti, nilai dan makna yang dapat diterima oleh seluruh komunitas
setempat sebagai identitas dari sebuah wilayah. Metode pengumpulan data dilakukan
dengan cara wawancara dengan nara sumber setempat serta studi pustaka yang
berkaitan dengan desa lokasi penelitian. Sedangkan pengolahan serta analisa data
dilakukan dengan merangkum seluruh data yang didapat di lapangan, lalu
membandingkan dengan data data yang ada di kepustakaan.
Hasil Penelitian dan Kesimpulan
Dari hasil
dari penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat peristiwa sejarah yang
memorable, sangat membekas di ingatan sehingga diabadikan menjadi nama dari
lokasi ini.
Kata
Kunci: Toponimi, Sejarah Desa
ABSTRACT
The aim of
this research is to find out the origin of the naming of a place (topnimi) by
looking at the historical events that occurred at the location, which have
meanings, values and meanings that can be accepted by the whole local
community as the identity of a region. The data collection method was carried
out by means of interviews with local informants as well as literature studies
related to the research location villages. While processing and analyzing data
is done by summarizing all the data obtained in the field, then comparing it
with data in the literature.
Research
Results and Conclusions
From the
results of the research, it can be concluded that there are memorable historical
events, which are so memorable that they are immortalized as the name of this
location.
Keywords: Toponymy, Village History
PENDAHULUAN
Bumi terdiri dari
gunung gunung api yang aktif hingga sekarang, dan juga gunung gunung api purba
yang pernah aktif namun kini telah tidak aktif. Dari berbagai aktivitas gunung
api itu, timbullah berbahai macam
peninggalan geologis yang dapat kita saksikan hingga sekarang. Salah satu dari
peninggalan geologis ini adalah watukangsi, yang berada di Watukangsi,
Wukirharjo, Prambanan, Sleman Yoyakarta.
Letak dari Watukangsi ini berada pada jajaran atau
gugusan Pegunungan Prambanan yang terbentuk oleh aktivitas volkanologi dari
Gunung Api Purba Nglanggeran.
Menarik kiranya tentang fenomena alam dari watukangsi
ini dimana dari batuan sisa aktivitas gunung api purba ini kemudian menjadi
ikon desa, dan menjadi nama dari sebuah desa.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui
proses terbentuknya batuan dimaksud, sehingga menjadi asal mula penamaan dari
sebuah desa.
Manfaat dari penelitian adalah mendokumentasikan
pengetahuan tentang asal muasal penamaan
sebuah desa berdasarkan sejarah desa baik secara cerita sejarah dalam
bahasa tutur, maupun tentang obyek penelitian yang ditempuh dengan cara
akedemis dan ilmiah.
METODE PENELITIAN
Metode pengumpulan data
dilakukan dengan cara wawancara dengan beberapa nara sumber setempat serta
studi pustaka yang berkaitan dengan desa lokasi penelitian. Dari sumber data di
lapangan, digabungkan dengan studi kepustakaan, dimabil data yang saling beririsan
sehingga didapat data yang akurat baik secara kuantitatif maupun kualitatif.
HASIL PENELITIAN
Gambar 1. Panah warna biru adalah titik
lokasi Watu Goyang
Batuan yang diamati mempunyai
lithologi batu pasir tuffaan dengan gradasi butiran sehingga membentuk leyer leyer sesuai ukuran butir batuan
tersebut. Batupasir
tufaan memiliki karakteristik berwarna
lapuk abu-abu kecokelatan hingga cokelat kemerahan, dan warna segar
abu-abu terang hingga kehijauan, besar butir pasir kasar hingga pasir sangat halus,
bentuk butir menyudut tanggung hingga membundar, kemas terbuka-tertutup, pemilahan
sedang hingga baik,permeabilitas baik.
Tabel 1. Perkiraan umur batuan adalah Tersier kala Miosen 20 – 12 juta tahun yang
lalu
PEMBAHASAN
Sejarah pembentukan :
Batuan gunungapi di area Desa Wukirharjo, secara
stratigrafi dibagi menjadi tiga satuan, yaitu
(1) Perselingan lava dan
breksi piroklastika,
(2) Breksi epiklastika, dan
(3) Tefra batuapung.
