Sunday, June 24, 2018

Situs Sumur Purba, Memburu Sarang Nagasasra

Beberapa tahun yang lalu, di sebuah wilayah yang termasuk dalam wilayah Desa Cibuk, Godean, Sleman, ditemukan secara tidak sengaja oleh seseorang yang sedang menggali tanah sawah sebagai bahan baku pembuatan batu bata.
Sebuah lubang menganga seukuran sumur, dengan kedalaman yang tidak disebutkan, karena telah tergenang air yang cukup dangkal.  Yang menarik dari penemuan sumur ini adalah ditemukannya batu bata berukuran cukup besar dengan bentuk bentuk tertentu yang beraturan menyerupai bentuk bangunan melingkar, dengan 3 buah gerabah semacam tempayan yang berukuran kecil, sedang dan besar secara berurutan yang ditemukan dalam sumur tersebut.

Ditengarai bahwa bentuk batu batu bata, tempayan serta arca yang ditemukan di tempat itu, merupakan sebuah sumur atau sumber air pada jaman dahulu kala. Orang kemudian menyebutnya sebagai “sumur purba”. Tak banyak orang yang tau tentang lokasi dan cerita tentan sumur tersebut, yang dalam perkembangannya kemudian diyakini bahwa air sumur tersebut mampu sebagi sarana untuk penyembuhan penyakit.
Kini, lokasi tersebut, saat aku berusaha melacak karena kepenasaranku, sangat sulit. Harus menggunakan istilah istilah tertentu yang dapat menggiring ingatan sesorang, orang orang tua tentu saja, untuk dapat, dan mau menunjukkan tempat sumur purba itu. Setelah bertanya kesekian kalinya, didapat petunjuk bahwa lokasi sumur purba berada di tengah sawah. Jauh dari pemukiman, dan hanya dapat dilewati dengan berjalan kaki, melewati pematang sawah yang lumayan panjang.
Tiba di lokasi persawahan yang ditunjukkan, masih juga harus bertanya ke orang yang di sekitar tempat itu. Hmmmm.... dan mereka pun tak tahu. Tiba tiba ku temui seorang yang sudah lumayan tua, dengan sepeda kayuh menuju sawah dan berhenti di tempat ku bertanya. Entah angin apa yang bertiup, gayung bersambut. Beliau sangat mengetahui lokasi sumur purba, dan merupakan salah satu pelaku yang pernah mengambil air untuk pengobatan. Mendengar gambaran tentang lokasi sumur, nyaliku ciut. Namun keinginannku sangat besar. Dengan muka memelas, mohon ijin untuk ditemani. Di luar dugaanku. Dengan antusias beliau bersedia. Alhamdulillah......

Perjalanan menuju sumur purba, melewati pematang sawah, menuju sebuah sungai dengan pohon pohon mulai agak rapat. Kadang harus menunduk dan berputar. Perasaanku mulai tak enak. Benar! Seekor ular berukuran sedang tiba tiba terbang melewati kami berdua, dan menjatuhkan dirinya di sungai dan segera lari bersembunyi. Aku hanya diam dan terus mengikuti beliau. Jalan semakin sulit. Tiba di sungai dengan pohon bambu yang rapat, aku lega. Namun sejenak kemudian harus kecewa. Karena sumur dimaksud berada di seberang sungai. Ada sebatang pohon rebah untuk menyeberang. Namun saat kami injak, pohon itu patah. Harus berjalan lagi lebih jauh untuk menyeberang. Tibalah di jembatan kecil dari bambu, itupun harus dilewati satu persatu agar tidak roboh. Sesekali beliau menunjuk arah tempat sumur berada. Yang nampak olehku hanya semak belukar tinggi setengah badan, dan rapatnya pohon bambu berduri, serta beberapa pohon salak. Tak ada jejak kaki satu pun di sana.

Memasuki lokasi sumur, Beliau mengambil sebuah ranting pohon yang agak besar. Disibakkannya semak belukar, ranting ranting pohon dan batang batang bambu yang penuh dengan duri. Sekali lagi aku harus mengeluh. Setelah tak ada jalan lain, kami harus turun dari pematang dan melewati semak yang tergenang air di sana sini. Beberapa bagian tanah sangat gembur dan memunkinkan kami terjerembab. Rawa! Beberapa saat berjalan tibalah di sebuah gerumbulan semak. Beliau berhenti di depannya dan menunjukkan inilah sumur purba. Disibakannya gerumbulan rumput dan ilalaang yang menutupinya. Suasana hening. Terasa olehku beberapa pasang mata mengamati kami berdua. Dan itu bukanlah mata manusia. Aku bisa merasakan kehadiran mereka. Hanya salam keselamatan bagi semua yang dapat aku ucapkan pada mereka semua.
Setelah gerumbulan tersebut tersibak oleh tongkat kayu Beliau, nampak bibir sumur yang tidak terlalu besar, namun juga tidak kecil. Airnya dangkal, rata dengan tanah yang kami pijak.  Terlihat batu bata tersusun melingkar di dalamnya. Airnya jernih. Beberapa saat kami mengamati sumur purba itu, sambil mengyakinkan hati saya bahwa semuanya telah baik baik saja. Setelah kami yakin, kami segera kembali meninggalkan sumur tersebut, dengan gerumbulan yang telah terbuka, agar seseorang lain akan lebih mudah menemukannya. Sungguh lokasi yang sangat sulit, dan mencekam.
Kami berjalan menuju tempat kami bertemu tadi di jalanan tengah sawah. Tempat sepeda motorku aku taruh. Disitulah Beliau baru mau bercerita, setelah aku ceritakan apa yang aku alami dan rasakan selama pencarian dan di lokasi sumur purba tersebut.

Beliaupun kemudian menceritakan tentang khasiat air di sumur purba tersebut, riwayat penemuan, serta “siapa” yang yang turut menjaga sumur tersebut. Setidaknya Beliau menyebutkan dengan istilah “nagasasra” untuk menggambarkan “sesuatu” dan lain-lainnya yang bermukim dan menjaga tempat itu.

“Loh.....berarti?????” kata kataku tercekat.
“Leres Mas.......meniko wau omahe Nagasasra........” Beliau paham maksud pertanyaanku.
“...........” Aku terdiam. Tercenung. Dan bersyukur dalam hati bahwa kami tadi tak mengalami sesuatu apapun disana.
“Pokoke asal jelas tembunge, uluk salame, andum keslametane kanggo kabeh, Insya Allah raono opo opo Mas. Ulo ulo mabur mau rak yo ming manggakke, lan menehi lapuran yen iki ono pawongan sing teko kanti niat apik......” seperti itu kurang lebihnya Beliau mengakhiri ceritanya.

Semoga bermanfaat.



No comments:

Post a Comment