Tuesday, April 24, 2012

LEMBU NANDINI, SELAMANYA MENGABDI...

Sebuah Negara jin yang bernama Negara Dahulagiri yang dipimpin oleh Prabu Patanam, sebuah Negara yang aman tentram dan kesejahteraan rakyatnya terjamin. Sang  Prabu berputera  4 orang yaitu Nanda, Nandi dan Cingkarabala serta Balaupta.

Karena darah raja yang mengalir di keempat orang putra tersebut, dan gemblengan dari para guru yang sakti mandraguna, mak tak heran bila keempatnya tumbuh menjadi ksatria yang sakti pilih tanding. Namun, dalam setiap keluarga, pasti ada salah satu anak yang lain dengan saudaranya yang lain dan ini terjadi pula pada putra putra Prabu Patanam.

Nandi, anak kedua dari keluarga raja tersebut, tumbuh menjadi seorang yang sakti, paling sakti diantara saudara saudaranya. Dan karena kemampuannya yang tak ada tandiingannya, diapun  tumbuh menjadi orang yang cenderung tak terkalahkan, sehingga seluruh rakyat dinegara itupun menjadi hormat dan memuja mujanya bagai seorang dewa.

Hal tersebut rupanya membuat Sanghyang Manikmaya  menjadi tidak suka. Sebagai raja dari para dewa yang menguasai seluruh alam mayapada, madyapada dan arcapada, kesaktian Nandi yang berakibat dipuja puja bagai seorang dewa itu, membuatnya turun dan mendatangi kerajaan jin yang tenang tersebut.

Maka, tanpa basa basi, Nandi, putra kedua dari Prabu Patanam tersebut ditantangnya mengadu ilmu. Namun betapa kesaktian Nandi luar biasa, kali ini musuhnya adalah rajanya para dewa, maka sudah sewajarnya Nandi sebagai makhluk, dapat ditkalahkan oleh Sanghyang Manikmaya, dan kemudian dibawanya Nandi ke Suralaya, kerajaaan Sanghyang Manikmaya  dijadikan abdi dan kendaraan bagi Sanaghyang Manikmaya, yang kemudian dikenal dengan nama Lembu Nandini.

Sepanjang hidupnya, Lembu Nandini menjadi abdi bagi Sanghyang Manikmaya. Dan tak seorangpun diperkenankan mengendarai Lembu Nandini selain Sanghyang Manikmaya. Serakah juga dewa satu ini. Kemanapun Sanghyang Manaikmaya pergi memerlukan kendaraan, maka Lembu Nandinilah adanya.

Diatas punggung Lembu Nandini pulalah, saat Sanghyang Manikmaya bepergian bersama  istrinya, Dewi Umayi melintasi samudera dan mendadak hasrat birahinya memuncak namun ditolak oleh Dewi Umayi, dan tanpa sengaja “kama” atau sperma dari Sanghyang Manikmaya jatuh ke samudera dan menjadi seorang bayi raksasa yang dikenal dengan nama Batara Kala, yang akhirnya membuat seluruh alam bergolak, dan manusia menemui beberapa “sukerta”.

Bahkan begitu suci dan sakralnya kendaraan Sanghyang Manikmaya ini, pada saat Prabu Pandu Dewanata menuruti rengekan istrinya, Dewi Madrim yang ingin berkeliling melihat negeri Hastinapura dari angkasa, maka imbalan yang harus ditebus oleh Prabu Pandudewanata karena ingin meminjam Lembu Nandini ini, adalah nyawanya. Maka setelah selesai berkeliling dengan Dewi Madrim mengendarai Lembu Nandini, Prabu Pandudewanatapun meninggal. Hal itu karena Prabu Pandu dewanata telah dinilai lancang, dimana seorang ksatria di arcapada, telah lancang meminjam kendaraan dewa. 

Sedangkan ketiga saudara dari Nandi, oleh para dewa diberi tugas untuk menjaga pintu masuk kerajaan Suralaya, kerajaannya para dewa.

No comments:

Post a Comment