Satuan
batuan pertama
mencerminkan suatu kegiatan
tahap pembangunan sebuah kerucut gunungapi komposit berkomposisi andesit,
tersusun oleh perselingan aliran lava dan breksi piroklastika kaya bom
gunungapi. Bom dan blok gunungapi masing-masing berdiameter butir rata-rata 15
– 20 cm (maksimum 40 cm) dan 78 cm (maksimum 8 m), menunjukan penjajaran dengan
arah sumbu terpanjang U30°T. Data tersebut bersama-sama dengan banyaknya
bongkah batuan ubahan hidrotermal mengindikasikan bahwa sumber erupsi gunungapi
terletak cukup dekat di sebelah timur-timurlaut daerah pengamatan.
Satuan
batuan kedua
terbentuk sebagai hasil
pengerjaan ulang pada saat kerucut gunungapi komposit itu telah mati dan
mengalami erosi lanjut. Satuan batuan ini terdiri dari breksi, beksi
konglomeratan mengandung fragmen koral dan batuan non gunungapi lainnya, serta
batupasir yang diendapkan di lingkungan laut dangkal.
Daerah watu goyang masuk dalam satuan batuain ini.
Dimana kerucut gunung api purba telah mati dan mengalami erosi lanjut.
Satuan
batuan ketiga
Mengindikasikan
pembentukan kaldera leturan sebagai tahap penghancuran kerucut gunungapi
komposit.
Gambar
2. Ilustrasi daerah lingkungan endapan formasi Oyo, Formasi sambi pitu
dan Formasi Nglanggeran.
Gunung
api di Pulau jawa saat ini dan Gunung Api purba Nglanggran
Bentangan perbukitan Pulau Jawa, dari barat
sampai timur,
lebih dari
1.000 km itu batuan penyusun
utamanya
adalah batuan gunung api.
Pusat aktivitas gunung api itu utamanya
di bagian
utara, selatan serta
tengah Pulau Jawa. Fenomena
tersebut
tidak dapat
dipisahkan
dari sejarah dinamika
geologi yang
mempengaruhinya seperti gambar dibawah ini
Gambar 3. SebarangunungapidiPulauJawapadazamanKuarter(2.5jutatahun-sekarang)
Batuan yang
berkaitan
dengan
proses
ke- gunungapian
di Pulau Jawa ini dalam sejarah pembentukannya,
sangat dipengaruhi oleh proses geologi yakni
subduksi. Sebuah lingkungan tektonik
sebagai pertemuan antara
dua
lempeng dimana
lempeng samudera
yang memiliki
nilai
berat
jenis
yang lebih besar
relative menunjam di bawah
lempeng benua
yang memiliki nilai berat jenis lebihkecil.
Mengacu
pada
model evolusi tektonik
yang dipublikasikan oleh Hall,dkk.(2012),
hal
ini mengambarkan perubahan pergerakan
lempeng
di wilayah Asia
Tenggara
berdasarkan
bukti-bukti
geologi
yang ditemukan. Proses
subduksi di Pulau Jawa dimulai
sejak
45juta tahun yang lalu.
Dapat di gambarkan keadaan gunung api purba pada masa dimana merupakan
sumbar batuan Formasi batuan
Sambipitu (di loaksi pengamatan) pada
gambar dibawah ini.
Gambar 4. SebarangunungapidiPulauJawapadazamanhingga Miosen
atas
Sangat
jelas bahwa aktivitas gunung api purba pada masa Miosen atas sangat berbeda
dengan kunung api aktif yang ada pada saat ini di pulau jawa
KESIMPULAN DAN SARAN
Watukangsi
adalah sebuah batu besar yang berdiri di atas batuan lain yang lebih besar.
Secara keseluruhan, batu ini sama dengan jenis batuan lainnya di sekitarnya.
