Saturday, March 31, 2012

BUTA LOCAYA VS KANJENG SUNAN

Pagi yang cukup cerah, namun tak secerah pikiranku. Sudah agak lama pikiranku berkutat pada hal hal yang mungkin buat orang lain tak ada gunanya, tak tak ada sangkut pautnya dengan apa yang terjadi pada negeri kita ini, terutama tentang kemasyarakatan, budaya, kepercayaan dan keyakinan.

Ada banyak hal yang mengganggu pikiran, terutama tentang bergesernay nilai nilai yang hidup dalam tata pergaulan baik antara manusia dengan Tuhan, maupun sesame manusia. Teringat aku akan sesorang yang mungkin dapat memberikan sekedar pencerahan, atau mungkin akan menjadika aku orang yang paling bodoh di dunia. Tanpa pikir panjang, ku raih telepon genggamku, dan ku telpon seseorang di seberang sana. Alhamdulillah, dengan serta merta, langsung tersambung, dan saat itu pula aku disuruh datang kerumahnya. 

Selang tak lebih dari 30 menit, aku telah sampai rumahnya. Rumah yang terletak di pusat kota lama Yogyakarta, dengan halaman yang terkesan “dibiarkan” dengan tumbuh tumbuhan yang cukup lebat, layaknya kebun kebun di tengah desa. Di sudut kebun Nampak kolam kecil dengan tumbuhan air yang cukup rapat pula, dan air kolam yang bening, membuat suasana walaupun di tengah kota, terasa lebih sejuk.
Seseorang berdiri di beranda, hanya dengan kaos sederhana dan sarung yang masih dikenakannya, dan kacamata yang lumayan tebal masih menempel di batang hidungnya. Dengan sapa yang hangat dan ramah, mempersilakan aku tuk duduk dan tanpa basa basi lagi, kami langsung ke inti permasalahan.

Semua berawal dari sebuah kitab kuno, milik bangsa ini, yang mungkin bagi banyak orang tak begitu menarik, namun bagi kami berdua, sangat menarik. Dan kami berdua, berpegang pada dua buah kitab kuno yang berbeda. Dari sinilah debat argumentasi kami mulai.

Ada sebuah rasa sesal tentang apa yang aku alami saat membaca tentang kitab yang berisi tentang Serat Sabdo Palon Naya Genggong/ Babad Tanah Jawa. Yang sangat menarik perhatianku adalah jejak perjalanan Sunan Bonang (yang kemudian mereprensentasikan sebuah aliran/keyakinan/kebudayaan tertentu) menuju Kediri, dimana dalam kisah perjalanan itu melewati rintangan, bukan rintangan menurutku, karena rintangan rintangan itu di buat sendiri, sehingga bertemulah Sunan Bonang dengan seorang raja dari dunia alam lain di tanah Jawa ini yang bernama Buta Locaya (yang kemudian mereprensentasikan sebuah aliran/keyakinan/kebudayaan Jawa)  .

Dalam perjalanan itu, Sunan Bonang memindahkan aliran Sungai Brantas, menyumaphi sebuah daerah hingga menjadi kering, susah dalam mendapatkan air, dan perjaka maupun perawan desa itu akan kesulitan dalam hal perjodohan, lantas mengahncur  patung patung peninggalan sejarah dari kerajaan kerajaan dahulu. Sebenarnya apa hak dari, walaupun seorang sunan pun, untuk menyumpah terhadap sesuatu, hingga hanya menimbulkan kesusahan semata, hanya karena perasaan “tidak terima” telah mendapat perlakuan yang dinilai tidak mengenakkan?

Hal inilah yang membuat Buta Locaya tidak terima dan murka. Namun walau sifatnya seorang buta (buto/raksasa), namun dia adalah raja, maka sikapnya pun lebih bersahaja dbandingkan dengan Sunan Bonang. Maka terjadilah adu argumentasi dengan Sunan Bonang. 

Sunan Bonang setelah mendengar nasehat dari Buta Locaya, menyadari kesalahannya karena telah menyebabkan kesengsaraan banyak orang, maka berkatalah “Buta Locaya, saya ini seorang Sunan, tak dapat menarik ucapanku yang sudah keluar. Besok jika telah genap limaratus tahun, maka sungai ini (Sungai Brantas) akan kembali seperti semula”

Nyata nampak didepanku, bahwa apa yang aku temukan dalam kitab itu menunjukkan betapa Buta Locaya, walaupun dia adalah seorang raksasa, namun dengan ilmu tanah Jawa yang dilakukan dan diamalkannya itu, mendapat pengakuan dari Sunan Bonang atas kebenarannya.

Beliau, tuan rumah, kemudian hanya manggut manggut, dan kemudian bercerita tentang kitab kuno yang beliau pegang, Gatholoco. Nama yang cukup familiar di telingaku walaupun aku sama sekali belum pernah mengetahuinya. Timbul penasaranku untuk mengetahui sekilas tentang kitab Gatholoco itu.

Dari beliau, sang tuan rumah, mengatakan bahwa inti dari Gatholoco adalah sama dengan Sabdo Palon, yang berisi tentang perdebatan antara seeorang yang merepresentasikan sebuah aliran/kepercayaan/kebudayaan tertentu, dengan seorang yang merepresentasikan sebuah kultur Jawa. Dan hasil akhir dari kesimpulannya adalah sama dengan Sabdo Palon, yaitu dimana keutamaan dari tanah Jawa adalah lebih utama.

“Namun bagaimanapun Mas, kitab kitab itu kan berasal dari bahasa tutur, yang kemudian ditulis. Nah permasalahannya adalah, tulisan tulisan yang kit abaca ini kan tergantung penulisnya dulu waktu menuliskannya bagaimana. Sebab, kitab kitab seperti ini kan membahas tentang sebuah peristiwa yang ada pada ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Jadi, benar salahnya, tak seorang pun yang tahu, hanya bias yakin dan tidak, dan itupun tak dapat dibuktikan.”

“Terus gimana Om?” tanyaku pendek

“Menurut saya, yang berpeganglah pada sebuah kitab yang bukan dibuat oleh manusia, tapi berasal dari Tuhan. Itu yang mutlak benar, dan dapat dipertanggungjawabkan….”

Hmmmm…….makin ruwet…….

No comments:

Post a Comment