Tuesday, April 3, 2012

BUHAIRAH, SELESAILAH SUDAH!!!


Matanya terbelalak, mulutnya menganga, namun tak sepatah katapun keluar dengan jelas dan bermakna. Beberapa lama tak percaya akan apa yang dilihatnya, yang terttulis dalam sebuah kitab yang selalu terbuka di meja kerjanya.

Sebuah ruangan tak terlalu besar, dengan dinding terbuat dari batu batu yang tertata rapi, dengan beberapa lilin besar di sudut sudut ruang, dan sebuah lampu minyak yang cukup besar berada di meja, tepat di sebelah kitab yang selalu dibacanya.

Beberapa tahun telah dia alami sebuah peristiwa yang mengguncangakn iman dan keyakinannya. Ilmu pengetahuan yang dikuasainya, tak mampu membendung keraguannya. Saat hatinya menemukan keyakinan, saat itu pula akal dan logikanya menolak. Dan seperti itu berulang ulang, hingga tak satupun titik yang dapat diraih. Bermula dari seorang pemuda yang datang dan mengombang ambingkan keyakinan yang telah selama ini dia pegang, hingga dia merasa bahwa dia hampir menjadi gila, karena telah sekian lama tak mampu pula menemukan pegangan keyakinan seperti semula. Sampai sebuah kalimat tertera di halaman kitabnya, tentang kedatangan seseorang.

“Jika ini adalah benar, selamatlah aku….selamatlah aku…….” Katanya berulang ulang meyakinkan dirinya, sambil berjalan kesana kemari.

Bertahun tahun kemudian, setelah dia berusaha mendalami apa yang telah diabacanya, dia berusaha mencari tahu dengan cara meditasi, dan mendekatkan dirinya kepada  Tuhannya. Hingga suatu saat, terdengar suara dari dalam dirinya yang berkata “Selesailah sudah!”
Sontak terbangun dari meditasinya, dan berusaha kembali menata hati dan pikirannya. Namun begitu semua terpusat dalam sebuah titik untuk mendapatkan  jawaban itu, suara itu kembali bergema dalam sanubarinya, “Selesailah sudah!”

Buhairah, sebagai seorang pendeta, guru dan cendekia, dia sangat dihormati oleh murid muridnya yang tinggal di dalam gedung yang sama. Maka, begitu bangun di pagi hari, dia memerintahkan murid muridnya untuk berbelanja ke pasar, karena malam nanti akan mengadakan jamuan makan. Setelah semua siap, dan malam menjelang, dia keluar untuk berjalan jalan menuju pasar.

Dalam perjalanan itu, dia bertemu dengaon rombongan pedagang dari negeri seberang. Nampak seorang yang tinggi besar, duduk di atas kuda paling depan.  Rupanya inilah pemimpin rombongan. Lalu disapanya pemimpin rombongan itu.

“Dari mana suku kalian?” Tanya Buhairah ramah.
“Kami dari Suku Quraisy” jawab pemimpin itu tak kalah ramahnya.
“Datanglah ke rumahku, telah ku siapkan hidangan jamuan makan untuk kalian. Ajak serta seluruh anggota rombonganmu, baik dewasa maupun anak anak…” kata Buhairah.
“Demi Latta, ada apa dengan anda? Anda tak mengenal kami, demikian pula kami. Kami belum pernah bertemu dengan anda sebelumnya…” kata pemimpin itu dengan heran.
“Benar, tapi anda dan seluruh rombongan, akan menjadi tamu istimewa bagiku mala mini, datanglah ke rumahku…” Buhairah agak memaksa.

Pemimpin itu, yang bernama Abu Thalib, tak dapat menolak. Maka setelah malam tiba, datanglah dia bersama dengan seluruh rombongan ke rumah pendeta cendekia itu untuk makan malam, bersama sama dengan murid murid sang pendeta. Alangkah indahnya bias duduk bersama dalam satu meja.
Buhairah sangat ramah, dan bercerita tentang banyak hal, sambil mengamati satu satu dari tamunya, untuk sekedar melihat dan meyakinkan apakah benar ramalan yang tertera di kitabnya itu. Namun telah sekian lama, dari satu persatu tamu yang di amatinya, tak satupun yang menunjukkan cirri seperti yang diceritakan dalam kitab ramalan yang di tekuni.

