Saturday, April 28, 2012

SENDANG SEMANGGI, SOEHARTO PUN PERNAH KESINI...

Sebuah jalan aspal yang cukup halus, tidak begitu lebar, di sebelah barat Pabrik Gula Madukismo, jalan yang lebih terkenal dengan jalan menuju Makam Gunung Sempu. Jalan yang tak asing buatku, karena dulu, hampir setiap minggu kulewati jalan kecil itu. Pohon pohon yang tumbuh di pinggir jalan cukup rapat, sehingga walaupun matahari sangat terik, di daerah itu akan terasa tetap sejuk.

Dari sekian kali aku lewati dan bahkan mampir ke tempat beberapa teman, tak pernah ku tau bahwa di daerah itu, di wilayah desa Sembungan, Bangunjiwo, Bantul, terdapat rumah makan jawa, cukup sederhana, namun lokasinya agak masuk ke dalam dari jalan utama. Mbah Cemplung namanya.  Menu yang sederhana, layaknya orang desa, namun rasanya, luar biasa……..

Dari tempat Mbah Cemplung, ku iseng berjalan jalan, dan tak sengaja melihat sebuah papan nama kecil yang bertuliskan “Sendang Semanggi”. Hmmmmmm………bagai anak kecil yang menemukan mainannya, rasa ingin tahuku mendadak sontak mencuat. Tanpa pikir panjang, aku ikuti arah penunjuk jalan menuju sendang itu. Jalan setapak yang menanjak, namun tak begitu berat dan cukup dekat.

Seperti layaknya sendang sendang yang lain, sendang ini terletak di kaki bukit, dengan diapit tiga buah pohon yang cukup besar, yaitu Pohon Beringin, Pohon Pamrih dan Pohon Sambi. Kiri kanan masih pohon pohon yang rapat, sangat cocok untuk tempat istirahat atau sekedar menikamti sejuknya udara dan menikmati bau daun, dahan dan pepohonan. 

Sendang itu tak begitu besar, dibawah tanah dengan di kelilingi batu batu alam. Airnya sangta jernih. Menilik dari rempatnya, sendang ini sering digunakan untuk “mandi bersuci” dan kemudian dilanjutkan dengan meditasi di sebelah sendang yang telah di sediakan. Ada beberapa bekas perangkat untuk meditasi dan memuja “sesuatu” yang dianggap keramat oleh masing masing pengunjung.

Menurut keterangan penduduk sekitar, pengunjung biasanya  dari kalangan kejawen, menilik dari pakaian yang dikenakan dan ritual ritual yang dilakukan. Tidak begitu jelas dari paguyuban mana mereka berasal. 

Konon, Sendang Semanggi ini ditemukan oleh Rama Martapangrasa, seorang spiritualis Yogyakarta. Pada tahun 1940-an, beliau mendapat wisik untuk menyususri Gunung Sempu. Beliau kemudian menemukan sebuah mata air yang dirasa cocok untuk berendam dan mengasah kepakaan ilmu kebatinannya. Kemudian mata air itu Beliau beri nama dengan nama Sendang Titis, yang berarti kolam untuk berlatih menajamkan hati. Kemudian Beliau bangun sebuah pondok kecil sebagai padepokan, sekaligus tempat tinggal, dan meninggalkan rumah kediamannya di daerah Nataprajan, Yogyakarta.

Menurut  kalangan kebatinan Jawa, Sendang Titis yang kemudian berganti nama menjadi Sendang Semanggi, karena terletak disekitar sendang ini dulunya sangat banyak tumbuh pohon pohon semanggi, adalah sebuah sendang yang pernah mewarnai kehidupan kebatinan jawa Presiden Soeharto.

Pada tahun 1950 an, sebelum Soeharto menjabat sebagai presiden, oleh Rama Martapangrasadia dibaptis menjalani “ikatan persaudaraan mistikal” dan diberi nama spiritual sebagai Rama, sedangkan Ibu Tien sebagai Shinta. Sedangkan sahabat seperguruan Soeharto, Soedjono Hoemardhani  yang turut serta, sebagai Lesmana, sedangkan istrinya sebagai Kunti. 

Dari tempat itulah kemudian Soeharto mendapat beberapa “nasehat” sepiritual. Disamping juga terus menjalani ritual ritual di tempat tempat lainnya yang sejenis. Maka kemudian, Sendang Semanggi ini dikenal sebagai tempat untuk melakukan ritual tertentu yang bertujuan untuk mendapatkan jabatan. 

Percaya atau tidak, sumonggo…..


*) Majalah TEMPO, Edisi 4 - 10 Februari 2008

1 comment:

  1. Apakah ada info lbh lanjut mengenai bahwono toto sekarang ini?
    Agus 0818514249

    ReplyDelete