Sunday, June 3, 2018

Ekspedisi Menoreh. Gunung Gajah dan Gunung Ijo

Beberapa waktu lalu saat beberapa teman dari Geologi ingin mendadakan cek lokasi yang akan dijadikan tambang batu andesit, Rejo sebagai perwakilan dari media, harus turut serta. Tak ada bayangan sedikitpun tentang wilayah yang akan kami lakukan pemetaan. Hanya dari seorang perwakilan disana yang telah menguasai medan, mengatakan bahwa jalan akan naik turun, terjal, mengitari gunung. Mobil bisa, namun sangat tidak disarankan.

Kami berangkat pagi dari Yogyakarta, langsung menuju kantor perwakilan di Wates, Kulon Progo. Untuk menyingkat, setelah berkoordinasi sebentar, segera kami berangkat. Dari Wates menuju Waduk Sermo, melintasi jalan dipinggir waduk, terus naik menyusuri jalan aspal yang makin menyempit, hingga sampailah kami di titik pemberhentian awal, di desa Menguri, Hargotirto Kokap, Kulon Progo.

Setelah sedikit melepas lelah dan mendapat gambaran lebih jelas tentang medan yang akan ditempuh, serta rokok beberapa batang tentunya, kami segera mengatur team yang akan mengitari sebgaian kecil dari Pegunungan Menoreh tersebut.  Agar masing masing dari team mengatahui bagaimana medan serta materi materi yang akan dicek, diputuskan semua anggita team ikut. 1 mobil dengan 3 orang, 2 sepeda motor dengan 4 orang termasuk Rejo. Segera kami berangkat, langsung menuju titik lokasi. Jalanan sangat terjal dan mendaki, dengan batu batu yang tertata untuk pengerasan. Baru mencapai 2 tanjakan, mobil sudah tak mampu bergerak. Harus putar balik dan menunggu di Menguri bersama dengan 3 orang isinya. Tinggal Rejo, Mas Rikky, seorang geologist yang sangat berpengalaman dengan wilayah Kokap, Irsat, adik kelas dari Mas Rikky, dan Mas Parjo, perwakilan company lokal di Wates.

Setelah mobil berhasil turun dengan selamat, kami segera berbagi team. Rejo dengan Mas Rikky, dan Irsat dengan Mas Parjo. 2 sepeda motor dengan 4 orang. Kami segera berangkat. Rejo sebagai orang lokal Jogja, tentu saja memegang kendali motor. Lha motor Rejo je..... Mas Rikky Bonceng. Mas Parjo sebagai penunjuk arah dan staf ahli dari company bersama dengan Irsat.

Benar apa yang dikatakan Mas Parjo. Jalanan cukup berat, terjal, menanjak, menukik, dengan tikungan yang sangat sangat tajam. Jalanan hanya dengan cor blok 2 sisi saja. Itupun jika keadaan lembab ataupun hujan, licinnya minta ampun. Target kita adalah mengitari lahan seluas 100 hektar yang akan dilakukan pemetaan dan analisa. Beberapa kali kami berhenti karena ban motor selip, atau jalan yang terlalu menanjak ataupun menukik, sehingga pembonceng harus turun.

Di beberapa tikungan yang ditengarai sebagai batas wilayah, kami berhenti dan mengamati bebatuan yang nampak di pinggir jalan, sekaligus berdiskusi tentang teknis, perijinan, luasan dlsb. Setelah hampir selesai perjalanan, kami tiba di sebuah pasar tradisional, dibawah Gunung Ijo, dan Puncak Songgo Langit. Sebuah calon destinasi wisata yang akan dikembangkan oleh pemerintah setempat.

Setelah puas  rehat dan memandandi Gunung Ijo di pasar kecil itu, kami segera turun, menuju titik kumpul di Menguri. Jalanan seperti semula, kami ambil jalan memutari gunung, karena jalanan ini relatif lebih baik daripada saat kami berangkat. Tetap turun dan berkelok kelok. Disitulah Mas Rikky bercerita tentang adanya tambang emas, bebatuan dengan kualitas sangat baik berada di bawah kami. Yah.... disekitaran Gunung Ijo dan Gunung Gajah. Mas Rikky sempat menunjukkan tangannya ke arah Gunung Gajah padRejo agar Rejo mengerti. Terlintas dalam pikiranku adanya semacam garis imajiner segitiga antara Gunung Ijo dan Gunung Gajah, dan  satu titik lagi belum ketemu.

