Monday, March 12, 2012

DEWI SRI, SANG DEWI PADI

Wiwit. Sebuah acara di desa yang telah lama sekali tak kutemukan. Mendadak saat ku berjalan di sore hari, ku lihat beberapa orang tengah berjalan di pematang sawah, ibu ibu setengah baya, dengan menggendong sebuah bawaan di punggungnya, dengan diikat kain selendang di tubuhnya, dan beberapa anak kecil mengikuti di belakangnya. Serta merta ku berhenti dan mengikutinya. Sebuah kerinduan yang tak dapat ku cegah. Ku ambil sepotong daun pisang basah, untuk kejadikan “pincuk” untuk tempat nasi, sambel gepeng, ikan asin, telur rebus yang di potong kecil kecil, urap dan jajanan pasar lainnya. Lalu ku duduk berjajar dengan barisan anak anak kecil menanti jatah pembagian makanan dari si ibu ibu itu.  Hmmmmm……….. pikiranku melayang. 

Indonesia adalah Negara agraris, dimana pertanian dan perkebunan mempunyai peran yang sangat vital, untuk kemakmuran rakyat. Lahan pertanian dan perkebunan yang cukup luas, sangat menarik Negara lain untuk ikut serta menikmatinya. Baik dengan cara yang benar maupun yang illegal. pertanian yang sangat luas, dapat member cukup makan bagi rakyatnya, dulu. Patut berbangga pada waktu itu dimana Indonesia bahkan mampu untuk export beras ke negara negara tetangga. Sekarang????

Sebuah proses yang dinilai gagal, dimana dari negara agraris, menuju negara industry. Satu sisi berhasil, dan sisi lain, gagal. Lihatlah semua kemajuan yang tercipta dengan pembangunan fisik baik perumahan, industry, yang semuanya memakan lahan yang menurut “blue print” tata kota, seharusnya lahan itu tetap pada fungsinya sebagai lahan pertanian sebagai lumbung padi untuk mencukupi kebutuhan pangan rakyat. 

Dan pertanian subur pun kian lama semakin sempit, ditancap oleh cakar ayam dan beton beton raksasa. Sasrabahu mengamuk, menancapkan kuku kuku panjangnya menembus perut Sang Dewi Sri. Dimana mana, di hampir seluruh wilayah dari negeri kita. Dewi Sri menangis, Dewi sri meratap, denan air mata yang telah hampir kering, hanya bias berharap akan sebuah “sadar” dari “sasrabahu”  yang entah sampai kapan akan terus menancapkan kukunya, dan menunggu hadirnya sebuah sadar bahwa Dewi Sri telah teraniaya sepanjang masa.  Hampir tak guna pengorbanan yang dia lakukan untuk manusia, untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, pangan!

Sebuah perjalanan panjang yang penuh dengan pengabdian, dan mengesampingkan “ingin”nya sendiri. Saat Batara Guru, sang penguasa kerajaan dewa  memerintahkan segenap dewa dewi untuk untuk bekerja kera membangun istana baru, dan siapapun yang tidak patuh pada perintahnya, akan dihukum, potong kaki dan tangannya.

Mendengar kabar itu, Antaboga, kakek dari Antareja, dewa ular yang bermukim di dasar bumi, cemas dan sedih, karena belia tak memiliki tangan dan kaki untuk bekerja membantu membangun istana baru itu. Dalam sedihnya, beliau bersemedi dan memohon petunjuk pada dewa, dan hadirlah Batara Narada, saudara dari Batara Guru yang terkenal arif. Namun dalam hal seperti itu, Batara Narada tak dapat memberinya bantuan seperti yang diharapkan. 

Dalam sedihnya, meneteslah air mata dari Antaboga. Namun dari tetesam airmata itu, dari tiga tetesan air mata itu berubah menjadi tiga buah mustikan yang indah dan berkilauan. Antaboga dan Batara Narada kenuanya bingung, dan setelah berpikir sejenak, Batara narada menyaranakn agar tiga buah mustika itu dipersembahkan pada Batara Guru, sebagai bentuk permohonan agar beliau dapat mengerti keadannya sebagai seekor ular dengan kepala manusia.

Lalu di kulumnya tiga mustika itu dan berjalanlah Antaboga menemui Batara Guru. Dalam perjalanan, Antaboga bertemu dengan seeokar gagak, dan seperti wajarnya dua orang sahabat yang bertemu, sang gagak itu menyapanya. Namun karena Antaboga tengah mengulum tiga buah mustika, tak dapatlah dia menjawab sapaan dari sahabatnya itu. Hal ini menyebab terjadinya salah paham, dan serta merta, karena sapaanya tak di jawab oleh Anataboga, sanga gagak dengan garang menyerangnya. Terjadilah perkelahian sengit di antara dua orang sahabat yang sama sama sakti mandraguna.

