Wednesday, March 14, 2012

BATARA KALA, BUAH KHILAF DEWA YANG HARUS DITANGGUNG MANUSIA (kayak Indonesia)


Tersebutlah Sanghyang Manikmaya yang tengah mengendarai Lembu Nandini bersama istrinya, dewi Umayi melintasi samudera luas, tiba tibak hasrat birahinya bergolak. Namun oleh Dewi Umayi, hal tersebut ditolak, karena tidak pantas sebagai sosok dewa yang berkelakuan seperti raksasa. Dan karena kata kata Dewi Umayi tersebut, seketika keluarlah taring dari mulut Sanghyang Manikmaya, seperti taring taring yang dimiliki para raksasa.

Walaupun telah mendapat hukuman karena akan bertindak tak senonoh tersebut, namun Sanghyang Manikmaya tak juga surut niatnya. Hasratnya terlanjur berkobar kobar dan tak dapat dibendung. Dan karena Dewi Umayi tetap menolak, sacara tak sadar, Sanghyang Manikmaya mengeluarkan “kama” dan jatuh di dalam samudera. “kama salah” atau kama tak sempiurna tersebut, saat menyentuh air samudera, seketika menjelma menjadi seorang bayi raksasa yang menggegerkan lautan dan arcapada.

Adalah Hyang Baruna, sang penjaga lautan, yang kemudian melaporkan keadaan tersebut kepada Sanghyang Manikmaya di Suralaya. Sanghyang Manikmaya pun kemudian memerintahkan segenap dewa dewa perang untuk menyelesaikan perkara itu, dengan perintah bahwa bila tak dapat diselesaikan, hendakanya bayi raksasa itu di lenyapkan saja.

Namun yang terjadi kemudian adalah sebaliknya. Para dewa ahli perang tersebut kalang kabut, lari tunggang langgang, tak dapat membendung kemarahan dan kesaktian sang bayi raksasa yang dalam waktu singkat tengah menginjak usia dewasa. Kesaktian dan kedigdayaan sang raksasa itu tak satupun yang dapat menandinginya. Bahkan saat para dewa itu melarikan diri ke kahyangan untuk menyelamatkan diri, sang raksasapun terbang dan mengejar mereka, hingga terjadi kekacauan yang luar biasa di negeri kahyangan, negeri para dewa.

Melihat hal tersebut, sanghyang manikmaya terpaksa turun tangan untuk menyelesaikan perkara itu. Namun raksasa adalah raksasa, yang mempunyai sifat kasar, beringas dan tak mau di atur, apalagi diperintah. Terjadilah pertempuran diantara keduanya. Sanghyang Manikmaya, sang penguasa Suralaya, melawan seorang raksasa muda yang berasal dari sebuah samudera.
Pertempuran tersebut membuat negeri kahyangan dan arcapada bergolak dan bergejolak. Akhirnya agar tak lebih parah akibat yang ditimbulkannya, sanghyang Manikmaya menerapakan “aji kemayan”, ajian yang hanya dimiliki oleh para dewa. Dan sang raksasa itupun tumbang, takluk oleh kesaktian Sanghyang Manikmaya.  Untuk meredam keganasan raksasa itu, maka kedua taringnya di potong, kemudian dijadikan keris. Taring kanan menjadi keris Kyai Kalanadah dan yang kiri menjadi Kyai Kaladita.

Dan raksasa itupun  kemudian diakuinya sebagai anak, dan diberi nama Batara Kala. Karena sifat aslinya adalah raksasa, maka rakusnya melebihi penghuni kahyangan lainnya. Hal ini juga meresahaklan sanghyang Manikmaya, hingga suatu saat diutuslah Hyang Jagadnata untuk member peraturan makanan apa saja yang diperbolehkan untuk dimakan oleh Batara Kala. Yaitu orang “sukerta” yaitu orang yang mempunyai kesalahan besar dalam hidupnya, dan orang “aradan”, yaitu orang yang lalai dalam kehidupannya.
Oleh Sangyang Manikmaya, dahi Batara Kala diberinya tulisan rajah kalacakra,yaitu “sastrabedhati” dimaan setiap orang yang dapat membaca rajah tersebut, terlepaslah dia dari mangsa Batara kala. Karena orangf tersebut adalah orang yang tak boleh dimangsa oleh Batar Kala.

