Monday, April 2, 2012

TUHAN TUH LEBIH MENDENGARKAN DOA KODOK...????


Mungkin alam telah berubah dan iklim telah bergeser, hingga kita telah jarang menjumpai sesuatu seperti dulu waktu kita masih usia kanak kanak. Iklim panas dan hujan telah tak dapat diprediksi seperti waktu kita kecil.
Seolah alam tak lagi bersahabat. Jika panas, sangat terik, dan jika hujan, banjir dan longsor dimana mana. Kita patut menghubungkan dengan peristiwa yang terjadi beberapa tahun sebelumnya, dimana hutan telah dibabat habis, illegal loging dimana mana, hutan jati hanya tinggal di tepian saja, dan bila kita masuk ke dalam hutan, terlihat hamparan tonggak tonggak pohon yang di tebang dengan tanpa memikirkan akibat yang terjadi di kemudian hari.

Dan seperti sekarang inilah yang terjadi, dimana hutan dan pohon telah semakin habis, hingga air hujan dapat dengan bebas lepas mengalir tanpa penahan dan liar, dan dalam sekejap air bah telah musnah entah kemana. Dan ketika kemarau dating, panas terik dan air yang didambakan tak dapat tertahan oleh akar akar pohon, karena pohon pohon telah dibabat habis, dengan tanpa gerakan penanaman kembali yang cukup berarti.
Lihatlah hutan di salah satu pulau kita, Kalimantan. Kini telah menyusut hingga lebih dari 50%, dan bayangkan berapa lama kita dapat menumbuhkan pohon pohon besar seperti yang di tebang sebagai penggantinya? Perlu kesadaran dari  beberapa generasi untuk mewujudkannya, hingga alam menjadi seimbang lagi seperti dulu.

Lahan pertanian yang semakin terkikis oleh gedung gedung, dalam perkembangannya cukup memprihatinkan. Ada beberapa kawasan hijau, dimana di kawasan tersebut tidak diperkenankan untuk dibangun gedung dengan mengorbankan lahan sawah dan pertanian. Namun, siapa yang kuasa menolak uang? Saat birokrasi dan kekuasaan ikut menjamahnya, maka rakyat jelatapun tak dapat berbuat apa apa. Bila ulah manusia seperti ini terus, wajarlah kiranya bila alam murka, hingga air yang datangpun adalah air bah, dan panas mataharipun menjadi sangat terik menyengat tubuh. Dan hal ini tak akan berhenti dengan sendirinya, kecuali kita, manusia, segera bergerak dan berbenah diri untuk keseimbangan alam yang telah tercabik cabik oleh jaman.

Semakin jarang kita temukan suara kodok yang bernyanyi menjelang sore hari, dan menyambut hujan. Sewaktu kita kecil, hal itu sangat mudah kita temukan. Dimana setiap senja, di tengah sawah yang membentang,suara kodok bernyanyi bersaut sautan memanggil hujan. Dan sekarang????

Salah siapa? Salah kita sendiri. Alam hanya berlaku sesuai dengan perilaku kita. Dimana kita dapat jaga keseimbangan alam, maka sang kodok pun akan tetap bernyanyi memanggil hujan, dan kemudian semakin merdu nyanyiannya tatkala hujan telah turun dan mereka berpesat dibawahnya.

“Dulu, waktu aku masih kecil seusiamu, sering bermain di sawah hingga larut, dan disana sini terdengar kodok bersaut sautan. Asik banget.” Kataku saat aku antar keponakanku  pulang menjelang senja, dengan melewati persawahan yang sunyi dan gerimis menemani perjalanan kami.
“Tuhan tak mau mendengar doa kita, Dia lebih mendengar doa kodok…..”kata ponakanku suatu ketika.
“Kok gitu?” aku terperanjat.
“Iya, kodok itu kan kalau berdoa minta hujan, langsung di kasih sama Tuhan….” Katanya lagi.
“Masak sic? Memangnya kalau kita, gak dikasih ya?” tanyaku kemudian.
“Enggak. Kodok itu kan kalau berdoa minta hujan, bunyinya “kung..kong…kung…kong” gitu, terus langsung dikasih hujan sama Tuhan…..” katanya menerangkan kepadaku.
“Yang bener? Emang kamu udah pernah coba?” tanyaku mulai geli.
“Udaaahhh, sama teman teman. Waktu itu kita di sawah, dan aku dan teman teman mulai bernyanyi kaya kodok gitu, “kung…kong…kung….kong”, tapi hujannya tetap gak mau turun” katanya 
polos.

Ooooalahhhh………Nduuuukkkk………

No comments:

Post a Comment