Satu mustika pecah saat terjadi perkelahian. Antaboga berusaha sembunyi dan menunggu gagak pergi. Namun sang gagak menunggunya hingga antaboga muncul. Dan terjadilah perkelahian lagi, yang menyebabkan satu mustika lagi pecah. Kini hanya tinggal satu yang utuh. Dengan gesit melata, Anntaboga menyelinap di antara akar pohon dan bebatuan, hingga sampailah dia di hadapan Batara Guru, dan kemudian memyerahkan persembahan berupa satu mustika yang masih utuh.

Mendapatkan persembahan itu, Batara Guru senang sekali, apalagi setelah tahu bahwa mustika itu adalah telur ajaib, maka telur tersebut disuruhnya Anataboga untuk membawa pulang dan mengeraminya hingga menetas.

Tak berapa lama, telur tersebut menetas, dan keluarlah seorang bayi perempauan yang mungil dan cantik jelita. Melihat kecantikan wajah bayi tersebut, Batara Guru dan permaisuri tertarik untuk mengambilnya sebagai anak. Dan diberinya nama Nyi Pohaci Sanghyang Sri.

Tahun berganti tahu, dan tumbuhlah bayi mungil nan cantik itu sebagai wanita dewasa yang semakin jelas kecantikan dan keanggunannya. Bahkan kecantikannya tak dapat dikalahakn oleh para bidadari yangada di kahyangan tersebut. Dan Batara Guru pun jatuh hati, diam diam ingin mengambilnya sebagai permaisuri. Hal ini mengakhawatirkan para dewa, karena akan mengacam kehidupan, keselarasan dan kesucian kahyangan.
Berbagai cara dilakuakn untuk memisahkan keduanya. Maka, demi melindungi kehidupan kahyangan, dan kesucian Nyi Pocahi Sanghyang Sri, tak ada jalan lain kecuali harus di lenyapkan. Para dewa kemudian memberinya racun ke dalam minuman Sanghyang Sri, dan seketika, beliau mati keracunan. 

Sebelum meninggal, beliau sempat berpesan bahwa :
“Bila tiba saatnya aku meninggal dunia, dan bila kelak aku sudah disemayamkan, akan terdapat keanehan keanehan dari pusaraku, dan itu akan bermanfaat bagi manusia di bumi.”

Batara Guru dan Antaboga sangat sedih dengan kepergian Sanghyang Sri, demikian juga dengan dewa dewa yang lain. Bagaimanapun, apa yang telah mereka lakukan adalah salah. Untuk menjaga tubuhnya agar  tetap suci, diturunkanlah tubuh Sanghyang Sri ke bumi, dan dimakamkan di bumi. Namun karena kesucian Sangyahng Sri, di tempat dimana dia dimakamkan, sesuatu yang luar biasa terjadi. Dari tanah kuburannya itu, di bagian kepala, tumbuh pohon  kelapa. Dan dari bagian wajahnya, tumbuh rempah rempah dan sayur mayur. Sedangkan dari bagian rambut kepalanya, tumbuh berbagai tananman bunga yang cantik dan harurm baunya.

Dan dari bagian dadanya, tumbuh pohon buah buah yang ranum dan manis. Dari bagian lengan dan tangannya, tumbuh pohoj jati, cendana dan kayu yang bermanfaat lainnya, sedangkan dari alat kelaminnya, tumbuh pohon aren dan eanu yang bersadap nira manis. Dan dari bagian pahanya, tumbuhlah tanaman jenis bamboo, dan dari bagian kakinya, tumbuhlah umbi umbian dan ketela. Dan dari pusat pusaranya sendiri, tumbuhlah tanaman padi.

Suatu saat, sepasang kakek nenek yang tengah mencari kayu bakar di hutan, menemukan sebuah pusara yang diatasnya tumbuh tanaman tanaman yang belum pernah mereka ketahui sebelumnya. Muncullah niat kakek nenek itu untuk memelihara dan membersihkan tanah pusara itu. Lambat laun, tanaman yang ada di atasnya telah menunjukkan hasilnya yang sangat menggembirakan, dan dipetiklah buah dan sayur dan segala macam yang ada di situ, dan kemudian mengambil beberapa pohonnya untuk di tanam di halam rumah, di sawah dan ladangnya. 

Setiap kali hasil yang didapatkan sangat banyak dan bermanfaat bagi kakek nenek dan tetangga tetangganya. Maka setiap kali panen baik, mereka kemudian mengadakan semacam selamatan, sebagai wujud puji sukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, atas karunia yang diterimanya, hingga menamnah kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Maka kemudian,  sebuah pusara di tengah hutan, yang tak dikenal itupun, kemudian diyakini sebagai pusara Dewi Sri (sri, artinya kemakmuran, kesejahteraan), dewa wanita yang mebawa kemakmuran, yang  tak lain adalah Nyi Pocahi Sanghyang Sri.
 
Dan acara selamatan itulah, di daerah tertentu diadakan menjelang masa panen (tradisi wiwit) di Jawa Tengah, dan ada pula yang diadakan pesta besar di desa, seperti yang kita kenal dengan nama merti desa, cembengan, rasulan dan sebagianya.

“Bu, boleh nambah? Masih lapar…….”

No comments:

Post a Comment