Peraturan itu, membuat Batara Narada terusik. Hakl ini karena sangat banyak manusia di arcapada yang termasuk orang “sukerta” dan “aradan”. Bila aturan tersebut diterakan, amak akan sangta banyak manusia yang menjadi korban. Hal ini disampaikan pula ke Sanghyang Manikmaya. Menyadari kekeliruannya, Sangyang Mankimaya mengutus Batara Wisnu untuk turun ke arcapada dan menggagalkan usaha Batara Kala yang telah mendahului turun ke arcapada.

Batara Wisnu yang diutus, hal ini karena Batar Kala hanya dapat dikalahkan oleh Batara Wisnu ketika menjelma menjadi Balasrewu, seorang raksasa yang besarnya sebesar gunung anakan. Upaya menagkal siapa saja manusia di arcapada yang tak boleh dimangsa oleh Batar Kala adalah dengan memberikan penggolongan orang orang yang ada. Contoh golongan orang yang boleh dimangsa oleh Batara Kala adalah :
  1. Anak ontang anting : anak tunggal
  2. Kedhana-kedhini : dua saudara laki laki dan perempuan
  3. Dhampit : anak laki laki dan perempuan yang lahir beriringan dalam satu kelahiran.
  4. Julung prijud : anak yang lahir pada saat tenggelamnya matahari
  5. Julung wangi : anak yang lahir pada saat matahari terbit
  6. Condhang kasih ; anak kembar yang satu berkulit putih dan yang satu berkulit hitam
  7. Orang yang menjatuhkan “dandang” yaitu alat menanak nasi saat digunakan
  8. Orang yang mematahkan “pipisan” yaitu batu bulat panjang yang digunakan untuk menggerus daun ataupun obat.
  9. Mendirikan rumah tanpa “tutup keong”
  10. Menaruh beras dalam lesung
Adapun setiap manusia di arcapada, kadang melakukan kesalahan seperti diatas, ataupun mempunyai kejadian seperti di  atas. Dan hal itu adalah bukan sebuah kesengajaan, maka Batara Wisnu pun masih ada upaya lagi agar terlepas dari Batara Kala, yaitu bagi setiap manusia yang kebetulan berada dalam keadaan seperti tersebut diatas, hendaknya kemudian mengadakan semacam ritual selamatan, yang bertujuan agar terhindar dari semua keadaan yang termasuk ke dalam golongan orang “sukerta “ tersebut.

Dalam perkembangan di masyarakat, dulu, orang orang tua kita sering memberikan peringatan akan hal hal tertentu yang tak pantas, dengan dalih bahwa orang yang melakukan hal tersebut akan dimangsa oleh Batara Kala, misalnya, orang yang makan sambil berdiri, makan di depan pintu rumah, berani kepada orang tua, dan lain lain.

Hal itu semuanya sebenarnya untuk memperingatkan bahwa apa yang dilakukan tersebut tak pantas. Sebuah kearifan lokal yang cukup bijak. Namun, pada jaman sekarang, rasanya hal tersebut telah hilang. Apalagi generasi sekarang, dimana bahasa daerahnya sendiri saja kadang tak menguasi. Hmmmmm………. Apakah Batara Kala jaman sekarang telah berganti rupa????

Peristiwa Batara Kala tersebut, tak lepas dari kekhilafan dari Sanghyang Manikmaya, karena menuruti hasrat dan nafsu belaka, hingga kelakuannya tak beda dengan kelakuan raksasa. Yah, kekhilafan dewa (penguasa) yang akibatnya harus di tanggung oleh manusia di dunia (arcapada). Mirip dengan yang terjadi di negara kita. Penguasa yang berulah, rakyatlah yang resah dan harus menanggung akibatnya. Entah…….  

3 comments:

  1. Bukannya nafsu terhadap istri sendiri itu baik ???

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hey bodoh pahami lagi ya,disana Dewi Uma menolak sekarang gw tanya apakah suami harus memaksakan kehendaknya ?

      Delete
  2. Bukannya nafsu terhadap istri sendiri itu baik ???

    ReplyDelete