“Apakah semua anggota rombongan telah hadir disini?” Tanya Buhairah kemudian.
“Demi Latta, ada satu orang yang kami tinggalkan, untuk menjaga barang barang kami. Dia masih anak anak…” jawab salah seorang rombongan.
“Dimana dia sekarang, biarlah aku jemput sendiri,” kata Buhairah dengan tergesa gesa sambil bangkit dari duduknya.

Abu Thalib menunjukkannya, dan seketika itu pula, Buhairah pergi meninggalkan jamuan makan, dan menyilakan tamu tamunya untuk meneruskannya, dengan ditemani oleh murid muridnya.
Tak lama berjalan menuju tempat rombongan itu beristirahat, Buhairah menemukan seorang bocah tengah duduk dibawah pohon besar menjaga barang barang dari rombongan. Diamatinya anak itu dengan seksama, dan seketika tentramlah hatinya, karena cirri cirri yang dia cari, terdapat pada anak itu.
 Dengan lemah lembut, dia berbisik lirih kepada dirinya sendiri, “semula aku tak yakin sampai aku sendiri menemuimu sendiri….”
Anak itu diam dengan tenang.

“Demi Latta dan Uzza, jawablah pertanyaanku…” katanya dengan tergesa gesa.
“Jangan menyumpah dengan nama Latta dan Uzza, mereka adalah bencana yang menodai bibirmu…” kata anak itu.
“Kalau begitu, demi Tuhan, maukah kau jawab pertanyaanku?” tanyanya kemudian.
“Bertanyalah sesukamu…”jawab anak itu tenang.

Buahirah menanyakan tentang nama dan keluarganya, namun dipotong olah anak ini.
“Bukan ini pertanyaan yang sebenarnya ingin anda ajukan…” kata anak itu pendek.
“Kalau begitu, tunjukkanlah punggungmu sebentar saja!” Buhairah semakin penasaran.

Anak itu membalikkan tubuhnya, membuka bajunya, dan seketika itu juga Buhairah melihat tanda kenabian di antara kedua bahu anak itu, persisi seperti yang tertulis dalam kitab ramalan Buhairah. Mengetahui hal itu, semakin terperangahlah Buhairah. Tubuhnya kaku, lidahnya kelu, tak satupun suara dapat keluar dari mulutnya.  Pandangan matanya gelap dan air mata bercucuran, sebuah tangis meledak dari mukanya, antara rasa syukur dan  bahagia. Di antara kedua bahu anak itu tertlusi “TIADA TUHAN SELAIN ALLAH”.

Kemudian anak itu berbalik lagi, dan di dada anak itu, Buhairah melhat sebuah “nama yang tak terkatakan” berwarna merah tua. Ketika nama itu dibukakan padanya, seolah dunia tak sanggup menanggung beratnya, dan bintang bintang berpencaran tak tentu arah. Bumi dan langit ikut menjadi saksinya.

“Tuanku,” berkata Buhairah,” telah kunanti bertahun tahun sebelumnya, hati telah menjadi abu, sampai akhirnya aku menemukanmu, yang mampu menjawab pertanyaanku….”
“Ajukan pertanyaanmu…” kata anak itu.

“Yang Mulia, aku tak mampu  memahami keesaan Tuhan. Telah kusaksikan kebaikan dan kejahatan di muka bumi ini, dan percaya bahwa Dia bukanlah sumber kejahatan. Namun bila Dia tak berkuasa atas kejahatan, maka Dia tak pantas disebut Tuhan, padahal kutahu pula bahwa Dia Maha Kuasa. Jika dunia ini jahat adanya, tidakkah berarti Tuhan juga demikian? Jika dunia ini bukan ciptanNya, lalu dimanakah letak kekuatanNya?” Tanya Buhairah bagai air bah.

“Ketahuilah bahwa keesaan Tuhan itu tersembunyi dari menara logikamu. Singkirkan keragunamu. Pengetahuan tentang keesaan Tuhan sungguh berbahaya, dan yang mencari mudah sesat. Engkau tak mungkin sanggup menangghung beratnya pengetahuan yang kau inginkan. Tak cukupkah bagimu dengan nikmat keimanan dan kepercayaanmu pada Allah? Hanya dengan itupun, Dia akan selalu  mencukupimu.”
“Engkau tak mungkin bisa meraba ujungnya, yang merupakan tujuan akhir dari semua ini. Mestikah orang yang rabun menilai bagaimana rupa puncak gunung? Cobalah untuk menahan diri dari logika dan penilain pribadi dalam hal ini.”

Maha Benar Allah Atas Segala FirmanNya.

No comments:

Post a Comment