Akan tetapi karena letaknya yang persis berada di pinggir jalan utama dan di
pusat Pedukuhan Watukangsi, maka batu ini secara tidak sengaja menjadi ikon dari
pdukuhan tersebut. Sejarah yang dapat dari beberapa narasumber menyebutkan
bahwa di sekitar batu ini, saat Agresi Militer Belanda II, dijadikan tempat
pengungsian dari penduduk yang terdampak dari aksi militer tersebut. Dari
peristiwa itulah kemudian batu itu disebut sebagai “watukangsi”, yaitu sebuah
batu ikonik pedukuhan yang menjadi tempat mengungsi.
Adapun
dari uraian dan paparan diatas, batu ini terbentuk dari aktivitas Gunung Api
Purba Nglanggeran dalam rentang 40 - 20 juta tahun yang lalu
Saran
untuk Pemerintah Kabupaten Sleman, kondisi batu yang berada di alam bebas tanpa
perlindungan, menyebabkan pelapukan di beberapa bagian. Hal ini dikhawatirkan
lambat laun akan memusnah batu tersebut. Maka, perlu langkah perlindungan dalam
rangka pelestarian dengan cara membuat atap agar batu ini terlindung dari panas
dan hujan. Sebagai langkah pelestarian untuk edukasi, batu ini bisa dijadikan
semacam museum desa dimana para siswa bisa mendapatkan ilmu pengetahuan baik
tentang bebatuan maupun sejarah desa.
UCAPAN TERIMAKASIH
Terimakasih
kepada Dinas Kebudayaan Sleman karena programnya penulisan toponimi pedukuhan
sehingga kami dapat melaksanakan penelitian ini. Kepada Pemerintah Desa
Wukirharjo, Tokoh Masyarakat serta pemuda desa ini.
DAFTAR PUSTAKA
Simbolon,
J.H., Blessia, S., Mulyaningsih, S.,
Tania, D. and Heriyadi, N.W.A.A.T., (2019).
Petrologi
Batuan Gunung Api Gunung
Ireng,
Desa Pengkok, Kecamatan Patuk,
Kabupaten
Gunungkidul‐DIY.
Jurnal
Teknomineral, 1(1), pp.1‐14.
Surono, B.T.
and Sudirno, I., (1992). Peta
Geologi
Lembar Surakarta‐Giritontro.
awa.(1408‐3), Skala 1: 100000.
Mulyaningsih, S., Suhartono, dan Mindayani,
E., (2019b). Kajian Potensi Pengembangan
Jalur
Jelajah Alam Geologi gunung Api
Purba
Giriloyo‐Imogiri,
Jurnal Riset
Daerah, in press.
Mulyaningsih,
S., 2015. Vulkanologi.
Yogyakarta: Penerbit Ombak.
Blessia, S.,
Mulyaningsih, S., Tania, D. and Heriyadi, N.W.A.A.T., (2019).
Vulkano-Stratigrafi Gunung Ireng, Desa Pengkok, Kecamatan Patuk, Kabupaten
Gunungkidul-DIY. Jurnal Teknomineral, 1(1), pp.24-33.
Andrews, G.D.,
Branney, M.J., Bonnichsen, B. and McCurry, M., (2008). Rhyolitic ignimbrites in
the Rogerson Graben, southern Snake River Plain volcanic province: volcanic
stratigraphy, eruption history and basin evolution. Bulletin of Volcanology,
70(3), pp.269-291.
Annisaa, N.A.,
(2016). Pelestarian Kawasan Warisan Geologi Gunungapi Purba Nglanggeran Sebagai
Geowisata Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta
(Doctoral dissertation, UPN" Veteran" Yogyakarta).
Hermawan, H.,
(2017). Pengaruh Daya Tarik Wisata, Keselamatan, Dan Sarana Wisata Terhadap
Kepuasan Serta Dampaknya Terhadap Loyalitas Wisatawan: Studi Community Based
Tourism Di Gunung Api Purba Nglanggeran. JURNAL MEDIA WISATA: Wahana Informasi
Pariwisata, 15(1).
No comments:
Post a Comment