Wednesday, February 8, 2012

A LITTLE CHAT AT MENDUT


Sore sore jalan ke Candi Mendut, Magelang. Walau agak dipaksakan, karena rintik hujan yang makin rapat, namun semakin nikmat. Candi yang tidak begitu popular, hanya sekedar di ketahui, namun amat jarang di kunjungi. Hal ini karena lokasi yang tidak cukup menarik, penataan area parkir dan pedagang asongan yang terkesan cukup dipaksakan, hingga pengunjung hampir tak sempat menarik nafas karena sepanjang jalan yang relatif cukup sempit itu di penuhi oleh pedagang asongan.

Candi Mendut yang “berdiri sendiri”, tanpa fasilitas pendukung lainnya, membuat pengunjung hanya datang dan pergi, tidak cukup tertarik untu mengamati apalagi mempelajari. Padalah apabila mau mempelajari lebih dalam lagi, cukup banyak cerita menarik yang terpahat di dindingh dinding candi, yang tertuang ke dalam gambar yang saling berrangkaian.

Candi Mendut berada di dekat candi Borobudur, sekitar 2 km sebelum candi Borobudur. Candi Mendut yang dibangun sekitar tahun 800 masehi ini mempunyai hubungan erat dengan Candi Borobudur dan Pawon.
Beberapa pahatan yang cukup menarik adalah yang dipahatkan di candi ini memaparkan suatu cerita Tantri (binatang) dari kitab Tantri Kamandaka. Kitab ini bersumber pada Kitab Pancatantra. Kitab Kamandaka berisi tenteng dongeng hewan, yang diawali dengan cerita tentang seribu satu malam. 

Candi ini menggambarkan taman kijang Banares di India. Tempat dimana Buddha Gautama mencapai kebijaksanaannya dan pertama kali menyiarkan ajarannya. Tidak seperti layaknya candi-candi di Jawa Tengah yang kebanyakan menghadap ke timur.

Candi Mendut ini menghadap ke barat daya. Candi Mendut terkenal dengan patung Buddha Cakyamuni setinggi 3 meter yang diapit oleh dua Bodhisatwa, Avalokitesuara dan Vajraparani. Patung Buddha ini sedikit berbeda dengan patung Buddha lainnya dimana sang Buddha duduk bersila diatas kedua kakinya tanpa beralaskan bunga lotus. Hebatnya lagi setiap patung ini dibuat ditatah dari satu bongkah batu besar.

Tak heran bila banyak turis asing yang berdatangan ke candi ini, sedangkan turis domestic tidak begitu tertarik. Hal itu bisa di lihat di daftar kunjungan tamu, dimana persentase turis asing lebih banyka dari turis domestic.

Seperti yang terjadi tempo hari. Saat kami berkeliling mengamati relief candid an berusaha merangkai rangkai cerita di dalamnya, kami temui seorang turis asing, yang bila kami tulis dalam obrolan singkat, kurang lebih seperti ini :
K (kulo) : “Halo, apa kabar?”
L (londo) : “Kabar baik, bagaimana dengan anda?” (dalam bahasa Inggris tentunya)
K : “Dari mana?”
L : “Oh…. Saya dari Belanda”
K : “Sudah berapa lama di Indonesia?”
L : “Sudah 3 minggu, kami berkeliling dari Solo, Jogja, nanti sampai Bandung”
K : “Candi ini ditemukan oleh orang Belanda lho….”
K : “Oh ya? Hebat ya! Bangunan megah seperti ini ada di sini!”
K : “Begitulah. Ngomong ngomong,  enak ya bisa  jalan jalan di Indonesia. Banyak duit donk. Kerjaan anda apa di Belanda?”
L : “Oh, saya petugas pajak di negeri Belanda”
K : “Oh, pajak…….” (Otakku teringat suatu kasus yang tengah melanda negeri ini.)
L : “Yes. Pajak. Kami menarik uang dari rakyat, dan nanti kita kembalikan ke rakyat juga dalam bentuk pembangunan, kesehatan, industri, pendidikan dan lain lain. Intinya, kami menarik uang dari rakyat, tapi kami tidak menyimpannya, kami kembalikan lagi kepada rakyat.”
K : “Oooohh…..gitu ya? Kok beda sama yang terjadi disini ya?”
L : “Hmmmm…..memang, kasihan banget negeri Anda.”
K : “Hah…..tau juga ya????”
Dia tersenyum dan mohon diri untuk melanjutkan menuju Borobudur.

No comments:

Post a Comment