Tepat pada saat itu kami sampai di sebuah tikungan dari jalan menurun kemudian sontak menikung ke kanan dan langsung naik. Pada saat itu Rejo merasakan getaran yang cukup hebat menimpa tubuhku. Rejo merasakan telah menabrak sesuatu. Bukan sepeda motorku. Namun tubuhku. Getaran itu semakin lama semakin kuat seiring dengan menanjakknya jalan yang ku tempuh. Mas Parjo dan Irsat sudah agak jauh di depan. Rejo biarkan dan arasakan getaran itu samapi dimana dia akan hilang sendiri. Setelah beberapa kami memasuki tikungan tajam dan menurun lagi, disitu getaran sudah mulai hilang. Jalanan agak rata, sehingga tidak perlu konsentrasi penuh. Rejo membuka pembicaraan dengan Mas Rikky yang duduk di belakangku.

“Mas, krasa gak pas ditikungan tanjakan tadi?”
“Krasa apa Mas?” Mas Rikky balik bertanya.
“Ada semacam kekuatan menabrak kita tadi. Getaranny cukup kuat je Mas....” jawabku agak merinding. Mas Rikky tertawa sambil menepuk pundakku.
“Sampean bisa krasa to Mas?” dia kembali bertanya.
“Iya je....”jawabku pendek.
“Hahahaha..... bener Mas. Sama. Saya tadi juga kerasa. Agak besar ya.....?” jawab Mas Rikky sambil balik bertanya.
“Lumayan Mas..... ada apa sebenarnya Mas?” Rejo penasaran.
 “Sampeyan cocok jadi orang geologi Mas.... Orang orang geologi butuh orang orang seperti Sampeyan.” Katanya. Mas Rikky, sebagai seorang geologist yang dahulu mendapatkan tugas penelitiannya di lokasi itu mulai bercerita.

Ini sebuah pengalaman. Boleh dibilang mistis atau apa terserah. Namun menurut pengalaman yang dialami, tempat tempat yang memancarkan gelombang semacam yang kami alami tadi, itu merupakan tanda yang patut dijadikan dugaan awal adanya kandungan bebatuan yang berkwalitas baik dibawahnya. Dan menurut pengalaman juga, pernah disuatu tempat kemudian dilakukan pengecekan dan pengeboran, ternyata hal seperti itu adalah benar adanya.

Bahkan pernah suatu ketika, karena begitu kuatnya aura atau gelombang yang memancar, dia sempat pingsan saat “berbenturan” dengan gelombang tersebut.
“Woh....semaput?” tanya Rejo heran.
“Bener Mas. Saya sempat pingsan watu itu. Di tambang emas di daerah sana (dia menyebut sebuah tempat di luar Jawa)
“Di kawasan ini Mas Rejo, terkenal dengan bebatuan dengan kwalitas baik. Ya di seputaran dua gunung itu.”
“Ada makam atau petilasan atau candi atau peninggalan sejarah gak Mas di sekitar sini?” Rejo kembali bertanya.
“Katanya ada. Tapi saya belum tahu apa dan dimana letaknya.” Jawabnya.

Dugaan dugaanku semakin kuat menghubung-hubungkan satu kejadian dengan kejadian lainnya. Kemudian toba di sebuah jalanan menurun, banyak pohon dan teduh, dan di kiri jalan yang kami lalui terlihat sebuah bangunan kecil di bawah pohon.
“Mungkin itu Mas Rejo, peninggalannya....” kata Mas Rikky. Rejo tak sempat menoleh dan memperhatikan karena jalan didepanku menanjak dan menikung.

“suatu saat tak datengi!” batinku....











No comments:

Post a Comment